Kisah Nadia Nur Imani, Alumni UMS yang Wujudkan Mimpi Ibu hingga Jadi Perawat di Arab Saudi

MAKLUMAT – Nadia Nur Imani masih mengingat kutipan dari karakter Kim Sa-bu alias Master Kim dalam serial Dr. Romantic. Bagi perempuan asal Lampung itu, kalimat tersebut bukan sekadar dialog drama, melainkan kompas yang menuntunnya mengambil keputusan besar dalam hidup.

“Di saat kamu menyerah, kamu akan mulai mencari-cari alasan. Di saat kamu memutuskan untuk bertahan, kamu akan mulai menemukan jalan keluar.”

Nadia memilih bertahan pada mimpinya menjadi perawat, meski jalan yang ia tempuh membawanya jauh dari kampung halaman. Alumni Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) itu kini bekerja di Rumah Sakit Dokter Sulaiman Al-Habib, Riyadh, Arab Saudi, setelah lebih dulu mewujudkan impian yang pernah tertunda milik sang ibu.

Perjalanan Nadia tidak dimulai dari keinginan mengejar karier di luar negeri. Ia justru memulai semuanya dari sebuah tekad sederhana: meneruskan cita-cita ibunya yang dahulu ingin menjadi perawat, tetapi tidak sempat menggapainya.

Meneruskan Mimpi Sang Ibu

Nadia lahir di Lampung pada 11 Maret 2000. Sejak kecil, ia melihat ibunya menyimpan keinginan mendalami ilmu keperawatan. Namun, keadaan membuat mimpi itu harus terkubur.

Keinginan sang ibu kemudian tumbuh menjadi motivasi bagi Nadia.

“Makanya saya mau melanjutkan keinginan ibu,” ujarnya saat dihubungi akhir Juni lalu.

Pilihan itu membawanya memasuki dunia keperawatan yang penuh tantangan. Di bangku kuliah, ia justru jatuh hati pada keperawatan gawat darurat, bidang yang menuntut kecepatan, ketelitian, dan kemampuan mengambil keputusan dalam hitungan detik.

Ketertarikan itu, katanya sambil tertawa, banyak dipengaruhi oleh drama Korea bertema medis seperti Dr. Romantic dan The Trauma Code.

Baginya, ruang gawat darurat adalah tempat setiap detik memiliki arti.

Baca Juga  Dosen UMS Kritik Pemda: Kenaikan PBB Bukan Solusi di Tengah Susutnya Dana TKD

“Kadang kami balapannya sama malaikat Izrail,” selorohnya.

Pagi Iduladha yang Tak Pernah Ia Lupakan

Pengalaman paling berkesan selama menjalani Program Profesi Ners UMS terjadi saat ia praktik di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Soeradji Tirtonegoro (RSST) Klaten.

Malam sebelum Hari Raya Iduladha, Nadia masih tidur nyenyak. Ia sama sekali tidak menyangka pagi berikutnya akan menjadi salah satu hari tersibuk selama masa pendidikan profesinya.

Usai salat Iduladha, seorang pasien datang dengan kondisi sesak napas akibat tersedak potongan daging kurban berukuran besar. Nadia segera memanggil dokter jaga.

Tak lama kemudian, pasien lain berdatangan silih berganti.

Ada yang tertendang sapi, mengalami patah kaki, jari terpotong golok, hingga tertabrak sapi kurban saat mengendarai sepeda motor.

“Ada saja pasiennya,” kenangnya.

Ruang IGD pagi itu seperti tidak pernah berhenti bergerak. Dokter dan perawat berpacu dengan waktu untuk menangani setiap pasien yang datang.

Pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam bagi Nadia. Hari tersebut semakin meyakinkannya bahwa ia memilih profesi yang tepat.

Ia kemudian menyelesaikan pendidikan profesi ners pada Desember 2023.

Kesempatan yang Datang dari Jazirah Arab

Tak lama setelah wisuda, sebuah agensi penyalur tenaga kerja memperkenalkan berbagai peluang karier bagi perawat Indonesia di luar negeri.

Nadia melihat kesempatan itu sebagai pintu yang mungkin hanya terbuka sekali.

