MAKLUMAT — Industri furnitur global bernilai sekitar USD 201 miliar per tahun, menjadikannya salah satu sektor manufaktur kreatif terbesar dalam perdagangan dunia. Namun, kontribusi furnitur Indonesia masih relatif kecil dibanding negara lain yang telah mendominasi pasar.
Berdasarkan data perdagangan internasional, China memimpin ekspor furnitur dunia dengan nilai sekitar USD130 miliar, diikuti Vietnam sekitar USD21 miliar dan Jerman sekitar USD18 miliar. Sementara Indonesia mencatat ekspor furnitur dan kerajinan sebesar USD2,44 miliar pada 2023 dan hingga November 2024 mencapai USD2,37 miliar.
Meski demikian, pelaku industri melihat posisi tersebut sebagai peluang untuk mempercepat pertumbuhan ekspor nasional. Ketua Umum DPP Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan Indonesia memiliki keunggulan bahan baku dan tradisi kriya yang kuat.
“Indonesia memiliki kekayaan bahan baku tropis seperti kayu dan rotan, serta tradisi kerajinan yang sudah diwariskan selama berabad-abad. Ini menjadi modal penting untuk bersaing di pasar global,” kata Sobur di IFEX 2026, Ahad, (8/3/2026).
Menurut dia, furnitur Indonesia tidak hanya menawarkan fungsi, tetapi juga membawa identitas budaya, nilai estetika, dan kearifan lokal yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli internasional.
IFEX Jadi Jembatan Industri ke Pasar Global
Dalam upaya memperkuat posisi Indonesia di pasar furnitur dunia, Indonesia International Furniture Expo (IFEX) menjadi salah satu platform strategis bagi industri nasional.
Pameran yang diselenggarakan oleh HIMKI bersama Dyandra Promosindo tersebut mempertemukan produsen furnitur Indonesia dengan buyers dari berbagai negara. Penyelenggaraan IFEX pada 5–8 Maret 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City menjadi tonggak penting dalam perkembangan pameran tersebut.
Dengan luasan sekitar 85.000 meter persegi, IFEX kini menjadi salah satu pameran furnitur terbesar di Asia Tenggara sekaligus menempati venue pameran terbesar di Indonesia.
Wakil Ketua Bidang Pemasaran DPP HIMKI Djudjuk Aryati menambahkan, pameran ini dirancang untuk memperluas akses pasar bagi produsen nasional. “IFEX menjadi platform yang mempertemukan produsen furnitur Indonesia dengan buyers internasional. Ini membuka peluang transaksi bisnis sekaligus memperluas jaringan perdagangan global,” ujar Djudjuk.
Ia menambahkan, strategi menghadirkan pembeli dunia ke Indonesia melalui pameran internasional terbukti efektif dalam mempercepat pertumbuhan ekspor industri furnitur.
Momentum Naik Kelas Industri Furnitur
Penguatan platform perdagangan seperti IFEX dinilai dapat membantu Indonesia meningkatkan kontribusinya dalam pasar furnitur global.
Beberapa negara, seperti Vietnam, berhasil meningkatkan ekspor furniturnya secara signifikan melalui kombinasi penguatan industri domestik dan promosi perdagangan internasional.
Indonesia dinilai memiliki potensi serupa. Selain basis industri yang luas, furnitur nasional juga didukung kekayaan desain yang berakar pada budaya serta meningkatnya tren global terhadap produk berkelanjutan.
Melalui platform seperti IFEX, produsen dari berbagai daerah di Indonesia memiliki kesempatan bertemu langsung dengan buyers internasional, membuka kontrak dagang baru, serta memperluas pasar ekspor.
Industri furnitur Indonesia pun dinilai memiliki peluang untuk naik kelas dan memperkuat posisinya dalam perdagangan global.
Dengan dukungan kolaborasi antara industri, pemerintah, dan pelaku perdagangan internasional, Indonesia berpotensi meningkatkan kontribusinya di pasar furnitur dunia yang terus berkembang.
Bagi pelaku industri, IFEX bukan sekadar pameran tahunan. Platform ini dipandang sebagai momentum strategis bagi Indonesia untuk menegaskan diri sebagai salah satu kekuatan baru dalam industri furnitur global. ***













