MAKLUMAT — Kinerja ketepatan waktu (on time performance/OTP) angkutan umum pada hari H Lebaran 2026 menunjukkan jurang layanan antar moda yang masih mencolok. Data Kementerian Perhubungan dikutip Senin (23/3/2026) mencatat OTP angkutan perkeretaapian antarkota mencapai 97,70 persen, sementara kereta regional bahkan menyentuh 99,40 persen. Angka ini menjadikan kereta api sebagai moda paling tepat waktu selama periode Lebaran.
Di sektor lain, angkutan laut mencatat OTP 95,92 persen dan penyeberangan 93,20 persen. Moda udara domestik berada di angka 88,09 persen, sedangkan penerbangan internasional turun ke 69,31 persen. Sebaliknya, angkutan darat berupa bus mencatat OTP terendah, yakni hanya 64,97 persen. Artinya, lebih dari sepertiga perjalanan bus tidak berjalan sesuai jadwal.
Ketimpangan Layanan Antar Moda
Perbedaan angka OTP ini mencerminkan ketimpangan kualitas layanan transportasi yang masih terjadi. Penumpang kereta api menikmati perjalanan yang relatif pasti dan terjadwal, sementara pengguna bus menghadapi risiko keterlambatan yang jauh lebih tinggi.
Kondisi ini menegaskan bahwa investasi dan pengelolaan transportasi belum merata. Moda berbasis rel menunjukkan performa optimal, sementara transportasi darat masih menghadapi kendala operasional di lapangan.
Pada saat yang sama, arus mudik Lebaran 2026 mencatat lonjakan signifikan. Pergerakan penumpang angkutan umum pada hari H mencapai 873.916 orang. Secara kumulatif sejak H-8 hingga hari H, jumlahnya menembus 10,8 juta orang, naik 8,58 persen dibanding tahun lalu.
Distribusi penumpang memperlihatkan kereta api menjadi moda utama dengan 364.649 orang, disusul angkutan udara 206.785 orang, penyeberangan 177.564 orang, dan bus 103.777 orang. Dominasi ini sekaligus menegaskan kesenjangan kualitas layanan antar moda yang belum teratasi.
Dampak bagi Pemudik
Di sisi lain, kendaraan pribadi masih mendominasi pergerakan. Pada hari H Lebaran, kendaraan keluar dari gerbang Tol Jakarta tercatat 193.237 unit, sementara di jalur arteri jumlahnya mencapai 601.275 unit. Kondisi ini menunjukkan transportasi umum belum sepenuhnya menjadi pilihan utama masyarakat. Bagi pemudik, ketepatan waktu bukan sekadar angka. Keterlambatan berdampak langsung pada kenyamanan, biaya perjalanan, hingga risiko keselamatan.
Lonjakan mobilitas Lebaran tahun ini menjadi penanda bahwa peningkatan jumlah penumpang belum sepenuhnya diimbangi pemerataan kualitas layanan. Ketika sebagian pemudik menikmati perjalanan yang tepat waktu, sebagian lainnya masih harus berhadapan dengan ketidakpastian di jalan.***












