Keresahan Ahmad Muharrik Albirra dan Arah Gerakan Digital Pelajar Muhammadiyah

pelajar

MAKLUMAT — Ahmad Muharrik Albirra ingin pelajar Muhammadiyah mengambil peran lebih besar di ruang digital. Ketua Umum PD Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kabupaten Mojokerto periode 2026–2028 itu menilai pelajar perlu mengembangkan kemampuan mengolah informasi menjadi pengetahuan dan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pria yang akrab disapa Elbi itu melihat media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari pelajar. Mereka tumbuh bersama perangkat digital dan memperoleh informasi melalui berbagai platform. Perubahan tersebut, menurutnya, menuntut IPM menyesuaikan cara mendampingi pelajar agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

“Jangan sampai pelajar hanya menjadi konsumen informasi, sementara ruang digital justru lebih banyak dipenuhi oleh konten yang tidak memberikan nilai tambah. Saya ingin mendorong agar pelajar mampu hadir sebagai produsen pengetahuan dan gagasan,” ujarnya.

Gagasan itu menjadi salah satu perhatian Elbi setelah terpilih sebagai Ketua Umum PD IPM Mojokerto dalam Musyawarah Daerah (Musyda) pada 17–18 Oktober 2026. Ia ingin pelajar tidak sekadar mengikuti arus informasi di media sosial, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memahami, mengolah, dan menyebarkan gagasan secara kritis.

Membaca Perubahan Generasi Pelajar

Elbi menilai salah satu tantangan yang dihadapi IPM saat ini ialah kesenjangan generasi atau generation gap. Perbedaan lingkungan sosial, budaya, dan teknologi membuat pelajar masa kini memiliki kebiasaan yang tidak selalu sama dengan generasi sebelumnya.

Perubahan tersebut semakin terlihat ketika pelajar berhadapan dengan perkembangan teknologi digital. Generasi Alpha, misalnya, tumbuh ketika perangkat digital dan media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka mengenal informasi melalui pola interaksi yang berbeda dari generasi yang lebih dahulu mengalami proses perkaderan di IPM.

Bagi Elbi, kondisi tersebut mengharuskan organisasi mengevaluasi pendekatan yang digunakan untuk mendampingi pelajar. Organisasi tidak bisa terus mengandalkan cara komunikasi yang sama tanpa mempertimbangkan perubahan karakter generasi yang dihadapi.

“Tantangannya bukan sekadar bagaimana membuat pelajar tertarik mengikuti kegiatan organisasi, tetapi bagaimana kita menemukan pendekatan yang tepat agar nilai-nilai yang ingin kita tanamkan bisa diterima dan relevan dengan kehidupan mereka,” katanya.

Ia melihat perubahan itu bukan hanya persoalan menarik minat pelajar untuk bergabung dalam organisasi. IPM juga perlu memahami bagaimana pelajar belajar, membangun relasi, dan memaknai kegiatan organisasi. Pemahaman tersebut penting agar proses perkaderan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi mampu menjawab kebutuhan pelajar.

Baca Juga  Kiprah Mohammad Yuda Wahyu Saputra, Ketua Umum IPM Jatim Periode 2026–2028

Elbi ingin nilai-nilai yang menjadi dasar gerakan IPM tetap hadir dalam kehidupan generasi muda. Namun, penyampaiannya perlu mempertimbangkan cara mereka berkomunikasi dan memperoleh pengetahuan. Dengan begitu, organisasi dapat menjembatani nilai yang diwariskan dengan pengalaman sehari-hari pelajar.

Memahami Algoritma, Mengolah Pengetahuan

Selain kesenjangan generasi, Elbi menyoroti pengaruh algoritma media sosial terhadap kehidupan pelajar. Algoritma ikut menentukan informasi yang muncul di hadapan pengguna berdasarkan berbagai pola aktivitas digital. Akibatnya, informasi yang dikonsumsi pelajar tidak selalu mencerminkan keseluruhan persoalan yang sedang terjadi.