Baca Juga  Tugas Kampus Muhammadiyah dalam Memajukan Umat dan Bangsa

“Kayaknya aku harus ke luar negeri dulu deh,” batinnya saat itu.

Ia lalu mengikuti seluruh proses seleksi hingga menjalani wawancara dengan pihak Rumah Sakit Dokter Sulaiman Al-Habib di Riyadh.

Satu pertanyaan sederhana mengubah arah hidupnya.

“Kamu siap berangkat?”

Nadia menjawab mantap.

“Saya siap.”

Jawaban itu mengantarkannya mendapatkan kontrak kerja selama dua tahun di Rumah Sakit Dokter Sulaiman Al-Habib pada Juni 2024.

Namun, keputusan itu tidak langsung mendapat restu.

“Kok jauh sekali sampai ke Arab,” kata ibunya ketika pertama kali mendengar kabar tersebut.

Nadia tidak menyerah. Ia terus meyakinkan kedua orang tuanya hingga akhirnya mendapatkan izin untuk merantau.

Ia pun berangkat bersama lima alumni Keperawatan UMS lainnya yang juga memperoleh kontrak kerja di sejumlah rumah sakit di Arab Saudi.

Belajar Menjadi Perawat yang Mandiri

Sesampainya di Arab Saudi, Nadia harus beradaptasi dengan lingkungan baru.

Ia menilai karakter pasien di sana berbeda dengan pasien di Indonesia. Banyak pasien yang tidak sabar dan menyampaikan protes secara langsung ketika harus menunggu terlalu lama.

Bahasa juga menjadi tantangan tersendiri. Meski demikian, ia merasa cukup terbantu karena bahasa kerja utama di rumah sakit adalah bahasa Inggris.

“Kalau bahasa Arab itu menyesuaikan sih, nanti lama-kelamaan juga pasti bisa dasar-dasarnya,” ujarnya.

Ia juga menemukan budaya kerja yang berbeda. Sistem pelayanan di rumah sakit berjalan sangat disiplin dan teratur. Tambahan jam kerja dihitung sebagai lembur dan mendapatkan kompensasi yang jelas.

Baca Juga  Munir Mulkhan: Kader IMM Harus Menampilkan Ciri Pemikiran yang Berbeda

Yang paling menantang, Nadia dituntut menjadi perawat yang mandiri.

Ia harus mampu melakukan berbagai tindakan keperawatan dasar tanpa bergantung sepenuhnya pada instruksi dokter.

Menemukan Rumah Kedua di Riyadh

Waktu berjalan cepat. Dua tahun tinggal di Riyadh membuat Nadia mulai merasa nyaman dengan kehidupan di Negeri Penjaga Dua Kota Suci itu.

Ada satu hal yang paling ia syukuri: kesempatan melaksanakan ibadah umrah di Kota Makkah.

“Ini privilese banget buat saya,” katanya.

Meski begitu, ia tidak pernah melupakan keluarga di kampung halaman. Ia rutin menghubungi orang tuanya melalui panggilan video untuk melepas rindu.

Keinginannya untuk pulang sempat tertunda karena rumah sakit mensyaratkan kepemilikan lisensi keperawatan terlebih dahulu. Namun, ia menerima syarat itu sebagai bagian dari proses yang harus dijalani.

Kini, Juni 2026 menandai genap dua tahun Nadia berada di Arab Saudi.

Kabar baik kembali datang. Rumah Sakit Dokter Sulaiman Al-Habib memperpanjang kontraknya untuk dua tahun ke depan.

“Alhamdulillah,” ucapnya singkat.

Perjalanan Nadia dari Lampung menuju Riyadh bukan hanya kisah tentang seorang perawat yang bekerja di luar negeri. Ini adalah cerita tentang seorang anak yang berusaha mewujudkan impian ibunya, tentang keberanian meninggalkan zona nyaman, dan tentang keyakinan bahwa ketika seseorang memilih bertahan, selalu ada jalan yang terbuka di depan.

Seperti kutipan yang selama ini ia pegang, Nadia akhirnya menemukan jalannya sendiri—jauh dari rumah, tetapi semakin dekat dengan mimpi yang dulu hanya hidup dalam doa seorang ibu.***