Adil Sejak dalam Kepala: Ketika Amigdala Mengambil Kemudi Pikiran

amigdala

MAKLUMAT — Di era media sosial ini, sebuah reaksi sering kali mendahului refleksi. Cuplikan video tentang pembubaran diskusi publik di kampus ternama, misalnya, langsung mencuatkan berbagai opini pada kolom komentar. Opini itu pun ngaco tidaknya tergantung keberpihakan masing-masing.

Ironinya jika demikian, opini kita disetir oleh cuplikan konten. Lebih lagi kontennya mengandung bias keberpihakan serta muslihat tertentu. Misal pada contoh di atas itu, pendukung yang kontra akan menghina habis-habisan tanpa melihat kemungkinan-kemungkinan yang lain. Inilah yang disebut ruang gema (echo chamber).

Kita akhirnya tidak bisa berpikir analitis dan komprehensif. Karena sudut pandang kita dibatasi oleh algoritma dan selanjutnya, algoritma itu mengambil kemudi pikiran kita. Kesimpulannya selalu berakhir hitam atau putih. Jika tidak A maka Z.

Itulah yang terjadi agaknya di pelbagai sendi-sendi kehidupan saat ini, tak terkecuali dalam organisasi mahasiswa. Dalam konteks perjuangan hak masyarakat sipil, misalnya, mahasiswa yang ikut aksi mungkin menilai temannya yang tidak ikut sebagai sikap apatis. Atau sebaliknya, yang tidak ikut aksi menilai bahwa aksi itu tidak murni dan telah ditunggangi.

Contoh lain, misalnya, peristiwa aktual PC IMM Surabaya yang menghadiri undangan HUT Bhayangkara ke-80. Sontak itu memunculkan opini-opini yang berseliweran di akar rumput. Mayoritas opini itu tidak setuju. Alasannya karena dinilai mencederai independensi gerakan. Terlebih lagi persepsi masyarakat terhadap institusi negara saat ini sangat negatif. Sehingga khawatir juga terkena aromanya.

Baca Juga  PC IMM Surabaya Resmi Dilantik, Serukan Penolakan Reklamasi untuk PSN SWL

Bagi saya, apakah itu otomatis mencederai independensi gerakan? Tentu jawabannya bisa diamati pasca acara. Jika dikatakan bagaimana dengan persepsi masyarakat atas itu? Maka tentu itulah permasalahannya saat ini.

Amigdala Sebelum Neokorteks

Opini reaktif akar rumput di atas lumrah jika dijelaskan dengan cara kerja otak manusia. Goleman dalam Emotional Intelligence (1995) menjelaskan bahwa peristiwa semacam itu adalah suatu pembajakan otak emosi (amigdala). Proses di mana otak emosi bekerja lebih dulu daripada otak akal (neokorteks). Sehingga yang terjadi adalah sikap reaktif bukan reflektif.

Amigdala adalah struktur otak yang menjadi pusat pemrosesan emosi, seperti rasa takut, respons terhadap ancaman, dan memori emosional. Ia bagaikan alarm yang siap siaga terhadap segala ancaman. Adapun neokorteks merupakan struktur otak dengan fungsi kognitif seperti berpikir atau menalar.

Cara kerjanya begini: pengalaman inderawi mengirimkan sinyal ke talamus (struktur otak yang bekerja bagai kantor pos). Kemudian dikirim ke neokorteks untuk diproses, dikenali serta dipahami menurut objek dan artinya masing-masing. Barulah dari situ ke amigdala.

Namun, sinyal dari talamus bisa saja langsung ke amigdala tanpa melalui pemrosesan dari neokorteks. Kondisi ini sering kali terjadi ketika seseorang dalam kondisi takut atau sedang dalam ancaman. Sehingga amigdala langsung memberikan respons impulsif. Inilah yang disebut dengan pembajakan amigdala.

Amigdala sangatlah penting bagi kelangsungan hidup manusia. Boleh dikatakan bahwa manusia yang eksis hingga saat ini tidak lain karena peran amigdala. Hal ini dikarenakan amigdala-lah yang memberikan alarm kepada manusia jika dirinya sedang dalam bahaya.

