Krisis Karakter Anak, Keluarga Diminta Kembali Ambil Peran

Wakil Ketua PWM Jatim, Dr Muhammad Sholihin Fanani

MAKLUMAT — Meningkatnya kasus anak dan remaja yang berani melawan bahkan menyakiti orang tua menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan. Fenomena ini kian memprihatinkan seiring maraknya keterlibatan anak dalam pinjaman online ilegal hingga judi daring yang kini telah merambah usia sekolah dasar.

Wakil Ketua PWM Jatim, Dr Muhammad Sholihin Fanani menilai kondisi tersebut sebagai cerminan melemahnya fondasi pendidikan, terutama di lingkungan keluarga.

“Pendidikan hari ini bisa jadi cenderung hanya mengejar capaian formal, bukan membentuk akhlak dan kepribadian,” ujar Abah Shol, sapaan akrabnya, saat ditemui wartawan Maklumat.id di Kantor PWM Jawa Timur, Rabu (9/4/2026).

Ia kemudian menjelaskan bahwa dalam perspektif pendidikan Islam yang menjadi landasan gerakan Muhammadiyah, terdapat empat pilar utama yang harus menjadi dasar pembentukan karakter.

Keempatnya yakni adalah tilawah, tazkiyatun nafs, taklim, dan tauhid. Keempatnya tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga kesadaran moral dan spiritual.

Menurutnya, keluarga memegang peran paling dominan dalam membentuk karakter anak, dengan kontribusi mencapai 60 persen. Namun, realitas menunjukkan masih banyak orang tua yang menyerahkan tanggung jawab pendidikan sepenuhnya kepada sekolah.

“Padahal keluarga adalah madrasah pertama dan utama. Jika ini lemah, maka pendidikan lainnya ikut terdampak,” tegasnya.

Baca Juga  Dorong Diaspora Kader, LHKP PP Muhammadiyah Gelar Regional Meeting se-Jawa di Malang

Ia juga menyoroti fase remaja sebagai masa paling rentan, di mana rasa ingin tahu yang tinggi —terutama terhadap hal negatif— dapat mendorong perilaku menyimpang jika tidak diarahkan dengan baik.

Mengacu pada pemikiran Imam Al-Ghazali, Abah Shol menekankan pentingnya pola asuh yang tidak permisif, tidak berlebihan dalam memenuhi keinginan anak, serta membiasakan hidup sederhana dan bertanggung jawab.

Di akhir, ia mengingatkan generasi muda untuk mempersiapkan diri secara matang sebelum membangun keluarga, dengan fokus pada pendidikan, karakter, dan masa depan.

“Perbaiki diri dan siapkan masa depan. Dari situlah akan lahir generasi yang kuat dan berkemajuan,” pungkasnya.