Menurut Elbi, pelajar perlu memiliki kemampuan untuk membaca situasi tersebut secara kritis. Mereka tidak cukup hanya mengetahui cara menggunakan media sosial, tetapi juga perlu memahami bagaimana informasi beredar dan bagaimana platform digital membentuk pengalaman mereka.

“Pelajar tidak cukup hanya diajak untuk menggunakan media sosial secara bijak. Mereka juga perlu memiliki kemampuan untuk memahami cara kerja media, membaca arus informasi secara kritis, dan memanfaatkan algoritma untuk menyebarkan gagasan serta nilai-nilai yang baik,” jelasnya.

Pandangan tersebut menempatkan literasi digital lebih jauh daripada sekadar imbauan untuk berhati-hati ketika mengakses internet. Pelajar perlu membangun kebiasaan memeriksa informasi, memahami konteks, dan mempertimbangkan dampak dari sesuatu yang mereka sebarkan. Kemampuan itu menjadi penting ketika media sosial juga menjadi ruang pertukaran pendapat dan pembentukan pandangan terhadap berbagai persoalan.

Elbi ingin pelajar Muhammadiyah memanfaatkan ruang digital untuk menyampaikan pengetahuan yang mereka peroleh melalui pendidikan, diskusi, dan aktivitas organisasi. Gagasan yang berkembang di lingkungan IPM, misalnya, dapat dikemas menjadi tulisan, video, atau bentuk konten lain yang sesuai dengan kebiasaan pengguna media sosial.

Dengan cara tersebut, proses belajar di organisasi tidak hanya berlangsung dalam forum pertemuan. Hasil diskusi dan pengkajian juga berpeluang menjangkau pelajar lain yang belum terlibat langsung dalam kegiatan IPM.

Menghubungkan Nilai Organisasi dengan Kehidupan Digital

Perhatian Elbi terhadap tradisi kajian tidak terlepas dari perjalanan organisasinya. Ia mulai mengenal IPM ketika menempuh pendidikan di MA Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Selama enam tahun menjalani pendidikan dan perkaderan di sana, ia mendapat kesempatan untuk mengenal organisasi sekaligus mengembangkan minat terhadap diskusi dan pengkajian.

Baca Juga  45 Persen Milenial Terjerat Pinjol, Bank Neo Commerce Gandeng UTM Gelar Literasi Keuangan Ajak Mahasiswa Waspadai Penipuan Digital

Pada periode 2022–2023, Elbi menjadi anggota Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan Pimpinan Ranting IPM Mu’allimin Yogyakarta. Pengalaman tersebut memperkenalkannya lebih dekat pada proses pertukaran gagasan dan pengembangan wawasan keilmuan. Setelah menyelesaikan pendidikan pada 2024, ia kembali berproses di Mojokerto.

Ia kemudian mengemban amanah sebagai Sekretaris Bidang Perkaderan PD IPM Mojokerto periode 2023–2025. Dalam posisi itu, ia belajar memahami dinamika pelajar di daerahnya sekaligus proses mendampingi kader agar dapat berkembang. Pengalaman tersebut memberinya gambaran mengenai tantangan organisasi dalam menjalankan perkaderan.

“Kalau ditanya apa titik balik yang paling membentuk cara berpikir saya hari ini, saya kira jawabannya adalah proses panjang ketika saya mulai memahami bahwa menjadi kader tidak cukup hanya dengan mewarisi nilai-nilai organisasi. Kita juga harus mampu memahami tantangan zaman dan menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam tindakan yang relevan,” tuturnya.

Setelah lulus dari Mu’allimin, Elbi melanjutkan studi di Program Studi Ilmu Falak, Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Sunan Ampel Surabaya. Bidang studi tersebut memperkenalkannya pada perhitungan dan fenomena astronomi dalam konteks ibadah. Selama kuliah, ketertarikannya juga berkembang ke persoalan hukum tata negara dan pemikiran politik Islam.

