Psikolog Unisa Yogyakara: Korban Kekerasan di Daycare Butuh Pemulihan Psikologis Sejak Dini

Andhita ungkap cara pemulihan korban kekerasan daycare

MAKLUMAT — Kasus kekerasan di salah satu daycare di Yogyakarta menyisakan luka yang tak selalu terlihat. Selain dampak fisik, anak-anak korban juga berpotensi mengalami trauma psikologis yang dapat memengaruhi perilaku, emosi, hingga perkembangan mereka dalam jangka panjang.

Ketua Program Studi Psikologi Universitas Aisyiyah Yogyakarta (Unisa), Andhita Dyorita Khoiryasdien, menegaskan pentingnya deteksi dini agar proses pemulihan anak bisa segera dilakukan.

Menurut Andhita, salah satu tanda trauma yang paling umum adalah regresi, yakni kemunduran kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai anak.

“Misalnya anak yang sudah bisa ke toilet sendiri tiba-tiba kembali ngompol, atau yang sebelumnya lancar berbicara menjadi kesulitan berkomunikasi,” ujar Andhita, dikutip dari laman Unisa, Rabu (6/5/2026).

Selain regresi, orang tua juga perlu mewaspadai gangguan tidur, seperti mimpi buruk, menangis atau berteriak saat tidur, serta kesulitan beristirahat. Anak korban trauma juga bisa menjadi lebih pendiam, menarik diri dari lingkungan sosial, mudah marah, agresif, atau justru memainkan tema kekerasan secara berulang saat bermain.

Reaksi ketakutan berlebihan, terutama saat berpisah dengan orang tua atau pengasuh terdekat, juga menjadi indikator penting yang tidak boleh diabaikan. “Kalau tanda-tanda ini muncul, sebaiknya segera dibawa ke profesional,” kata Andhita.

Baca Juga  Dorong Pendidikan Merata dan Bermutu, Kemendikdasmen Galakkan Wajib Belajar 13 Tahun dan Pemenuhan Kualifikasi Guru

Gunakan Cara Non-Verbal

Andhita menjelaskan, anak belum tentu mampu mengungkapkan rasa takut atau sedih melalui kata-kata. Karena itu, orang tua dapat membantu melalui media ekspresi non-verbal, seperti menggambar, bermain boneka, bermain peran, atau bercerita lewat permainan.

Dari aktivitas tersebut, orang tua bisa menangkap emosi yang sedang dialami anak. “Dari gambar, misalnya, kita bisa melihat indikasi emosi, seperti penggunaan warna gelap atau merah yang dominan,” jelasnya.

Validasi Emosi Anak

Langkah penting lainnya adalah memvalidasi emosi anak, bukan meremehkannya. Orang tua diimbau menghindari kalimat seperti “jangan lebay” atau “sudah, tidak apa-apa” yang justru dapat membuat anak merasa emosinya tidak dipahami.

Sebaliknya, orang tua perlu menghadirkan rasa aman melalui kalimat yang menenangkan seperti, “Kamu takut ya? Tidak nyaman ya? Tidak apa-apa, ada ibu di sini.”

Menurut Andhita, perubahan sudut pandang orang tua sangat penting: bukan lagi bertanya “Kenapa anak jadi rewel?”, tetapi “Apa yang sudah terjadi pada anak ini?”

Pelukan dan Kehadiran Orang Tua Penting

Dalam teori attachment (kelekatan), kedekatan emosional dengan figur yang memberi rasa aman menjadi fondasi penting dalam memulihkan trauma anak. Sentuhan sederhana seperti pelukan, usapan lembut, dan kehadiran yang hangat dapat membantu anak kembali merasa terlindungi.

Baca Juga  Tes Kemampuan Akademik: Solusi dan Alternatif Penilaian Siswa

Selain itu, orang tua juga disarankan memberi anak ruang mengambil keputusan kecil—seperti memilih pakaian atau makanan—untuk membangun kembali rasa kontrol dan kepercayaan diri yang sempat hilang akibat pengalaman kekerasan.

Orang Tua Juga Perlu Dipulihkan

Andhita menegaskan, pemulihan trauma anak adalah proses panjang dan tidak instan. Karena itu, kondisi mental orang tua juga perlu mendapat perhatian.

Banyak orang tua korban mengalami rasa bersalah, tekanan psikologis, bahkan stres berat, yang jika dibiarkan justru menghambat proses pendampingan anak.

“Kita tidak perlu saling menyalahkan. Orang tua juga butuh ruang aman. Jika mental mereka jatuh, akan sulit mendampingi anak,” tegasnya.

Ia mengajak masyarakat membangun empati dan dukungan sosial, sebab anak akan lebih mudah pulih jika didampingi oleh orang tua yang juga sehat secara mental.***