MAKLUMAT — Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Prof Dr Nazaruddin Malik SE MSi menekankan pentingnya gerakan pemberdayaan masyarakat yang berorientasi pada perubahan nyata.
Menurutnya, Islam tidak cukup dipahami sebagai ajaran spiritual, tetapi harus diwujudkan melalui praksis sosial yang mendorong kemajuan, kemandirian, dan keadilan masyarakat.
Hal itu ia sampaikan ketika memberikan sambutan dalam Pengukuhan Jamaah Nelayan Muhammadiyah (JALAMU) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, pada Sabtu (7/11/2026).
Ia menilai, gerakan pemberdayaan harus menjadi bagian konkret dari implementasi Islam Berkemajuan di tengah perubahan sosial dan teknologi yang berlangsung cepat.
“Islam tidak berhenti pada level spiritualitas belaka, tetapi harus ada gerakan nyata untuk mempraktikkan Islam sebagai din al-hadharah, agama peradaban di tengah perubahan yang sangat cepat ini, maka ber-fastabiqul khairat itu harus menemukan bentuk konkretnya,” ujarnya.
Menurut Nazaruddin, Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) sebagai majelis yang menaungi JALAMU, memiliki peran strategis dalam menerjemahkan cita-cita Islam Berkemajuan melalui upaya mengubah kondisi masyarakat yang masih bergantung pada pihak lain menjadi masyarakat yang mandiri dan berdaya.
“Majelis Pemberdayaan Masyarakat ini termasuk baru di lingkungan Muhammadiyah, maka sebenarnya kita ingin membawa misi Islam berkemajuan itu di dalam melakukan empowerment, bagaimana caranya kita mengubah kondisi umat yang masih sebagian besar berada pada titik ketergantungan tertentu menuju pada umat yang penuh dengan kekuatan dan kemandirian, yang kita sebut sebagai masyarakat yang memiliki kemajuan, masyarakat Islam berkemajuan, ada kesejahteraan, dan berkeadilan sosial,” katanya.
Pemberdayaan, menurut dia, merupakan bagian dari upaya menghadirkan praktik keagamaan yang memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat. Dengan demikian, dakwah tidak berhenti pada penyampaian nilai dan ajaran, tetapi juga menghasilkan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan.
Nazaruddin mengingatkan bahwa cakupan pemberdayaan sangat luas, mulai dari pendidikan, hukum, sosial, hingga ekonomi. Karena itu, diperlukan sinergi erat antarmajelis di lingkungan Muhammadiyah agar berbagai program pemberdayaan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Menurutnya, belum optimalnya koordinasi antarmajelis berpotensi membuat gerakan pemberdayaan kehilangan keterpaduan. Bahkan, pemberdayaan terkadang hanya dipahami sebagai upaya meningkatkan kemajuan ekonomi, padahal persoalan masyarakat membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh.
“Nah ini sebenarnya PR besar kita, antarmajelis ini kan sepertinya tidak ada forum khusus bagaimana menjaga irisan itu sehingga bisa saja gerakan pemberdayaan itu seolah-olah tunggal menjadi fokus pada kemajuan ekonomi,” sorotnya.
JALAMU dan Penguatan Penguasaan Teknologi
Secara khusus, Nazaruddin menyoroti pengembangan JALAMU sebagai bagian dari gerakan pemberdayaan masyarakat pesisir. Menurutnya, pemberdayaan nelayan tidak cukup hanya dilakukan melalui penguatan organisasi dan bantuan ekonomi, tetapi juga harus menyentuh peningkatan kapasitas teknologi.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kemampuan nelayan dalam menguasai teknologi navigasi dan informasi. Penguasaan teknologi tersebut dinilai dapat meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan produktivitas kegiatan perikanan.
“Maka ini berarti mereka harus bersinergi dengan AUM-AUM pendidikan Muhammadiyah yang memiliki kemampuan penguasaan teknologi dan navigasi dan informasi yang digunakan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi, atau lebih khusus lagi produktivitas di sektor nelayan,” jelasnya.
Untuk mewujudkan hal itu, ia mendorong keterlibatan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA) yang memiliki program studi atau keahlian di bidang perikanan, yang diharapkan dapat membangun kerja sama dengan jaringan nelayan sehingga proses pemberdayaan memiliki arah, skenario, dan target yang jelas.
Selain penguasaan teknologi, Nazaruddin juga menyoroti tantangan kedaulatan pangan yang berbasis pada peningkatan kualitas gizi masyarakat melalui pemanfaatan hasil perikanan.