Ia turut aktif di bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan (RPK) PK IMM Leviathan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya. Aktivitas tersebut sejalan dengan perhatiannya terhadap pengembangan tradisi intelektual, budaya diskusi, dan upaya menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan sosial.

Bagi Elbi, pengetahuan perlu mendorong seseorang untuk memahami persoalan di sekitarnya dan menentukan tindakan yang relevan. Prinsip itu pula yang ingin ia bawa dalam melihat perkembangan media sosial. Ruang digital, dalam pandangannya, dapat menjadi tempat pelajar mengembangkan pengetahuan sekaligus menyampaikan nilai-nilai yang mereka yakini.

Memperkuat Perkaderan dari Akar Rumput

Gagasan mengenai peran pelajar di ruang digital menjadi bagian dari harapan Elbi terhadap arah gerakan IPM Mojokerto. Namun, ia juga menaruh perhatian pada penguatan organisasi di tingkat pimpinan cabang dan ranting. Menurutnya, kedua tingkatan tersebut menjadi ruang awal bagi pelajar untuk mengenal dan menjalani proses perkaderan.

Baca Juga  Ketua Umum PP IPM Ajak Kader Bangun Algoritma Pelajar sebagai Pilar Utama Arah Baru IPM

Elbi menilai PD IPM Mojokerto perlu memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan pimpinan di bawahnya. Pimpinan daerah tidak cukup hanya menyusun agenda dan memberikan arahan. Mereka juga perlu mendampingi cabang dan ranting dalam menghadapi persoalan yang muncul di lingkungan masing-masing.

Karena itu, ia mendorong penguatan perkaderan melalui pelatihan ideologi, peningkatan kapasitas kader, dan pendampingan berkelanjutan. Pelatihan perlu memiliki tindak lanjut agar pengetahuan yang diperoleh kader tidak berhenti setelah kegiatan selesai.

“Kita tidak bisa hanya berharap kader akan berkembang setelah mengikuti satu atau dua kegiatan. Perlu ada proses lanjutan untuk memastikan bahwa apa yang mereka dapatkan benar-benar dipahami, dipraktikkan, dan dikembangkan,” ujarnya.

Pendampingan tersebut dapat menjadi ruang bagi kader untuk mendiskusikan persoalan yang mereka hadapi, berkonsultasi, dan mengembangkan kegiatan sesuai kebutuhan. Dalam konteks perubahan generasi, pendekatan ini juga membuka kesempatan bagi pimpinan cabang dan ranting untuk menyampaikan pengalaman mereka ketika berinteraksi langsung dengan pelajar.

Bagi Elbi, upaya memperkuat perkaderan dan mengembangkan kemampuan digital pelajar perlu berjalan beriringan. Organisasi membutuhkan kader yang memahami nilai-nilai gerakan sekaligus mampu menyampaikan gagasan melalui medium yang dekat dengan kehidupan generasi muda.

Ia ingin IPM Mojokerto menjadi ruang bagi pelajar untuk belajar dan mengambil peran dalam masyarakat. Peran tersebut tidak harus selalu dimulai melalui kegiatan besar. Pelajar dapat memulainya dengan membangun kebiasaan membaca, mendiskusikan persoalan di lingkungan sekitar, lalu membagikan hasil pemikirannya melalui media yang mereka gunakan sehari-hari.

Pada akhirnya, Elbi ingin nilai-nilai yang dipelajari kader di ruang perkaderan dapat menjangkau lebih banyak orang melalui tindakan nyata, termasuk melalui aktivitas di ruang digital. “Bagi saya, pengetahuan harus melahirkan kesadaran, dan kesadaran harus mendorong tindakan yang bermanfaat bagi orang lain,” pungkasnya.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki