Membangun Karakter Anak Tak Cukup Hanya di Ruang Kelas

anak

MAKLUMAT — Pembentukan karakter anak tidak cukup mengandalkan pembelajaran di dalam ruang kelas. Anak membutuhkan pengalaman yang membuat mereka berani berkreasi, belajar bertanggung jawab, sekaligus memahami lingkungan di sekitarnya.

Pengalaman semacam itu menjadi bagian penting dari proses belajar karena nilai-nilai tersebut lebih mudah tumbuh ketika anak terlibat langsung dalam sebuah kegiatan. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) Kelompok 30 mencoba menghadirkan pengalaman tersebut melalui program yang menyasar pendidikan anak usia dini hingga sekolah dasar.

Ketua KKN Kelompok 30 UMSURA, Muhammad Rizam Arzaqi Robby, mengatakan kegiatan yang dijalankan bukan sekadar memenuhi program kerja mahasiswa, tetapi menjadi ruang belajar bersama bagi anak-anak, sekolah, dan orang tua.

“Kami selaku mahasiswa berharap, kegiatan ini tak hanya dimaknai sebagai hiburan semata, namun juga upaya pendekatan kami, sekolah, anak-anak, hingga wali murid. Selain itu, kegiatan ini barangkali juga merupakan upaya memperkuat sinergi antara pihak sekolah dan orang tua,” ujarnya kepada wartawan Maklumat.id pada Jumat (31/7/2026).

Gagasan tersebut diwujudkan melalui dua kegiatan yang digelar pada Senin (27/7/2026) di Desa Sidowungu, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik. Program pertama berupa Festival Anak Sidowungu di TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal 41 yang menghadirkan lomba menggambar sebagai sarana mengembangkan kreativitas. Sementara itu, program kedua dilaksanakan di SDN UPT 239 melalui penyerahan dan edukasi Bank Sampah untuk membangun kebiasaan peduli lingkungan sejak usia dini.

Baca Juga  KKN Mahasiswa Umsura Didorong Penguatan SDGs

Di TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal 41, sebanyak 79 siswa TK A dan TK B mengikuti Festival Anak Sidowungu. Lomba menggambar dipilih bukan untuk mencari siapa yang menghasilkan gambar terbaik, melainkan memberi ruang bagi setiap anak mengekspresikan imajinasi mereka.

Mahasiswa KKN dan guru mendampingi peserta selama kegiatan berlangsung agar anak-anak berani menuangkan ide tanpa takut melakukan kesalahan. Dari gambar tentang keluarga, sekolah, hingga alam, setiap karya menunjukkan cara pandang yang berbeda dan menjadi bukti bahwa kreativitas anak berkembang ketika diberi kesempatan untuk berekspresi.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan kreativitas peserta didik. Terutama, seperti yang teman-teman mahasiswa ketahui, ini kan anak TK dan KB, jadi sifat anak-anaknya masih sangat melekat. Melalui acara ini, setidaknya imajinasi anak-anak terkait menggambar mampu tersalurkan dengan baik,” tutur Kepala TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal 41, Dian Sulistiana.

Namun, karakter tidak berhenti pada keberanian berimajinasi. Anak juga perlu dibiasakan memahami tanggung jawab terhadap lingkungan tempat mereka tumbuh. Atas dasar itu, mahasiswa KKN melanjutkan pengabdian melalui Program Bank Sampah di SDN UPT 239 Sidowungu.

Dalam kegiatan tersebut, siswa tidak hanya menerima penjelasan mengenai pentingnya menjaga kebersihan, tetapi juga mempraktikkan cara memilah sampah organik, anorganik, dan sampah yang dapat didaur ulang. Pendekatan ini memberi pengalaman langsung bahwa menjaga lingkungan merupakan kebiasaan yang dapat dimulai dari tindakan sederhana.

Baca Juga  Pakar Pendidikan Dukung Jam Malam Anak Surabaya, Dorong Peran Keluarga dan Sekolah

Kepala SDN UPT 239 Gresik, Robiatul Adawiyah menilai pembiasaan seperti itu lebih mudah dipahami anak ketika disertai praktik dibandingkan hanya melalui penjelasan di dalam kelas. Kehadiran Bank Sampah juga diharapkan menjadi sarana belajar yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh sekolah.

“Keberadaan Bank Sampah ini tentu menjadi awal yang baik untuk pembiasaan anak-anak dalam memilah sampah organik dan anorganik. Dengan demikian, kesadaran anak-anak akan pentingnya memilah sampah akan tumbuh, sehingga bertumbuh pula rasa peduli terhadap lingkungan,” jelasnya.

Rizam menjelaskan bahwa kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak harus selalu hadir dalam bentuk mata pelajaran. Kreativitas dapat tumbuh melalui selembar kertas gambar, sementara kepedulian terhadap lingkungan dapat dibangun dari kebiasaan memilah sampah.

Menurutnya, ketika sekolah, mahasiswa, dan orang tua menghadirkan pengalaman belajar seperti ini secara berkelanjutan, ruang kelas tidak lagi menjadi satu-satunya tempat anak belajar menjadi pribadi yang utuh.

“Program Bank Sampah ini saya harap tak hanya menjadi penyerahan simbolik bank sampah saja, namun juga langkah awal untuk meningkatkan rasa peduli terhadap lingkungan oleh anak-anak SDN UPT 239 Sidowungu,” tutur Rizam.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki