MAKLUMAT — Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menggelar kegiatan Pelatihan Psychological First Aid (PFA) bagi anggota Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT), Kamis (23/4/2026).
Kegiatan yang dipusatkan di Kampus 3 Umsida itu diikuti oleh mahasiswa dan tenaga kependidikan Umsida yang tergabung dalam Satgas PPKPT, sebagai bagian dari penguatan kapasitas penanganan awal terhadap korban dalam situasi krisis psikologis.
Ketua Satgas PPKPT Umsida, Boy Isma Putra ST MM, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk nyata komitmen Umsida dalam memperkuat sistem pencegahan dan penanganan kekerasan di perguruan tinggi.
Menurutnya, keberadaan Satgas PPKPT tidak hanya membutuhkan pemahaman regulatif dan administratif, tetapi juga keterampilan pendampingan awal yang tepat agar korban memperoleh rasa aman dan dukungan yang manusiawi.
“Pelatihan ini menjadi penting karena anggota Satgas PPKPT sering berhadapan dengan situasi yang memerlukan respon cepat, tenang, dan tepat,” ujarnya, dalam keterangan tertulis yang diterima Maklumat.id, Sabtu (25/4/2026).
Melalui pelatihan tersebut, kata dia, peserta dibekali kemampuan untuk mengidentifikasi kondisi korban, memberikan respon empatik tanpa menghakimi, serta menentukan kapan korban perlu segera dirujuk kepada layanan profesional atau tenaga medis.
Hadir sebagai pemateri adalah Zaki Nur Fahmawati MPsi Psikolog. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa Psychological First Aid merupakan dukungan psikososial awal yang diberikan kepada individu yang mengalami trauma atau krisis, dengan fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar, menjaga rasa aman, menenangkan kondisi emosional, serta menghubungkan korban dengan layanan bantuan yang sesuai.
Materi pelatihan juga menekankan prinsip dasar PFA, langkah inti look, listen, and link, pentingnya empati, menjaga kerahasiaan korban, serta memahami batasan peran Satgas dalam proses pendampingan awal.
Ia juga menegaskan bahwa PFA bukanlah terapi, melainkan pertolongan pertama psikologis yang bertujuan mencegah distress berkepanjangan dan memperkuat keberhasilan penanganan krisis secara profesional dan terkoordinasi di lingkungan kampus.

Selain itu, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai prinsip kerahasiaan, persetujuan korban, dan konsep need to know dalam penanganan kasus. Aspek ini dinilai sangat penting agar setiap proses pendampingan tetap menjunjung tinggi etika, keamanan informasi, dan perlindungan psikologis korban.
Boy Isma menerangkan bahwa pelatihan tersebut juga membahas tanda-tanda kondisi yang memerlukan rujukan segera, seperti adanya ancaman membahayakan diri sendiri atau orang lain, kondisi korban yang tidak responsif terhadap intervensi awal, maupun keadaan medis darurat.
“Pelatihan ini tidak hanya berisi teori,” tandasnya, menjelaskan bahwa para peserta juga diajak melakukan simulasi peran (roleplay) untuk menghadapi berbagai skenario krisis di kampus.
Menurutnya, hal tersebut bertujuan agar para peserta, yang nantinya akan menjadi perpanjangan tangan Satgas PPKPT, tidak canggung saat harus terjun langsung di lapangan.
Melalui kegiatan tersebut, Umsida berharap anggota Satgas PPKPT semakin siap menjalankan perannya sebagai garda terdepan dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman, suportif, dan responsif terhadap berbagai bentuk kekerasan.
Pelatihan Psychological First Aid itu sekaligus menjadi langkah strategis untuk memperkuat budaya kepedulian, perlindungan, dan kesejahteraan psikologis sivitas akademika di lingkungan Umsida.














