Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan: Menjaga Alam Bagian dari Tanggung Jawab Keimanan

Kajian Ramadan PDM Bojonegoro bertajuk "Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan" pada Ahad (8/3/2026). (Foto: Dok. Panitia)

MAKLUMAT — Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PP Muhammadiyah, Muchamad Arifin, menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan hidup bukanlah hal baru dalam gerakan Persyarikatan Muhammadiyah. Sebab, menjaga alam adalah bagian dari tanggung jawab keimanan.

Hal itu ia tegaskan ketika menjadi salah satu narasumber dalam Kajian Ramadan 1447 H bertajuk “Ekoteologi dan Tugas Kekhalifahan” yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bojonegoro, Ahad (8/3/2026).

Arifin mengatakan bahwa Muhammadiyah sejak awal berdiri telah mempraktikkan dakwah yang tidak hanya berorientasi pada penguatan akidah dan ibadah, tetapi juga menekankan tanggung jawab manusia sebagai khalifah untuk menjaga bumi.

Konsep ekoteologi dalam pandangan Muhammadiyah, kata dia, tidak berhenti pada wacana akademik seperti seminar, lokakarya, atau forum diskusi semata. Menurutnya, nilai-nilai tersebut telah menjadi bagian dari gerakan dakwah Muhammadiyah yang nyata di tengah masyarakat.

“Bagi Muhammadiyah, menjaga alam dan lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab keimanan. Dakwah tidak hanya berbicara tentang akidah dan ibadah, tetapi juga bagaimana manusia menghadirkan kemaslahatan bagi alam dan kehidupan sosial,” ujarnya.

Lebih jauh, Arifin menjelaskan bahwa dakwah lingkungan yang dilakukan Muhammadiyah tidak hanya terbatas pada persoalan teknis seperti pengelolaan sampah atau kebersihan lingkungan.

Baca Juga  Jeda Ramadan: Makan Sahur

Dalam perspektif dakwah komunitas yang dikembangkan LDK Muhammadiyah, istilah “sampah” justru dimaknai lebih luas, yakni merujuk pada kelompok-kelompok masyarakat yang selama ini sering dipinggirkan.

Melalui pendekatan dakwah yang inklusif dan humanis, Muhammadiyah berupaya merangkul berbagai komunitas marginal seperti anak jalanan, komunitas punk, mantan narapidana terorisme, hingga mantan pekerja seks komersial.

Kelompok-kelompok yang sebelumnya kerap dianggap “terbuang” oleh masyarakat justru dipandang sebagai bagian dari umat yang harus dirangkul, diberdayakan, dan dibimbing menuju kehidupan yang lebih bermartabat. “Bagi Muhammadiyah, tidak ada manusia yang pantas dianggap sampah. Semua memiliki peluang untuk berubah dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Dakwah harus hadir membawa harapan,” tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Arifin juga menyampaikan pengalaman Muhammadiyah dalam menjangkau masyarakat di wilayah-wilayah terpencil, termasuk daerah pedalaman dan kawasan 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) di berbagai wilayah Indonesia.

Melalui berbagai program dakwah komunitas, Muhammadiyah terus berupaya menghadirkan layanan pendidikan, pembinaan keagamaan, serta pemberdayaan sosial bagi masyarakat yang selama ini sulit dijangkau.

Muhammadiyah, lanjut Arifin, terus menegaskan komitmen sebagai gerakan dakwah yang tidak hanya membangun kesalehan individu, tetapi juga menghadirkan kepedulian sosial dan tanggung jawab ekologis bagi keberlangsungan kehidupan bersama.

Baca Juga  Industri Halal Indonesia, Peluang Besar di Tengah Persaingan Global

Pada sisi yang lain, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Ir Tamhid Masyhudi, menyebut bahwa manusia memiliki kecenderungan merusak lingkungan melalui berbagai aktivitas yang justru merugikan alam. “Ini menjadi fenomena yang menyedihkan di sekitar kita,” sorotnya.

Ia menegaskan bahwa hubungan manusia dengan alam bukan sekadar pemanfaatan, tetapi juga amanah dan tanggung jawab yang harus dijaga. “Menjaga lingkungan ini harus terus-menerus dilakukan,” pesannya.

Tamhid juga mengajak seluruh peserta kajian untuk bersama-sama menjaga lingkungan demi kehidupan yang lebih asri di masa mendatang. Menurutnya, Muhammadiyah harus terus berupaya memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat luas.