MAKLUMAT — Gerakan aksi unjuk rasa yang digerakkan oleh suporter sepak bola di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menarik untuk disimak. Kemunculan warna biru, hijau, dan merah, menjadi signifikansi penting. Pergerakan suporter yang peduli terhadap isu kewargaan bukanlah fenomena yang tiba-tiba muncul. Meningkatnya literasi suporter sepak bola, telah menjadi motor dalam aksi. Zine, adalah salah satu dari beragam fenomena literasi suporter sepak bola.
Penerbitan zine oleh suporter sepak bola mulanya adalah resistensi terhadap stigma buruk yang dilekatkan kepada suporter sepak bola oleh media arus utama. Suporter sepak bola di Indonesia menjadi santapan empuk media arus utama saat terjadi kekerasan yang berkaitan dengan sepak bola.
Tidak bisa disangkal jika suporter sepak bola terlibat dalam kekerasan, namun melekatkan keseluruhan penyebab kekerasan pada suporter adalah tidak bijaksana.
Ada faktor lain yang menyebabkan terjadinya kekerasan sepak bola, seperti buruknya tata kelola pertandingan sepak bola. Namun, media arus utama lebih memilih untuk menarasikan suporter sepak bola sebagai pelaku kekerasan yang melibatkan sepakbola. Berhadapan dengan stigma negatif, suporter sepak bola menerbitkan media mereka sendiri.
Dengan semangat do-it-yourself (DIY), terbitlah berbagai media berbasis komunitas suporter sepak bola. Kemajuan teknologi digital, semakin memudahkan publikasi. Blog, podcast, dan media sosial menjadi platform yang populer. Sebelum media digital muncul sebagai alternatif media bagi suporter, media yang dikelola dengan pola DIY, dalam format cetak telah muncul.
Zine adalah media cetak alternatif yang menjadi cikal bakal berbagai format media alternatif yang kini ada. Di tengah kemajuan teknologi digital, zine sepak bola bisa dipahami sebagai publikasi independen dan akar rumput yang dibuat oleh para suporter sendiri, di luar media arus utama, dan saluran resmi klub.
Ada beberapa zine yang terbit di Kawawan Yogyakarta, salah satunya Matchgazine, yang diproduksi oleh komunitas Bawahskor untuk mendukung PSIM Yogyakarta. Zine ini rutin dibagikan secara gratis di setiap laga kandang Laskar Mataram. Aktivasi yang menarik adalah menukar zine dengan botol plastik bekas. Selain Matchgazine, ada beberapa zine yang pernah terbit di kalangan suporter PSIM Yogyakarta, di antaranya Fortuna, dan Kabar Mataram. Di Sleman, ada 976 Zine, Match Companion yang terkait dengan suporter PSS Sleman. Di Bantul, kolektif Medioker Power menerbitkan Warta Tribun.
Yang menarik adalah munculnya kolaborasi antarkomunitas fans sepak bola yang melibatkan suporter PSIM Yogyakarta, dan PSS Sleman. Adalah BigCity 173 dan Jakal Unite yang merilis zine berjudul Football as Resistance. Zine ini dibagikan secara gratis di dua acara. Dari sisi BigCity 173, pembagian dilakukan pada pertandingan PSIM Jogja versus Borneo FC, Minggu 1 November 2026. Sementara Jakal Unite membagikannya pada laga PSS Sleman versus Bhayangkara FC.
Zine yang diterbitkan oleh komunitas suporter sepak bola adalah bentuk paling nyata dari apa yang disebut Adela C. Licona sebagai third space. Adela C. Licona, dalam bukunya yang berjudul Zines in Third Space: Radical Cooperation and Borderlands Rhetoric (2012) menggambarkan zine sebagai situs borderlands rhetorics. Borderlands rhetorics adalah ruang di mana suara yang biasanya terpinggirkan membangun pengetahuan alternatif, menantang representasi dominan, dan merajut jejaring melalui produksi mandiri.
Di tribun stadion, zine berfungsi persis seperti itu. Dari lembaran kertas itu tumbuh kesadaran kolektif. Zine bergerak sebagai media literasi, bukan sekadar dokumentasi pertandingan. Melalui zine, suporter sepak bola membingkai pengalamannya tentang sepak bola. Lebih dari sekadar pengalaman menonton sepak bola, juga menyuarakan suara terpinggirkan. Stigma suporter sebagai aktor tunggal kekerasan yang melekat pada sepak bola, sebagaimana sering dinarasikan oleh media arus utama, dilawan melalui zine.
Penerbitan zine berkelindan dengan maraknya diskusi suporter sepak bola. Ruang diskusi yang mulanya terjadi di angkringan dan kedai kopi secara informal, bergerak menjadi diskusi yang lebih terorganisir. Yang lebih menarik, diskusi yang mulanya hanya melibatkan suporter dari satu klub sepak bola, berkembang menjadi diskusi yang melibatkan suporter lintas klub sepakbola. Fenomena yang sejalan dengan penerbitan zine melibatkan antar komunitas suporter dari dari satu klub sepak bola. Zine adalah permata literasi bagi suporter sepak bola.***