Ia menilai, pengembangan sektor perikanan perlu melibatkan pengusaha agar potensi ekonomi yang dimiliki masyarakat nelayan dapat berkembang menjadi kegiatan usaha yang lebih produktif.
“Kalau kita berbicara JALAMU, kita yang utama adalah memberdayakan nelayan, tapi jangan lupa kita juga harus menguasai usaha di sektor perikanan dengan melahirkan pemimpin-pemimpin dan pengusaha baru di sektor itu,” kata sosok yang juga Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu.
Menurutnya, penguasaan usaha di sektor perikanan penting untuk mengatasi ketimpangan akses terhadap modal. Tanpa upaya melahirkan pelaku usaha baru dari kalangan masyarakat nelayan, aliran modal dikhawatirkan tetap terkonsentrasi pada kelompok yang telah memiliki kelebihan sumber daya ekonomi.
“Kalau tidak, maka selamanya akan terjadi ketimpangan aliran modal antara yang berkelebihan dan yang kekurangan, akan terjadi kemacetan. Ini tantangan baru yang menurut saya sangat penting untuk kita perhatikan,” tegasnya.
Nazaruddin juga menekankan pentingnya modernisasi alat tangkap serta keterlibatan perguruan tinggi Muhammadiyah dalam mendukung peningkatan kapasitas nelayan. Menurutnya, potensi keilmuan dan teknologi yang dimiliki kampus perlu dihubungkan secara langsung dengan kebutuhan masyarakat pesisir.
“Apakah kampus-kampus Muhammadiyah yang memiliki studi tentang perikanan bisa berkohesi dengan baik dengan jaringan nelayan kita ini, agar terjadi proses empowering atau pemberdayaan yang berskenario dan memiliki target,” tandas Nazaruddin.
Dakwah Harus Berujung pada Aksi Nyata
Lebih jauh, Nazaruddin mengingatkan agar gerakan Muhammadiyah tidak terjebak pada banyaknya kegiatan tanpa ukuran keberhasilan yang jelas. Ia mendorong setiap program pemberdayaan memiliki target sehingga dampaknya dapat dievaluasi secara terukur.
Menurutnya, aktivitas dakwah dan pendidikan perlu diarahkan pada peningkatan kemampuan berpikir yang menghasilkan tindakan nyata. Pengetahuan yang diperoleh tidak seharusnya berhenti pada kemampuan menghafal, tetapi harus mendorong lahirnya aksi dan praktik dalam kehidupan masyarakat.
“Belakangan kita ini selalu banyak kegiatan tapi gak ada target, ya kan tidak terukur, walaupun di sebagian besar gerakan dakwah itu memang kesannya tidak bertarget,” sorotnya.
Ia mengajak warga Muhammadiyah meningkatkan kualitas gerakan dengan menghubungkan proses belajar dan penguasaan pengetahuan dengan tindakan nyata.
“Maka kita harus meningkatkan level lagi. Kalau selama ini kita itu rajin belajar menghafal, sekarang harus lebih dalam lagi dari sekedar menghafal. Menghafal itu adalah level terendah dari kemampuan berpikir manusia, tetapi yang harus diasah itu adalah bagaimana setelah kita menghafal itu, kita tergerak untuk melakukan aksi atau praksisnya,” pesannya.
Menurut Nazaruddin, pemberdayaan merupakan salah satu jalan untuk mewujudkan cita-cita masyarakat sejahtera atau khairu ummah. Sebab itu, gerakan tersebut perlu dibangun dengan memperkuat kepekaan dan solidaritas sosial.
“Memang idealisme yang harus kita bangun, mohon maaf, tidak terus terukur, tapi saya menginginkan, saya berharap besar pada Muhammadiyah dari pilar ketiga Islam Berkemajuan, yaitu menjaga social empathy, menjaga kepekaan sosial, membangun solidaritas sosial,” tandas Nazaruddin.
Pengembangan JALAMU diharapkan tidak hanya memperkuat kelembagaan nelayan, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi antara masyarakat pesisir, perguruan tinggi, dan pelaku usaha. Ia menegaskan, sinergi tersebut sangat diperlukan agar pemberdayaan menghasilkan peningkatan kapasitas, penguasaan teknologi, kemandirian ekonomi, serta kesejahteraan masyarakat nelayan.












