MAKLUMAT — Tim pengabdian dari Program Studi (Prodi) Agribisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memperkenalkan kearifan lokal pertanian Indonesia kepada komunitas di Prefektur Gifu, Jepang.
Langkah tersebut menegaskan komitmen UMY untuk terus memperkuat kampanye pertanian berkelanjutan di kancah internasional. Melalui workshop bertajuk “Enhancing Sustainable Agriculture Literacy through Indonesian Local Wisdom” yang menggandeng Gifu Gaikokujin Support Center, mereka membagikan tentang sistem mina padi dan pertanian terpadu. Kegiatan tersebut menjadi upaya nyata dalam mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara ramah lingkungan.
Materi disampaikan secara interaktif melalui sesi presentasi dan diskusi mendalam guna mendorong partisipasi aktif peserta yang menetap di Jepang.
Ketua tim pengabdian, Prof Dr Triyono SP MP, menegaskan bahwa pendekatan pertanian di Indonesia bersifat holistik. Selain meningkatkan produksi, metode ini juga sangat memperhatikan keseimbangan lingkungan.
“Pendekatan berbasis kearifan lokal mampu menjadi solusi adaptif terhadap tantangan perubahan iklim. Selain itu, metode ini memperkuat ketahanan pangan masyarakat,” ujar Triyono, dilansir laman resmi UMY, Selasa (14/4/2026).
Di antara berbagai materi yang dipaparkan, sistem mina padi menjadi topik yang paling menarik perhatian peserta. Sistem ini mengintegrasikan budidaya padi dan ikan dalam satu lahan yang sama.
Metode tersebut dinilai efisien karena mampu mengurangi penggunaan pestisida kimia. Selain itu, petani juga memperoleh pendapatan tambahan dari hasil panen ikan. Para peserta mengakui bahwa praktik integrasi seperti ini masih jarang ditemukan di Jepang.
Diskusi berkembang pada peluang adaptasi konsep pertanian terpadu Indonesia untuk diterapkan di Jepang, khususnya dalam skala komunitas. Peserta menilai pendekatan tersebut dapat menjadi alternatif inovatif untuk mendukung keberlanjutan sektor pertanian di negara tersebut.
Triyono berharap kegiatan ini menjadi langkah awal kolaborasi yang lebih luas antara Indonesia dan Jepang. Menurutnya, pertukaran pengetahuan lintas negara sangat penting untuk menghadapi tantangan global, termasuk perubahan iklim.












