MAKLUMAT — Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (LHKP PWM) Jawa Timur bakal mengusulkan enam tokoh besar Persyarikatan yang dinilai telah berkontribusi besar bagi Bangsa Indonesia untuk diberikan gelar Pahlawan Nasional.
Mereka adalah Mohammad Roem, Djarnawi Hadikusumo, Siti Munjiyah, Buya Haji Sutan Mansur, KH AR Fachruddin, serta KH Ahmad Badawi.
Ketua LHKP PWM Jawa Timur, Muhammad Mirdasy, menilai penting untuk mendorong tokoh-tokoh tersebut untuk diberikan gelar Pahlawan Nasional, sebagai bentuk penghargaan negara atas peran serta jasa-jasa besar mereka dalam membangun bangsa.
“Ini penting. Banyak tokoh bangsa yang telah berjuang dan berkontribusi besar bagi tegaknya Indonesia, yang sampai saat ini ternyata belum dianggap secara resmi sebagai pahlawan, karena memang negara belum menetapkan secara resmi gelar Pahlawan Nasional kepada mereka,” ujarnya kepada Maklumat.id, Sabtu (28/2/2026).
Ia mencontohkan pada sosok Mohammad Roem dan Siti Munjiyah, yang menurutnya merupakan figur-figur luar biasa dan berkontribusi besar dalam pergerakan dan perjuangan Bangsa Indonesia.
“Misalnya Mohammad Roem, itu kan tokoh besar dan sangat berperan penting dalam diplomasi Indonesia di awal-awal kemerdekaan, tokoh sentral pemimpin delegasi Indonesia di Perundingan Roem-Royen, yang menjadi tonggak penting menuju pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda,” sorotnya.
“Atau misalnya Siti Munjiyah, seorang pejuang perempuan yang luar biasa, orator ulung dari Aisyiyah yang juga berperan penting dalam sejarah pergerakan. Beliau ini salah satu pimpinan Kongres Perempuan Indonesia pertama di Yogyakarta,” sambung Mirdasy.
Ia berharap, wacana yang digaungkannya tersebut mendapatkan sambutan positif dan dapat terealisasi untuk mengusulkan keenam tokoh penting Muhammadiyah itu sebagai Pahlawan Nasional.
“Semoga diberikan kelancaran. Dan harapannya nanti pemerintah juga memberikan respons positif dengan segera menetapkan nama-nama tersebut sebagai Pahlawan Nasional, karena mungkin cuma itu bentuk penghargaan yang bisa diberikan negara atas kiprah dan kontribusi besar mereka bagi bangsa dan negara,” harap Mirdasy.
1. Mohammad Roem
Mohammad Roem merupakan seorang diplomat ulung, yang dikenal sebagai tokoh kunci dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI pasca-Proklamasi. Ia adalah pemimpin delegasi Indonesia dalam Perundingan Roem–Royen tahun 1949, yang menjadi titik balik pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda. Perundingan tersebut membuka jalan menuju Konferensi Meja Bundar (KMB) dan pengembalian pemerintahan RI ke Yogyakarta.
Selama kiprahnya, Roem yang disebut-sebut sebagai “Diplomat Muhammaidyah” dikenal aktif di dalam pemerintahan, termasuk sebagai Menteri Luar Negeri Kabinet Natsir, Menteri Dalam Negeri Kabinet Wilopo, hingga Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II.
Roem juga merupakan salah satu tokoh penting Partai Masyumi, bahkan pernah menjadi Ketua Umum partai politik Islam tersebut pada tahun 1958-1960, alias dalam masa-masa sulit Masyumi jelang pembubaran oleh pemerintah.
Konsistensi dalam memperjuangkan demokrasi konstitusional, supremasi sipil, dan politik luar negeri bebas aktif, serta peran besar dan strategis dalam fase krusial penyelamatan kedaulatan negara, sehingga dirasa sangat layak untuk diberikan gelar Pahlawan Nasional.
2. Djarnawi Hadikusumo
Djarnawi merupakan tokoh yang cukup masyhur di dunia pendidikan dan kaderisasi umat pada masa transisi politik nasional.
Ia juga menjadi sosok yang dianggap memiliki peran dalam menjaga independensi gerakan Islam dari tarik-menarik politik praktis di masa Demokrasi Terpimpin.
Sebagai aktivis Muhammadiyah, Djarnawi mampu mendorong penguatan peran Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.
