Fatma Saifullah Yusuf, Kiprah Sosialnya Menjangkau Kesehatan Perempuan hingga Disabilitas

fatma gus ipul

MAKLUMAT – Dra. Hajjah Fatma Saifullah Yusuf membangun kiprah sosial melalui pemberdayaan perempuan, kepedulian terhadap kesehatan, dan dukungan bagi penyandang disabilitas. Istri Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul ini dikenal aktif dalam organisasi perempuan dan mendirikan Fatma Foundation untuk menjalankan kegiatan sosial, termasuk edukasi kesehatan perempuan.

Perjalanan Fatma menarik dicermati melalui pengalamannya memimpin organisasi perempuan, keterlibatannya dalam kegiatan sosial, serta perhatian terhadap kelompok rentan. Kiprahnya tidak hanya berkaitan dengan aktivitas keluarga pejabat publik, tetapi juga mencakup kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Mendirikan Fatma Foundation untuk Kesehatan Perempuan

Salah satu langkah penting ibu empat orang ini dalam kegiatan sosial adalah mendirikan Fatma Foundation pada 4 Februari 2019. Yayasan ini lahir dari kepeduliannya terhadap persoalan kesehatan, terutama penyakit kanker yang menyerang perempuan.

Saat memperkenalkan yayasan tersebut, Fatma menjelaskan bahwa pendiriannya berangkat dari kepedulian terhadap sesama.

“Pendiriannya diawali dari rasa cinta dan kepedulian terhadap sesama,” ujar Fatma dikutip, Sabtu (31/10/2026).

Inisiatif tersebut memperlihatkan salah satu fokus kegiatan sosial Fatma, yakni meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan perempuan. Edukasi dan pemeriksaan dini menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kewaspadaan terhadap kanker serviks dan kanker payudara.

Pengalaman Panjang di Organisasi Perempuan

Sebelum suaminya menjabat Menteri Sosial, Fatma telah aktif dalam organisasi perempuan di Jawa Timur. Ia pernah memimpin Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Jawa Timur dan Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi) Jawa Timur.

Baca Juga  Gus Ipul: PBNU Kembali Solid, Gus Yahya Dipastikan Tetap Ketua Umum

Dalam kepemimpinannya di BKOW, Fatma terlibat dalam gerakan yang menghimpun berbagai organisasi perempuan. Forum tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kerja sama, meningkatkan partisipasi perempuan, dan mengembangkan kegiatan sosial di masyarakat.

Di Perwosi, Fatma juga mendorong olahraga sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat sehat, khususnya perempuan dan anak-anak.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kiprah Fatma tidak hanya berkaitan dengan kegiatan sosial karitatif, tetapi juga mencakup pengorganisasian masyarakat dan pengembangan partisipasi perempuan.

Perhatian terhadap Penyandang Disabilitas

Kepedulian terhadap penyandang disabilitas menjadi bagian lain dari aktivitas sosial Fatma. Dalam perannya sebagai Penasihat I DWP Kementerian Sosial, ia terlibat dalam sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan rehabilitasi sosial, keterampilan, dan peningkatan kemandirian penerima manfaat.

Pada Februari 2025, Fatma menekankan pentingnya memahami bahasa isyarat untuk membangun komunikasi inklusif dengan penyandang disabilitas tuli.

“Bahasa isyarat ini merupakan jembatan komunikasi yang sangat penting bagi kita dengan teman tuli,” ujarnya dalam suatu kegiatan DWP Kementerian Sosial.

Pernyataan tersebut menempatkan komunikasi sebagai salah satu unsur penting dalam membangun kepedulian. Inklusi tidak cukup dilakukan melalui bantuan material, tetapi juga membutuhkan pemahaman terhadap kebutuhan dan cara berkomunikasi penyandang disabilitas.

Baca Juga  Muktamar NU 2026 Mulai Dipanaskan, Penunjukkan Gus Ipul Pimpin Panitia Inti Jadi Nilai Politis?

Pada Agustus 2025, Fatma juga mengunjungi Galeri Disabilitas dan UPT Galeri Disabilitas dan Karya Produktifku (Gadisku) di Jawa Timur. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari perhatian terhadap karya dan potensi penyandang disabilitas.

Dukungan terhadap produk hasil karya mereka dapat membuka ruang apresiasi sekaligus memperluas kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi dan sosial.

Keterlibatan dalam Kegiatan Kementerian Sosial

Sejak Gus Ipul menjabat Menteri Sosial pada September 2024, Fatma turut terlibat dalam sejumlah kegiatan sosial yang berhubungan dengan lingkungan Kementerian Sosial.

Pada Januari 2025, Kemensos mencatat kehadirannya sebagai Penasihat I DWP dalam kegiatan Aksi Peduli Sosial di Kota Serang.

Dalam kegiatan tersebut, Fatma mendampingi kunjungan ke layanan terapi dan pelatihan keterampilan bagi penerima manfaat. Layanan itu mencakup terapi okupasi, terapi wicara, dan fisioterapi untuk mendukung kemampuan fisik, kognitif, serta sosial penerima manfaat.

Fatma menjelaskan cakupan layanan tersebut dalam kegiatan yang melibatkan sejumlah organisasi perempuan.

“Ini adalah layanan-layanan yang ada di 31 Sentra seluruh Indonesia yang dimiliki oleh Kementerian Sosial, baik terapi maupun kegiatan keterampilan bagi penerima manfaat,” ujarnya.

Keterlibatan tersebut menunjukkan perhatiannya terhadap program rehabilitasi sosial yang mendorong penerima manfaat agar semakin mandiri. Namun, pelaksanaan layanan dan tanggung jawab program tetap berada pada Kementerian Sosial beserta unit kerja terkait.

Baca Juga  Zita Anjani ke Immawati: Perempuan Bisa Bergerak di Semua Ranah

Dari PKK hingga Pemberdayaan Keluarga

Ketika Gus Ipul menjabat Wali Kota Pasuruan, Fatma pernah menjalankan peran sebagai Ketua Tim Penggerak PKK dan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Pasuruan.

Melalui peran tersebut, ia terlibat dalam kegiatan pemberdayaan keluarga dan pengembangan potensi masyarakat. Pengalaman ini menjadi bagian dari perjalanan panjangnya di organisasi perempuan, sebelum kemudian aktif dalam kegiatan sosial yang berkaitan dengan Kementerian Sosial.

Fatma juga memiliki pengalaman di lingkungan organisasi perempuan Nahdlatul Ulama, termasuk kepengurusan Pimpinan Pusat Fatayat NU. Pengalaman berorganisasi tersebut melengkapi kiprahnya dalam isu sosial dan pemberdayaan perempuan.

Mengukur Kiprah dari Manfaat bagi Masyarakat

Fatma Saifullah Yusuf memiliki sejumlah pengalaman dalam organisasi perempuan dan kegiatan sosial. Pendirian Fatma Foundation, perhatian terhadap kesehatan perempuan, serta keterlibatannya dalam kegiatan inklusi disabilitas menjadi bagian dari rekam jejak tersebut.

Namun, ukuran keberhasilan kegiatan sosial bukan hanya banyaknya kunjungan atau bantuan yang disalurkan. Dampak yang lebih penting adalah sejauh mana program mampu memperluas akses layanan, meningkatkan kemandirian penerima manfaat, dan membuka kesempatan yang setara bagi kelompok rentan.

Karena itu, kiprah Fatma relevan dilihat melalui keberlanjutan program dan manfaat nyata yang dirasakan masyarakat, terutama perempuan dan penyandang disabilitas.