MAKLUMAT — Memasuki dunia perkuliahan menjadi momen yang membanggakan bagi mahasiswa baru. Namun, di balik semangat memulai jenjang pendidikan tinggi, masa transisi menuju kehidupan kampus juga dapat memicu tekanan psikologis apabila tidak dihadapi dengan kesiapan yang baik.
Perubahan sistem pembelajaran, lingkungan sosial, hingga tuntutan hidup lebih mandiri menjadi tantangan yang harus dihadapi secara bersamaan. Kondisi tersebut terutama dirasakan mahasiswa yang untuk pertama kalinya tinggal jauh dari keluarga.
Dosen Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Cahyo Setiadi Ramadhan, S.Psi., M.Psi., Psi., mengatakan tekanan yang dialami mahasiswa baru merupakan respons yang wajar terhadap berbagai perubahan besar dalam waktu yang relatif singkat.
“Perubahan dari lingkungan sekolah menuju lingkungan kampus membawa banyak penyesuaian. Mahasiswa bertemu teman dari berbagai daerah dan berada di lingkungan yang jauh lebih besar. Bagi mereka yang belum pernah merantau, proses adaptasi juga mencakup penyesuaian dengan tempat tinggal baru,” kata Cahyo seperti dilansir laman UMY, Ahad (26/7/2026).
Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran di perguruan tinggi, tetapi juga harus membangun relasi sosial baru, mengatur waktu secara mandiri, serta menghadapi tuntutan akademik yang berbeda dibandingkan saat masih di bangku sekolah.
“Berbagai perubahan itu tentu dapat menjadi tekanan. Namun, apakah tekanan tersebut berkembang menjadi masalah psikologis atau tidak sangat bergantung pada resiliensi, pengalaman, dan cara seseorang menyikapinya,” ujarnya.
Generasi Z Menghadapi Tantangan Berbeda
Cahyo menilai anggapan bahwa Generasi Z lebih rentan mengalami gangguan kesehatan mental dibandingkan generasi sebelumnya tidak sepenuhnya tepat.
Menurutnya, kondisi psikologis seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari lingkungan keluarga, pola pengasuhan, pengalaman hidup, kemampuan mengelola emosi, hingga dukungan sosial yang dimiliki.
Meski demikian, ia mengakui Generasi Z menghadapi tantangan yang berbeda karena tumbuh bersama internet dan media sosial.
Kemudahan mengakses kehidupan orang lain melalui media sosial, kata Cahyo, membuat seseorang lebih mudah membandingkan pencapaiannya dengan orang lain. Kondisi tersebut dapat memicu fear of missing out (FOMO), perasaan tertinggal, hingga kecemasan.
“Media sosial membuat seseorang lebih mudah membandingkan dirinya dengan orang lain. Pikiran seperti, ‘Mengapa teman saya sudah seperti itu, sementara saya belum?’ dapat meningkatkan kerentanan terhadap kecemasan,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan berarti Generasi Z lebih lemah dibandingkan generasi sebelumnya.
“Mereka hanya menghadapi dinamika dan tantangan yang berbeda,” tegas Cahyo.
Masa Orientasi Harus Membantu Adaptasi
Cahyo berharap kegiatan orientasi mahasiswa baru benar-benar menjadi sarana untuk membantu proses adaptasi, bukan justru menambah tekanan psikologis.
Menurutnya, orientasi seharusnya membantu mahasiswa mengenal lingkungan kampus, memahami budaya akademik, serta membangun jejaring pertemanan yang sehat.
Selain itu, mahasiswa baru juga dianjurkan mempertahankan berbagai kebiasaan positif yang telah dimiliki sebelum kuliah, seperti rutin berolahraga, menjalankan hobi, beribadah, menjaga waktu istirahat, dan tetap berkomunikasi dengan keluarga.
“Kebiasaan baik dapat menjadi jangkar ketika menghadapi perubahan. Selain itu, jangan ragu membangun pertemanan baru dan tetap berkomunikasi dengan orang tua, terutama pada masa-masa awal kuliah,” katanya.
Peran Orang Tua Tetap Dibutuhkan
Meski mahasiswa mulai belajar hidup mandiri, Cahyo menilai dukungan keluarga tetap memiliki peran penting selama proses adaptasi.
Namun, orang tua juga perlu memberi ruang kepada anak untuk mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, dan belajar bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.
“Orang tua perlu memberikan ruang bagi anak untuk belajar mandiri sambil tetap memberikan dukungan. Proses ini akan lebih optimal apabila kampus dan keluarga bersama-sama mendampingi mahasiswa menjalani masa transisinya,” pungkas Cahyo.***












