MAKLUMAT — Kader Tapak Suci Pimda 072 Kota Probolinggo, Izza Nur Qoriroh Umamy, berhasil meraih dua medali emas dalam ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA) DIY 2026, yang berlangsung pada 18-20 Oktober 2026 lalu.
Mahasiswi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta itu meraih prestasi pada kategori Solo Kreatif Tangan Kosong Putri dan Regu Putri. Prestasi tersebut menjadi pencapaian membanggakan bagi Izza selama menempuh pendidikan tinggi di perantauan.
Izza merupakan mahasiswi semester lima Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi, UAD Yogyakarta. Di tengah aktivitas akademiknya, ia tetap aktif mengembangkan kemampuan pencak silat melalui kegiatan Tapak Suci di lingkungan kampus.
Selama berada di Yogyakarta, Izza mengikuti pembinaan bersama pelatih Tapak Suci UAD dan Pimda 1 Kota Yogyakarta. Ia diarahkan untuk mengembangkan kemampuan pada kategori seni pencak silat, mulai dari seni tunggal, ganda berpasangan, hingga beregu.
Latihan terjadwal dan berkelanjutan menjadi bagian dari proses pembinaannya. Pendampingan para pelatih juga membantu meningkatkan kemampuan teknik, kedisiplinan, serta kesiapan menghadapi berbagai kejuaraan.
Rekam Jejak Prestasi di Kejuaraan Dunia
Prestasi Izza tidak hanya tercatat pada tingkat daerah. Dalam Kejuaraan Dunia Tapak Suci II yang berlangsung di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, pada 31 Juli-3 Agustus 2025 silam, ia berhasil meraih dua medali bersama kontingen Tapak Suci UAD Yogyakarta.
Pada kejuaraan tersebut, Izza meraih juara I kategori Regu Bersenjata dan juara III kategori Ganda Bersenjata.
Sebelum melanjutkan pendidikan ke Yogyakarta melalui jalur beasiswa, Izza juga telah mengikuti berbagai kejuaraan pencak silat di Kota Probolinggo. Pengalamannya mencakup kompetisi antarkader Tapak Suci maupun antarperguruan pencak silat yang tergabung dalam Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), mulai tingkat kabupaten, kota, provinsi, hingga nasional.
Capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan Izza dalam mengembangkan kemampuan pencak silat sekaligus menjalani pendidikan formal.
Dukungan Keluarga dan Para Pelatih
Di balik prestasi yang diraih, Izza menyampaikan rasa syukur kepada keluarga, guru, dan para pelatih yang telah mendampinginya sejak awal berlatih Tapak Suci di Kota Probolinggo.
Medali yang diperolehnya dipersembahkan kepada kedua orang tua, kakak kandung, para guru, serta pelatih yang selama ini memberikan dukungan dan bimbingan.
Salah satu sosok yang berperan dalam perjalanan pencak silatnya adalah sang kakak, Izzul Fikri Arif Tamamy. Selain sebagai kakak, Izzul juga merupakan pelatih Tapak Suci yang memiliki pengalaman dan prestasi dalam kategori seni maupun tanding.
Izza banyak belajar dari arahan dan teknik latihan yang diberikan kakaknya. Baginya, Izzul tidak hanya menjadi bagian dari keluarga, tetapi juga sosok yang memberikan teladan dan turut membentuk kemampuan serta mentalitasnya sebagai atlet sebelum melanjutkan pendidikan ke Yogyakarta.
Dukungan nyata juga diberikan Ketua Pimda 072 Tapak Suci Kota Probolinggo, Dr KH Moh Nurhasan SH MHum PUa. Melalui motivasi, pembinaan, serta penguatan mental dan spiritual, ia turut memberikan dukungan terhadap perkembangan Izza.
Bagi Izza, keberhasilan yang diraih bukan semata-mata hasil perjuangan pribadi. Doa orang tua, dukungan keluarga, serta bimbingan para pelatih menjadi bagian penting dalam perjalanan prestasinya.
Ia berharap ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama berlatih dapat memberikan manfaat bagi dirinya, keluarga, dan masyarakat. Ia juga berharap bimbingan dari orang tua, kakak, guru, serta para pelatih menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
Ke depan, Izza berkomitmen untuk terus belajar dan berlatih guna mengembangkan kemampuannya. Ia juga ingin menjaga kepercayaan keluarga dan para pelatih dengan tetap mengedepankan kedisiplinan, tanggung jawab, serta kerendahan hati.
Prestasi yang diraih Izza menjadi gambaran bahwa aktivitas pendidikan dan pengembangan kemampuan nonakademik dapat berjalan beriringan.
Bagi kader Tapak Suci tersebut, setiap medali bukan sekadar simbol kemenangan, tetapi juga pengingat atas doa, pengorbanan, dan dukungan orang-orang yang telah mengiringi perjalanannya.***
*) Penulis: Siti Umaimah, M.Pd.












