Respons Kemanusiaan untuk NTT, Muhammadiyah Layani 7.225 Penyintas

Tim relawan Muhammadiyah melayani penyintas bencana gempa bumi NTT. (Foto: Lazismu)

MAKLUMAT — Muhammadiyah terus melakukan respons kemanusiaan bagi masyarakat terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) dan berdampak pada tujuh kabupaten. Mobilisasi dilakukan melalui berbagai unsur dalam Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), bersama Lazismu dan jaringan rumah sakit Muhammadiyah-Aisyiyah.

Pada tahap awal respons, Muhammadiyah mendirikan Pos Koordinasi Wilayah (Poskorwil) di Klinik Muhammadiyah Ende, Kabupaten Ende. Pos tersebut menjadi pusat perencanaan dan evaluasi layanan kemanusiaan di wilayah terdampak.

Hingga 3 September 2026, Muhammadiyah telah mendirikan tujuh Pos Koordinasi Daerah di tujuh kabupaten dan 10 Pos Pelayanan (Posyan) di wilayah terdampak.

Tiga Klaster Layanan Utama

Dalam respons tersebut, layanan kemanusiaan dibagi ke dalam tiga klaster utama, yakni layanan kesehatan, layanan nonkesehatan, dan logistik.

Pada sektor kesehatan, Emergency Medical Team (EMT) Type-1 Fixed yang terdiri dari 50 personel diturunkan untuk mendirikan rumah sakit lapangan di Puskesmas Dampek, Manggarai Timur, yang mengalami kerusakan akibat gempa. Tim tersebut bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI dan dijadwalkan bertugas selama 30 hari sejak 17 Agustus 2026.

Selain EMT Type-1 Fixed, layanan kesehatan dilakukan melalui EMT Mobile yang menyasar lokasi-lokasi pengungsian yang sulit dijangkau. Tim tersebut berasal dari sejumlah Rumah Sakit Muhammadiyah-Aisyiyah di berbagai daerah.

Baca Juga  Tantangan Relevansi Agama dalam Kehidupan di Era Kontemporer

Hingga 3 September 2026, layanan kesehatan Muhammadiyah tercatat telah menangani 3.724 pasien yang terdiri dari 85 bayi, 229 balita, 266 anak, 150 remaja, 2.173 dewasa, 22 ibu hamil, dan 799 lansia.

Berdasarkan pemeriksaan di rumah sakit lapangan, diagnosis yang paling banyak ditemukan antara lain infeksi saluran pernapasan sebanyak 437 kasus, nyeri otot dan pegal-pegal 372 kasus, hipertensi 233 kasus, gejala tidak nyaman atau nyeri di sekitar perut 186 kasus, serta sakit kepala dan nyeri leher hingga tengkuk sebanyak 153 kasus.

Secara keseluruhan, layanan kesehatan melalui EMT Type-1 Fixed dan EMT Mobile telah menjangkau 2.215 perempuan dan 1.487 laki-laki penyintas gempa bumi.

Selain layanan kesehatan, Muhammadiyah juga menjalankan sejumlah layanan nonkesehatan. Dapur umum yang didirikan telah melayani 1.750 jiwa. Relawan juga mendirikan fasilitas sanitasi dan air bersih di dua titik serta memberikan layanan psikososial kepada 1.773 jiwa.

Dukungan logistik juga disalurkan melalui program Indonesia Siaga. Bantuan tersebut meliputi mobil dapur umum, mobil taktis, 500 paket family kit, 600 paket school kit, 1.440 kaleng RendangMu, serta terpal sepanjang 500 meter.

Dukungan logistik untuk pengobatan juga diberikan oleh tim EMT Mobile dari masing-masing Rumah Sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah yang bertugas di wilayah terdampak.

Baca Juga  Nazaruddin Malik: Kerja Pemberdayaan Membutuhkan Akses Politik

Penghimpunan Dana Kemanusiaan

Dukungan terhadap respons kemanusiaan juga dihimpun melalui infak masyarakat. Pimpinan Pusat Muhammadiyah menerbitkan Surat Edaran Nomor 18/EDR/I.0/H/2026 pada 20 Agustus 2026 yang menginstruksikan masjid-masjid Muhammadiyah menghimpun Infak Salat Jumat untuk bantuan kemanusiaan bagi korban gempa NTT.

Penggalangan tersebut dilaksanakan pada Jumat (21/8/2026). Hingga 3 September 2026, dana yang terhimpun tercatat sebesar Rp6.099.163.820. Dari jumlah tersebut, Rp3.455.958.814 telah disalurkan untuk mendukung aksi layanan kemanusiaan Muhammadiyah.

Secara keseluruhan, update penghimpunan dana untuk merespons bencana NTT oleh Lazismu dikutip dari laman resmi PP Muhammadiyah pada Senin (7/9/2026), telah mencapai sekitar Rp7,4 miliar.

“Menurut data yang terkumpul di Lazismu, berdasarkan surat PP Muhammadiyah untuk menghimpun itu sampai saat ini sudah masuk sekitar 7,4,” kata Direktur Fundraising Lazismu, Mochammad Sholeh Farabi.

Dana tersebut akan disalurkan sesuai kebutuhan berdasarkan hasil asesmen tim di lapangan. Untuk bencana lain, seperti kebakaran hutan dan lahan serta erupsi, proses penghimpunan masih berlangsung.

Direktur Utama Lazismu, Barry Adhitya, mengatakan bahwa penyaluran dana donasi dan Infak Salat Jumat masih akan dilanjutkan untuk mendukung respons serta tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi.

Baca Juga  PTMA dan SDM Berkualitas di Tahun 2045

Lazismu juga menyampaikan apresiasi kepada relawan dan masyarakat yang memberikan dukungan terhadap respons bencana tersebut.

“Kami apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh relawan Muhammadiyah di lapangan atas kerja-kerja kemanusiaan dan tentu terima kasih kepada donatur dan jamaah salat Jumat atas kepercayaannya sehingga aksi layanan kemanusiaan Muhammadiyah kepada penyintas bencana di NTT dapat terus dilanjutkan”, kata Barry Adhitya.

Ia menegaskan, Lazismu akan terus memantau dan mengevaluasi pelaksanaan program Indonesia Siaga di NTT. Evaluasi dilakukan agar dana yang dihimpun masyarakat dapat digunakan secara optimal untuk mendukung pemulihan pascagempa, termasuk tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.

Dukungan untuk aksi layanan Muhammadiyah dalam merespons gempa NTT masih dibuka melalui Lazismu, yang dapat diakses melalui https://donasi.lazismu.org/bantuanbencana.
Perkembangan respons dan penyaluran bantuan juga dapat dipantau melalui kanal informasi Lazismu di https://lazismu.org/dashboardresponntt.***