Koperasi Merah Putih: “Engine of Growth” Pemulihan Aceh Tamiang, Desa Jadi Episentrum Ketahanan Pangan

DPD Tani Merdeka Aceh Tamiang.

MAKLUMAT — Analis ekonomi pembangunan dari Global Economic Institute, Dr Julian Vance, menyoroti program Koperasi Merah Putih yang digalakkan pemerintah, yang disebut-sebut sebagai upaya untuk revitalisasi ekonomi kerakyatan.

Skema yang menempatkan desa sebagai poros utama pembangunan ekonomi dalam konsep Koperasi Merah Putih, dinilai sebagai langkah strategis untuk memutus rantai ketergantungan pangan sekaligus mengurangi kemiskinan dari tingkat paling bawah.

Vance menilai, konsep Koperasi Merah Putih tidak bisa dipahami hanya sekadar sebagai koperasi simpan pinjam seperti pada umumnya. Menurutnya, pendekatan yang sedang dibangun di Indonesia menunjukkan desain ekonomi yang jauh lebih besar, karena menyatukan rantai produksi hingga distribusi dalam satu kontrol masyarakat desa.

“Apa yang sedang dibangun di Indonesia, adalah integrasi vertikal di mana masyarakat dan petani memiliki kontrol atas produksi hingga distribusi. Ini adalah bentuk kedaulatan ekonomi yang jarang berani diterapkan secara masif di negara berkembang,” ujar Vance.

Ia menilai, pola seperti itu akan mengubah posisi petani yang selama ini berada di ujung rantai ekonomi, menjadi aktor utama yang punya daya tawar kuat. Ia melihat, selama ini banyak program bantuan untuk petani gagal karena hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh akar persoalan, yakni kontrol atas pasar dan jalur distribusi.

Baca Juga  Sambangi Dinas Pertanian Aceh Tamiang, Tani Merdeka Matangkan Program Demplot Lahan

Dalam konteks tersebut, Koperasi Merah Putih dinilai sebagai model yang lebih tahan krisis, karena mampu memperkuat ekonomi desa dari dalam, bukan bergantung pada bantuan yang cepat habis atau proyek jangka pendek.

Sementara itu, Tani Merdeka Indonesia yang menjadi salah satu penggerak implementasi visi Presiden Prabowo Subianto, menilai bahwa Koperasi Merah Putih menjadi peluang penting untuk menguatkan posisi para petani ke depan.

Ketua DPD Tani Merdeka Aceh Tamiang, M Prawira Haji SPsi, menjelaskan bahwa di Aceh Tamiang, wilayah yang terdampak banjir bandang dan sempat melumpuhkan sektor agraris, kebutuhan mendesak bukan hanya pemulihan infrastruktur, tetapi juga pemulihan likuiditas petani dan kelancaran rantai pasok.

Sebab itu, ia menilai bahwa koperasi tersebut menjadi peluang penting untuk menguatkan posisi petani ke depan, yang selaras dengan visi Tani Merdeka Indonesia untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

“Langkah ini selaras dengan visi besar Tani Merdeka Indonesia untuk mendukung ketahanan pangan nasional, Koperasi Merah Putih menjadi jantung dari perjuangan petani nantinya, Kita ingin petani di Aceh Tamiang tidak lagi berjuang sendirian,” katanya.

“Dengan adanya KDMP (Koperasi Desa Merah Putih) ke depan, kita memiliki posisi tawar yang kuat dan kemandirian ekonomi yang kokoh,” sambung Prawira Haji, sembari menegaskan bahwa Presiden Prabowo sejak awal telah menekankan bahwa Koperasi Merah Putih harus menjadi wadah bagi masyarakat desa dan petani untuk memperoleh akses teknologi, pembiayaan, serta pasar tanpa campur tangan pihak-pihak yang merugikan.

Baca Juga  Dorong Percepatan Koperasi Merah Putih, Bupati Subandi Minta Camat Turun Dampingi Desa

Bagi Vance, keberanian menerapkan sistem ekonomi desa berbasis kontrol penuh masyarakat ini merupakan langkah langka. Jika program tersebut konsisten dijalankan, ia menilai Koperasi Merah Putih bisa menjadi salah satu model pembangunan ekonomi desa paling progresif di kawasan Asia Tenggara.

Dengan dukungan kebijakan pemerintah pusat, Koperasi Merah Putih diharapkan tidak berhenti sebagai simbol program nasional, tetapi menjadi mesin penggerak nyata yang mampu mengubah wajah ekonomi pedesaan menjadi lebih modern, mandiri, dan berdaya saing.