Tak cuma itu, Djarnawi juga merupakan pencipta lagu “Sang Surya” yang menjadi mars resmi Muhammadiyah. Ia juga merupakan Ketua Umum Partai Muslimin Indonesia (Parmusi).
Djarnawi Hadikusumo dinilai berjasa menjaga stabilitas moral dan sosial masyarakat melalui penguatan institusi pendidikan dan dakwah pada masa penuh ketegangan ideologis nasional, sehingga dinilai layak menyandang gelar Pahlawan Nasional.
3. Siti Munjiyah
Siti Munjiyah merupakah tokoh perempuan yang sangat inspiratif dalam kiprahnya. Ulama perempuan yang juga sosok pejuang dan orator ulung dari Aisyiyah—organisasi otonom Muhammadiyah di sektor perempuan.
Ia dikenal karena kontribusi besarnya dalam sejarah pergerakan perempuan di Indonesia, terutama dalam peran pentingnya dalam Kongres Perempuan Indonesia I tahun 1928 di Yogyakarta, di mana ia yang menjabat sebagai Wakil Ketua Panitia menyampaikan pidato bertajuk “Derajat Perempuan”.
Selain berjuang untuk hak-hak perempuan dalam pendidikan dan agama, ia juga aktif mengampanyekan pemberantasan perdagangan perempuan dan anak. Atas peran-peran krusialnya dalam memperjuangkan perempuan tersebut, Siti Munjiah dirasa sangat pantas untuk diberikan gelar Pahlawan Nasional.
4. KH. Abdul Rozak (AR) Fachruddin
Ia adalah Ketua Umum PP Muhammadiyah terlama, yang menjabat sejak 1968 hingga 1990, yang juga dinilai berperan penting dalam menjaga hubungan harmonis antara umat Islam dan negara pada masa Orde Baru.
KH. AR Fachruddin juga mendorong penguatan pendidikan, rumah sakit, dan amal usaha Muhammadiyah (AUM) secara nasional.
Meskipun tokoh besar Muhammadiyah, namun sosok KH. AR Fachruddin merupakan figur moral yang dihormati lintas golongan.
Kontribusinya dalam stabilitas sosial-keagamaan nasional dan memperluas pelayanan sosial berbasis masyarakat yang menopang pembangunan nasional, membuatnya dinilai layak diusulkan menjadi Pahlawan Nasional.
5. Buya Haji Ahmad Rasyid (AR) Sutan Mansur
Buya Haji AR Sutan Mansur merupakan Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 1953-1956 dan 1956-1959, yang dikenal sebagai “Bintang Muhammadiyah dari Barat”. Ia adalah sosok penting dalam dakwah, pendidikan, konsolidasi organisasi pasca-kemerdekaan, serta figur yang toleran dan memiliki kedalaman ilmu tasawuf.
Ia juga berperan penting dalam membangun jaringan pendidikan dan sosial Muhammadiyah di berbagai daerah.
Kontribusinya memperkuat basis masyarakat sipil dalam menopang NKRI, menegaskan perannya dalam memperkuat struktur sosial dan pendidikan umat pada masa awal konsolidasi negara, yang menjadi fondasi ketahanan sosial bangsa.
Atas kiprah dan kontribusinya tersebut, AR Sutan Mansur dinilai sosok yang tepat untuk diusulkan mendapatkan gelar Pahlawan Nasional.
6. KH. Ahmad Badawi
KH. Ahmad Badawi merupakan Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 1962-1965 dan 1965-1968. Ia dikenal sebagai ulama, ahli falak, serta “Sang Penyelamat” karena perannya dalam menjaga eksistensi Muhammadiyah di tengah tekanan politik pada masa Orde Lama.
KH. Ahmad Badawi adalah seorang ulama dan pendidik yang juga berperan dalam konsolidasi organisasi Islam pada masa awal kemerdekaan. Ia mendorong penguatan pendidikan modern berbasis nilai keislaman dan kebangsaan.
Kiprah besar dan jasa-jasa KH. Ahmad Badawi dalam penguatan pendidikan nasional berbasis masyarakat dan dalam menjaga nilai keislaman yang selaras dengan Pancasila serta NKRI, membuatnya dinilai layak untuk diusulkan sebagai penyandang gelar Pahlawan Nasional.