Baca Juga  IMM Surabaya dan FM3 Serahkan Risalah Penolakan Reklamasi, Gubernur Khofifah Belum Tentukan Sikap

Demikianlah juga agaknya pada kasus PC IMM Surabaya itu. “Bermesraan” dengan aparat ataupun instansi negara sepertinya dianggap sebagai ancaman oleh akar rumput bagi kelangsungan organisasi. Jika ancaman di zaman para pengepul dan pemburu dahulu adalah binatang buas ataupun suku lain, maka ancaman saat ini agaknya adalah reputasi.

Itu juga sangat penting bagi kelangsungan organisasi mahasiswa saat ini. Reputasi negatif gerakan mahasiswa saat ini menghadapi persoalan kepercayaan masyarakat. Peristiwa demonstrasi yang ditunggangi; demonstrasi sebagai batu loncatan; sangat jamak diketahui—jika tidak dipercaya— oleh masyarakat. Hal itu diperburuk lagi dengan persepsi negatif masyarakat kepada pemerintah.

Karena itu, wajar jika akar rumput merasa “terancam” karena dengan itu mengganggu eksistensi dan esensi organisasi mahasiswa. Itulah juga agaknya yang melatarbelakangi opini-opini reaktif para kader akar rumput.

Pentingnya Sikap Ketengah-tengahan

“Saya cenderung ada di titik tengah yang tegang. Ketegangan itu penting,” kata Guru Besar Filsafat Universitas Pelita Harapan, Budi Hardiman dalam suatu kesempatan. Pernyataan itu diucapkan dalam siniar bersama Bagus Mulyadi ketika membahas “Adab – Ilmu”. Lebih dulu mana antara keduanya.

Dewasa ini sikap ketengah-tengahan itu sangat penting. “Moderat” sebagai prinsip itu tidak berarti menunjukkan sikap ambigu ataupun plin-plan. Sebaliknya, itu adalah kerendahan diri dalam menghadapi kompleksitas dinamika kehidupan. Itulah agaknya yang disebut dengan intellectual humility (kerendahan intelektual).

Baca Juga  IMM Geruduk Polrestabes Surabaya, Serukan Darurat Keamanan dan Netralitas Kepolisian Kawal Polemik Reklamasi

Misal ketika dikatakan “Wahabi”, sontak langsung yang dipikirkan adalah sesat di dalam kepalanya. Padahal bisa jadi ada ruang yang bisa kita istifadah dari mereka. Bersungguh-sungguh dalam menaati perintah Kalam Allah, misalnya. Begitu pun juga kiranya dalam peristiwa “PC IMM Surabaya” itu.

Sikap berpikir “ekstrem” demikian sangat memungkinkan pelakunya menutup pandang pada detail-detail kecil di sekitarnya. Mata kuda istilahnya. Itu pun juga yang membuat pelakunya sering kali tidak “adil” dalam menyikapi persoalan.

Jika kata Jean Marais kepada Minke dalam novel Bumi Manusia: Sebagai terpelajar, kau harus berlaku adil sejak dalam kepala, Minke. Kalimat itu diucapkan ketika menyinggung sosok gundik yang selalu dilabeli negatif oleh warga setempat.

Sikap ekstrem itu juga mendorong kita berlaku reaktif dalam menyikapi pelbagai persoalan alih-alih reflektif. Kondisi sebagaimana ketika amigdala mengambil alih pikiran kita. Saat kita belum mendapatkan informasi yang komprehensif dan valid, namun telah menyimpulkan dengan tergesa-gesa.

Kemampuan untuk berlaku sebaliknya, berpikir reflektif, umpama kemewahan di dunia saat ini terutama bagi mahasiswa. Kehidupan sosio-ekonomi-politik yang kompleks dewasa ini mesti dihadapi dengan bijak dengan memberikan jeda sebelum melangkah.

Mungkin akan terdengar naif di satu sisi. Akan tetapi itu layaknya memberikan waktu yang cukup kepada neokorteks untuk memproses dan mencerna segala informasi di sekitarnya. Sehingga kesimpulan yang dibuat telah melalui proses kognitif yang sejatinya.

 

*) Penulis: Iskandar Dzulkarnain