MAKLUMAT – Arus mudik Idulfitri 1447 hijriah beririsan dengan rangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1948 yang dimulai Kamis, 19 Maret 2026 pukul 05.59 – Jumat, 20 Maret 2026 pukul 06.00 (WITA). Kondisi ini diperkirakan memicu penumpukan kendaraan yang akan menuju ke Pulau Bali, atau sebaliknya menyeberang ke Pulau Jawa.“Nyepi yang jatuh pada 19 Maret 2026 bertepatan dengan puncak arus mudik. Pada momentum tersebut pemudik tidak dapat menuju ataupun meninggalkan Pulau Bali,” ujar Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dalam keterangan resmi dikutip Jumat (13/3/2026).
Pemprov Jatim bersama Polda Jatim telah menggelar rapat koordinasi (Rakor) lintas sektoral untuk mengantisipasi arus mudik lebaran bertajuk Operasi Ketupat Semeru 2026 di Rupatama Polda Jatim, Surabaya, Senin (9/3) lalu. Khofifah meminta seluruh pihak mengantisipasi potensi kemacetan yang dapat terjadi di sekitar Pelabuhan Ketapang Banyuwangi. Selain faktor hari raya Nyepi, Jawa Timur juga menjadi salah satu tujuan utama pemudik pada Lebaran tahun ini.
Berdasarkan proyeksi pemerintah, sekitar 24,90 juta orang atau sekitar 17,3 persen dari total pemudik nasional akan masuk ke wilayah Jawa Timur. Puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada 17 hingga 18 Maret 2026, sementara arus balik diprediksi berlangsung pada 27 Maret 2026.
Khofifah mengatakan, tingginya mobilitas masyarakat pada masa Lebaran membuat koordinasi lintas sektor menjadi sangat penting. Melalui Operasi Ketupat Semeru 2026, pemerintah bersama TNI, Polri, serta berbagai pemangku kepentingan berupaya memastikan keamanan dan kelancaran perjalanan masyarakat. “Rapat koordinasi ini menjadi forum penting untuk menyatukan persepsi dan langkah seluruh instansi, mengidentifikasi potensi kerawanan selama arus mudik dan arus balik, serta memastikan kesiapan personel dan sarana prasarana,” katanya.
Pemprov Jawa Timur juga telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif, mulai dari kesiapan armada transportasi, pengamanan jalur mudik, hingga layanan kesehatan bagi masyarakat. Untuk mendukung angkutan Lebaran 2026, Jawa Timur menyiapkan 6.637 armada bus, 148 trainset kereta api, 302 pesawat udara, 55 kapal laut, serta 71 kapal penyeberangan dengan total 241 trip. Selain itu, Posko Angkutan Lebaran juga disiapkan untuk memantau arus mudik dan arus balik secara intensif, sehingga berbagai potensi gangguan dapat diantisipasi sejak dini.
Di sektor kesehatan, Pemprov Jatim menyiapkan 343 dokter, 5.172 perawat, 44 tenaga kesehatan tradisional, serta 2.852 pengemudi ambulans. Pemetaan rumah sakit rujukan juga dilakukan untuk mempercepat penanganan keadaan darurat selama periode mudik. Khofifah juga meminta sejumlah lembaga dan instansi terkait turut memberikan perhatian khusus selama arus mudik, di antaranya Pertamina, BMKG, PVMBG, serta Jasa Raharja.
Pertamina diminta memastikan ketersediaan BBM dan LPG 3 kilogram selama periode Lebaran, sementara PVMBG diminta memantau potensi aktivitas Gunung Semeru yang dapat mempengaruhi perjalanan masyarakat. “BMKG juga diharapkan melakukan pemetaan cuaca dan potensi operasi modifikasi cuaca menjelang Idulfitri agar perjalanan masyarakat tetap aman,” ujarnya.
Khofifah berharap seluruh pihak dapat mempersiapkan langkah-langkah strategis secara matang agar pelaksanaan Operasi Ketupat Semeru 2026 berjalan optimal. “Saya berharap seluruh jajaran dapat memberikan pelayanan yang humanis, responsif, dan profesional sehingga masyarakat benar-benar merasakan kehadiran negara selama perayaan Idulfitri,” pungkasnya.
Pada bagian terpisah, Kapolda Jatim, Irjen Pol Nanang Avianto mengatakan, bahwa operasi Ketupat Semeru bukan sekedar mengatur kelancaran lalu lintas arus mudik, melainkan sebuah gelar pelayanan publik,spiritual,sosial dan pemeliharaan kamtibmas yang sifatnya fundamental di tengah masyarakat. Oleh karena itu, operasi Ketupat Semeru 2026 yang akan digelar selama 13 hari (13 – 26 Maret 2026) oleh Polda Jawa Timur beserta satuan wilayah jajarannya tersebut, juga melibatkan TNI dan Instansi terkait serta Mitra Kamtibmas.
“Kita ingin memastikan masyarakat benar-benar merasa aman dan nyaman dalam menjalankan ibadah Ramadan, merayakan Idulfitri, hingga melakukan kegiatan silaturahmi bersama keluarga,” tutur Nanang usai memimpin Apel Gelar Pasukan di Mapolda Jatim, Kamis (12/3/2026) . Untuk mendukung operasi Ketupat Semeru 2026 ini, Polda Jatim melibatkan 16.326 personel yang terdiri dari 1.190 personel Polda Jatim, 8.419 personel Polres/tabes/ta jajaran,1.313 personel TNI dan 5.404 personel dari instansi terkait beserta Mitra Kamtibmas (Pam Swakarsa).
Kapolda Jatim juga menegaskan bahwa sejumlah potensi kerawanan telah dipetakan, mulai dari ancaman terorisme, aksi sweeping oleh oknum ormas, kenaikan harga dan kelangkaan bahan pokok maupun BBM. Selain itu gangguan kamtibmas seperti balap liar, penyalahgunaan narkoba, penggunaan petasan, kecelakaan transportasi, serta potensi bencana hidrometeorologi juga menjadi atensi dalam Operasi Ketupat Semeru 2026. “Semua potensi kerawanan tersebut sudah kami petakan dan antisipasi melalui penggelaran pasukan yang kita laksanakan hari ini,” jelasnya.***














