​Seruan “Sell Indonesia” Bergema di Kalangan Investor Global, Sentimen Negatif Robek IHSG dan Rupiah

sell indonesia

​MAKLUMAT – Seruan “Sell Indonesia” bergema di kalangan investor global seiring merosotnya kepercayaan pasar internasional terhadap stabilitas ekonomi domestik. Sentimen negatif ini memicu koreksi tajam, di mana indeks saham acuan Indonesia anjlok hingga 37% dari rekor tertingginya hanya dalam waktu lima bulan.

Kinerja jeblok tersebut menempatkan Indonesia sebagai pasar dengan performa terburuk tahun ini di antara 90 indeks global pantauan Bloomberg.

​Eksodus modal asing ini terjadi akibat akumulasi kekhawatiran para pengelola dana terhadap kebijakan populis serta intervensi pemerintah yang kian agresif di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Kondisi pasar semakin tertekan oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang memaksa investor global mengamankan aset mereka keluar dari pasar berkembang (emerging markets).

Bahkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan hebat pada perdagangan intraday sesi I, Senin (8/6/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek suku bunga tinggi di Amerika Serikat (AS) dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Mengacu data RTI Business hingga pukul 10.30 WIB, IHSG jatuh sebanyak 225 poin (4,04%) ke level terendah baru 5.369. Sepanjang perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.523,94 dan terendah 5.346,34.

Baca Juga  Habis Manis, Anies Baswedan Ditinggal

​Berikut adalah rincian dampak volatilitas pasar yang terjadi berdasarkan laporan kompilasi pekan kemarin:

​1. Rupiah Tembus Level Psikologis Baru

​Mata uang rupiah mencatat pelemahan terdalam di Asia dengan depresiasi mencapai 14% semenjak transisi pemerintahan baru. Pekan ini, nilai tukar rupiah resmi menembus angka Rp18.000 per dolar AS. Pasar opsi bahkan memproyeksikan probabilitas sebesar 45% bahwa rupiah dapat merosot hingga Rp19.000 pada Desember mendatang akibat status Indonesia sebagai importir minyak bersih di tengah tingginya harga energi dunia.

​2. Pasar Saham dan Obligasi Tertekan Hebat

​IHSG & Status MSCI: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjerembab lebih dari 30% sepanjang tahun berjalan (year-to-date). Situasi kian genting setelah MSCI memperingatkan potensi penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.

​Pelepasan Surat Utang: Investor asing tercatat telah menarik dana (net sell) sebesar Rp86 triliun atau setara US$ 4,8 miliar dari Surat Berharga Negara (SBN) sejak Agustus lalu.

​3. Titik Balik Kepercayaan Investor

​Bagi mayoritas pelaku pasar makro, pengunduran diri mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada tahun lalu menjadi pemicu utama runtuhnya persepsi disiplin fiskal. Langkah pemerintah mengambil kendali langsung atas ekspor komoditas utama demi menekan kebocoran pajak justru direspons negatif oleh pasar karena dianggap mengurangi prediktabilitas bisnis.

Baca Juga  Dukung Rencana Koalisi Golkar-PSI untuk Pilkada, Bamsoet: Target Menang 60 Persen

​Gelombang capital outflow besar-besaran yang melahirkan jargon “Sell Indonesia” ini adalah sinyal alarm keras bagi kredibilitas pengelolaan fiskal dan moneter kabinet baru. Pasar tidak mempersoalkan cita-cita pertumbuhan target 8% maupun gagasan lembaga super seperti Danantara. Namun, investor asing sangat sensitif terhadap hilangnya “jangkar disiplin anggaran” pasca-era Sri Mulyani.

​Ketika Bank Indonesia terpaksa menyerap hingga 27% porsi obligasi pemerintah, pasar melihatnya sebagai langkah pelonggaran kuantitatif (quantitative easing) terselubung yang membahayakan independensi bank sentral.

Walau fondasi riil seperti pertumbuhan ekonomi di atas 5% dan hilirisasi nikel masih kuat, pemerintah tidak bisa mengabaikan pasar portofolio. Pemerintah harus segera menyajikan transparansi cetak biru Danantara serta kepastian batas aman defisit anggaran jika ingin mematahkan sentimen “Sell Indonesia” ini.***