MAKLUMAT – Makan wortel tak bisa menyembuhkan mata minus. Penegasan itu disampaikan dokter spesialis mata RS EMC Cibitung, dr. Avizena Muhammad Zamzam, untuk meluruskan anggapan yang selama ini berkembang di masyarakat.
Menurut Avizena, vitamin A dalam wortel memang berperan menjaga kesehatan mata. Namun, nutrisi tersebut tidak mampu menghilangkan miopia atau mata minus karena kondisi itu disebabkan oleh kelainan refraksi.
“Wortel memang kaya vitamin A yang baik untuk kesehatan mata, tetapi tidak dapat menghilangkan mata minus. Nutrisi hanya membantu menjaga kesehatan mata, bukan memperbaiki kelainan refraksi,” kata dr. Avizena.
Miopia merupakan gangguan penglihatan yang membuat seseorang kesulitan melihat objek yang berada pada jarak jauh. Kondisi ini terjadi karena bayangan benda jatuh di depan retina, bukan tepat di retina sebagaimana mata normal.
Selain mitos tentang wortel, Avizena juga meluruskan anggapan bahwa penggunaan kacamata membuat minus semakin bertambah.
Menurutnya, hal itu tidak benar. Justru kacamata membantu mata melihat lebih jelas, sedangkan pertambahan minus umumnya dipicu oleh pertumbuhan bola mata atau kebiasaan melihat objek jarak dekat dalam waktu lama.
“Minus bertambah biasanya disebabkan pertumbuhan bola mata atau kebiasaan melihat jarak dekat terlalu lama, bukan karena kacamatanya,” ujarnya.
Dokter juga membantah anggapan bahwa mata minus dapat sembuh sendiri. Hingga kini, miopia tidak bisa hilang secara alami, tetapi perkembangannya dapat dikendalikan melalui penanganan yang tepat.
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengalami miopia antara lain faktor keturunan, terlalu lama menggunakan gawai, membaca atau bekerja di depan layar, serta pertumbuhan bola mata yang lebih panjang dari ukuran normal.
Gejala mata minus meliputi penglihatan kabur saat melihat jauh, sering menyipitkan mata, mata cepat lelah, sakit kepala setelah melihat objek jauh, hingga sulit membaca tulisan di papan atau rambu jalan.
Jika keluhan tersebut muncul, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan mata ke dokter spesialis mata.
Penanganan miopia bertujuan memperbaiki kualitas penglihatan sekaligus memperlambat pertambahan minus. Pilihan terapi meliputi penggunaan kacamata atau lensa kontak, terapi kontrol miopia pada anak, operasi refraktif seperti LASIK bagi pasien yang memenuhi syarat, serta perubahan gaya hidup.
Dokter juga mengingatkan pentingnya menerapkan aturan 20-20-20, yakni setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek berjarak sekitar enam meter selama 20 detik. Aktivitas di luar ruangan juga terbukti membantu menekan risiko perkembangan miopia, terutama pada anak.
Pemeriksaan mata secara berkala setiap enam bulan hingga satu tahun sekali juga disarankan meski belum muncul keluhan.
Gaya Hidup Digital Memicu Lonjakan Miopia
Kasus mata minus terus meningkat seiring tingginya penggunaan gawai dan aktivitas di depan layar. Banyak masyarakat masih mempercayai mitos yang tidak didukung bukti ilmiah, seperti konsumsi wortel dapat menyembuhkan miopia.
Padahal, pola hidup sehat, membatasi waktu menatap layar, pemeriksaan mata rutin, serta penggunaan alat bantu sesuai anjuran dokter jauh lebih efektif untuk menjaga kualitas penglihatan. Edukasi berbasis sains menjadi kunci agar masyarakat tidak salah mengambil langkah dalam merawat kesehatan mata.













