Bukan Soal Posting Mesra, Ini Makna Relasi Sehat Sebenarnya

relasi sehat

MAKLUMAT — Fenomena hubungan tidak sehat atau toxic relationship di kalangan generasi muda kian sering terlihat. Tak sedikit kasus berujung pada kekerasan, cedera, bahkan kematian. Kondisi ini menjadi alarm serius, terutama bagi Generasi Z yang tumbuh di era serba digital.

Psikiater dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, dari RS Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor menilai, minimnya panduan dan role model membuat banyak anak muda kehilangan arah dalam membangun relasi yang sehat.

Generasi Z terbiasa menjalin kedekatan lewat pesan singkat, media sosial, hingga notifikasi yang serba instan. Namun, kemudahan itu tak selalu diiringi dengan kedalaman hubungan emosional. Tekanan sosial, fenomena fear of missing out (FOMO), serta budaya validasi di dunia maya kerap membuat mereka sulit membedakan hubungan sehat dan yang justru melelahkan secara emosional.

“Relasi yang sehat bukan soal seberapa sering bersama, tetapi apakah seseorang merasa aman, dihargai, dan bisa bertumbuh,” ujar dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, dilansir dari laman Keslan Kemenkes dilihat pada Sabtu (18/4/2026).

Batasan Jadi Kunci Relasi Sehat

Dalam hubungan yang sehat, setiap individu memiliki batasan yang jelas. Tidak ada paksaan membuka privasi seperti password, tidak ada tuntutan untuk selalu online, dan tidak ada manipulasi emosional.

Baca Juga  Jangan Anggap Bercanda, Pelecehan Verbal Bisa Hancurkan Mental

Sebaliknya, batasan justru menjadi tanda kedewasaan dalam mencintai. Hubungan juga memungkinkan seseorang menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi atau ditinggalkan.

Konflik pun bukan hal yang harus dihindari. Yang penting adalah bagaimana cara menyelesaikannya. Dalam relasi sehat, konflik dibicarakan tanpa ancaman, tanpa kekerasan verbal maupun fisik.

Selain itu, hubungan yang sehat tidak ditopang oleh ketergantungan emosional berlebihan. Cinta bukan soal tidak bisa hidup tanpa pasangan, melainkan pilihan sadar untuk bersama karena membawa kebaikan.

Tantangan Khas Gen Z

Ada sejumlah tantangan unik yang dihadapi Gen Z dalam menjalin hubungan. Mulai dari dorongan untuk menampilkan hubungan “sempurna” di media sosial, hingga overthinking akibat komunikasi digital seperti chat yang tidak segera dibalas.

Ketakutan ditinggalkan juga sering membuat seseorang rela mengorbankan nilai diri. Ditambah lagi, paparan konten hubungan penuh drama di internet kerap disalahartikan sebagai bentuk cinta.

Padahal, menurut Lahargo, kemampuan mengekspresikan emosi saja tidak cukup. Anak muda juga perlu keterampilan mengelola emosi agar hubungan tetap sehat.

Jangan Abaikan Tanda Bahaya

Ada sejumlah tanda bahaya yang kerap diabaikan dalam hubungan, seperti perilaku merendahkan, gaslighting, hingga upaya mengisolasi pasangan dari lingkungan sosialnya.

Baca Juga  Alarm Generasi Cemas: Pede di Medsos, Rapuh Saat Ketemu Orang

Jika dibiarkan, kondisi ini bisa berkembang menjadi kekerasan yang lebih serius.

Untuk itu, anak muda disarankan lebih mengenal diri sebelum menjalin hubungan. Memahami kebutuhan emosional, nilai hidup, serta batasan pribadi menjadi langkah awal membangun relasi yang sehat.

Mengelola emosi juga penting. Saat marah, misalnya, disarankan untuk menunda respons, memberi jeda, dan tidak langsung bereaksi impulsif.

Peran Orang Tua Tak Kalah Penting

Di sisi lain, keluarga memiliki peran besar dalam membentuk pola relasi anak. Rumah menjadi tempat pertama anak belajar tentang cinta, komunikasi, dan penyelesaian konflik.

Orang tua diharapkan bisa menjadi contoh hubungan yang sehat, membangun komunikasi terbuka, serta mengajarkan regulasi emosi sejak dini. Validasi perasaan anak juga penting untuk membangun ketahanan psikologis.

Anak dengan harga diri yang baik cenderung tidak mudah terjebak dalam hubungan abusif dan tidak mencari cinta untuk menutup kekosongan.

Pada akhirnya, relasi sehat bukan soal seberapa sering tampil bersama di media sosial atau seberapa dramatis kisahnya. Lebih dari itu, hubungan yang baik adalah tentang rasa aman, saling menghargai, bertumbuh bersama, dan tetap menjadi diri sendiri.

Pesannya jelas: keterampilan menjalin relasi sama pentingnya dengan kemampuan akademik. Tanpa itu, generasi muda berisiko tersesat dalam hubungan yang justru merugikan masa depan mereka.***

Baca Juga  Jangan Anggap Bercanda, Pelecehan Verbal Bisa Hancurkan Mental