PCIM Iran Jajaki Peluang Beasiswa Pendidikan Vokasional bagi Mahasiswa Indonesia

Suasana pertemuan penjajakan kerja sama pendidikan antara kader PCIM Iran dan perwakilan Moaseseh Jazab di Tehran, Iran, Ahad (1/11/2026). Foto: Dok. PCIM Iran

MAKLUMAT — Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Iran menjajaki peluang kerja sama pendidikan dengan lembaga perekrutan mahasiswa asing Moaseseh Jazab Daneshju-ye Bayn-ol Melali Shokouh-e ‘Elm-o Tamaddon. Penjajakan ini membuka kemungkinan pemberian beasiswa bagi mahasiswa Indonesia untuk menempuh pendidikan ilmu terapan dan vokasional di Iran.

Pertemuan berlangsung pada Ahad (1/11/2026) di kantor Moaseseh Jazab, kawasan utara Kota Tehran. Empat kader PCIM Iran, yakni Agiel Laksamana Putra dan Hisam Sidqi dari Bidang Eksternal, Muhammad Taqi Askari, serta Arafah Pramasto dari Bidang Kebudayaan, menghadiri pertemuan tersebut.

Moaseseh Jazab merupakan lembaga resmi yang memiliki izin dari Kementerian Pendidikan Iran (Wezarat-e ‘Uloom) untuk merekrut dan menjaring mahasiswa asing yang ingin melanjutkan pendidikan di negara tersebut.

Dalam pertemuan itu, kader PCIM Iran memperkenalkan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam reformis yang telah berdiri sebelum Indonesia merdeka. Agiel Laksamana Putra menjelaskan bahwa Muhammadiyah memiliki jaringan amal usaha yang luas, terutama di bidang pendidikan dan kesehatan. Persyarikatan juga mengelola ratusan perguruan tinggi di Indonesia serta memiliki perguruan tinggi di luar negeri, seperti Universitas Muhammadiyah Malaysia.

Direktur Moaseseh Jazab, Alireza Tavassoli, menjelaskan bahwa Iran memiliki berbagai lembaga pendidikan yang mengembangkan ilmu terapan dan keterampilan vokasional. Bidang yang ditawarkan berkaitan dengan kebutuhan dunia kerja, mulai dari industri kayu, elevator dan eskalator, hingga musik dan seni bahasa.

Baca Juga  Mengenal 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang Dicanangkan Mendikdasmen Abdul Mu'ti

“Berbagai bidang tersebut diajarkan melalui sekitar 450 institusi pendidikan berbentuk Markaz-e Amuzesh atau pusat pendidikan setara sekolah tinggi, serta universitas yang tersebar di seluruh Iran,” demikian penjelasan Tavassoli sebagaimana disampaikan dalam pertemuan tersebut.

Salah satu bidang pendidikan yang menarik perhatian ialah ilmu pemadam kebakaran. Program ini dapat ditempuh selama dua tahun dengan jenjang diploma dua (D2). Iran bahkan memiliki gedung setinggi 16 lantai yang digunakan sebagai fasilitas simulasi pemadaman kebakaran.

Tavassoli menyampaikan bahwa lembaganya melihat peluang kerja sama pendidikan dengan Muhammadiyah. Salah satu kemungkinan yang dibicarakan ialah pemberian beasiswa bagi mahasiswa Indonesia yang ingin mempelajari sejumlah bidang ilmu terapan di Iran. Kedua pihak juga membahas pertukaran mahasiswa dan pengajar serta penyelenggaraan kegiatan ilmiah dan kebudayaan.

Penjajakan tersebut berlanjut dengan kunjungan ke University of Applied Science and Technology. Tavassoli mendampingi kader PCIM Iran untuk bertemu dengan Bagheri, kepala bidang ilmiah universitas tersebut.

Bagheri menerangkan bahwa lulusan University of Applied Science and Technology telah bekerja di berbagai sektor dan perusahaan di Iran. Program pendidikan di universitas tersebut tidak terbatas pada teknologi dan industri. Sejumlah bidang lain seperti seni lukis, desain, olahraga, dan penyelenggaraan acara juga menjadi bagian dari program pembelajaran.

Baca Juga  Nazaruddin Malik: Kerja Pemberdayaan Membutuhkan Akses Politik

Dalam pertemuan itu, Bagheri menyampaikan ketertarikannya untuk mengenal Muhammadiyah lebih jauh, termasuk struktur organisasi, visi, dan misinya. Pembicaraan mengenai peluang beasiswa bagi mahasiswa Indonesia juga kembali mengemuka.

Kedua pihak menilai kerja sama dapat dimulai melalui kegiatan yang lebih memungkinkan untuk dilaksanakan dalam waktu dekat. Beberapa di antaranya ialah penyelenggaraan Summer School, seminar, dan webinar. Dalam jangka panjang, mereka juga membuka kemungkinan kolaborasi penelitian ilmiah dan kerja sama di bidang industri.

Agiel menjelaskan bahwa pertemuan lanjutan akan membahas bidang-bidang yang menjadi prioritas kerja sama sebelum kedua lembaga menyepakati nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU). “Pertemuan-pertemuan berikutnya akan ditekankan untuk menentukan prioritas bidang-bidang kerja sama dalam bentuk MoU,” jelasnya.

 

*) Penulis: M Habib Muzaki