Indonesia Kekurangan Dokter Jantung? Mungkin yang Kurang Adalah Jalan Menjadi Dokter

Indonesia kekurangan dokter jantung

MAKLUMAT — Indonesia sedang kekurangan dokter spesialis jantung. Angkanya ribuan. Pemerintah sibuk menghitung kebutuhan, membuka program pendidikan baru, memperluas layanan, hingga mengirim dokter belajar ke luar negeri.Semua itu baik.

 

Tetapi ada satu angka yang jarang ikut dihitung: harga sebuah mimpi.

Sebab. Sebelum mengenakan jas putih dan mendengarkan detak jantung pasien melalui stetoskop, ia lebih dulu harus mendengarkan bunyi lain yang tak kalah keras: yakni bunyi uang.

Menjadi dokter di negeri ini bukan hanya soal lulus ujian. Ia juga soal bertahan menghadapi tekanan biaya.

Enam tahun pendidikan dokter. Lalu empat atau lima tahun lagi untuk menjadi spesialis jantung. Di sela-selanya, ada UKT, biaya praktikum, buku, seminar, alat kesehatan, penelitian, ujian kompetensi, hingga biaya hidup.

Jika semuanya dijumlahkan, angkanya bisa mendekati setengah miliar rupiah.

Setengah miliar.

Bagi sebagian orang kelas atas, itu investasi.

Bagi sebagian besar rakyat Indonesia, itu adalah angka yang hanya muncul ketika menjual rumah, tanah, atau sawah.

Lalu seperti mimpi di siang bolong, kita bertanya, mengapa dokter spesialis masih kurang?

Mungkin pertanyaannya sebaiknya perlu dibalik.

Bukan mengapa Indonesia kekurangan dokter.

Baca Juga  Raker IKA Unair, Gubernur Khofifah Dorong Penguatan Program Prioritas dan Kontribusi Nyata

Melainkan, mengapa jalan menjadi dokter dibuat begitu mahal?

Di desa-desa, banyak anak yang belajar di bawah lampu redup. Mereka juara kelas. Mereka memenangkan olimpiade. Mereka menghafal anatomi tubuh lebih cepat daripada menghafal jalan menuju kota.

Namun setelah lulus SMA, yang mereka hadapi bukan lagi soal fisika atau biologi.

Mereka berhadapan dengan rekening jumbo untuk menjadi dokter.

Pada kondisi itu, kecerdasan sering kali kalah oleh saldo.

Padahal penyakit jantung tidak pernah memilih pasien berdasarkan isi dompet.

Ironisnya, daerah yang paling kekurangan dokter justru sering melahirkan anak-anak paling tangguh. Anak petani. Anak nelayan. Anak buruh. Anak guru honorer.

Mereka tumbuh bersama keterbatasan. Mereka mengenal arti kata antre sebelum mengenal arti kesempatan.

Tetapi untuk menjadi dokter, mereka harus melewati pintu yang dijaga uang.

Negara membangun rumah sakit baru. Membeli alat kesehatan modern. Menambah ruang operasi.

Semuanya penting.

Tetapi rumah sakit secanggih apa pun tidak akan bisa memeriksa pasien jika dokter yang mengoperasikannya tidak pernah sempat lahir.

Karena cita-citanya gugur di atas meja pembayaran UKT.

Barangkali kita terlalu sibuk membangun gedung kedokteran.

Padahal yang lebih mendesak adalah membangun jalan.

Baca Juga  Jalani Ujian Doktor Terbuka UNAIR, Upaya Tom Liwafa Majukan UMKM

Jalan agar anak-anak yang cerdas tidak berhenti menjadi calon dokter hanya karena ayahnya petani.

Jalan agar putri seorang nelayan bisa menjadi ahli jantung tanpa harus mewarisi utang sepanjang pendidikan.

Jalan agar profesi dokter tidak perlahan berubah menjadi profesi yang hanya ramah bagi mereka yang lahir dari keluarga mampu.

Konstitusi mengatakan kesehatan adalah hak setiap warga negara.

Namun hak itu akan selalu pincang jika jalan menjadi dokter hanya dapat ditempuh oleh mereka yang sanggup membayar mahal.

Benar Indonesia kekurangan dokter spesialis jantung.

Tetapi sebelum menyalahkan jumlah fakultas kedokteran atau minimnya program spesialis, ada baiknya kita bercermin.

Jangan-jangan negeri ini bukan sekadar kekurangan dokter.

Negeri ini sedang kekurangan jalan bagi anak-anak terbaiknya untuk menjadi dokter.***