MAKLUMAT — Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas menilai bahwa perkembangan ekonomi Tiongkok dalam beberapa dekade terakhir dinilai dapat menjadi salah satu pembelajaran bagi Indonesia, khususnya dalam membangun kekuatan ekonomi dan dunia usaha.
“Kita harus belajar dari China. Lima puluh tahun yang lalu, China belum menjadi apa-apa. Tetapi hari ini, China telah menjadi kekuatan besar ekonomi dunia. Kita berharap Indonesia akan bisa menyusul,” ujarnya, dalam pers rilis yang diterima Maklumat.id pada Rabu (23/9/2026).
Sementara itu, Fata Zaki, salah seorang peserta Business Trip SUMU-Tiongkok pada Agustus 2026 lalu, turut membagikan pandangannya mengenai pengalaman mempelajari ekosistem bisnis dan teknologi di Tiongkok.
Pesan tersebut kemudian menjadi salah satu landasan bagi Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) dalam mendorong pelaku usaha Muhammadiyah menjadikan Tiongkok sebagai salah satu sumber pembelajaran mengenai pembangunan ekosistem ekonomi dan bisnis.
Belajar dari Ekosistem Bisnis Tiongkok
Sebagai bagian dari upaya tersebut, SUMU menggelar Open Trip Bisnis Indonesia-Tiongkok dengan tujuan utama Kota Yiwu, Provinsi Zhejiang, Tiongkok. Sebanyak 52 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti perjalanan tersebut dan tiba di Yiwu pada Agustus 2026.
Kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan sebagai kunjungan bisnis. Sejumlah peluang yang dijajaki peserta kemudian berkembang menjadi kerja sama, antara lain di sektor karbon aktif atau briket arang, serta mesin produksi knalpot untuk asosiasi pengrajin knalpot di Purbalingga.
Sejumlah peluang kolaborasi lainnya juga dijajaki dalam rangkaian perjalanan tersebut. Kegiatan ini sekaligus membuka akses bagi pengusaha Indonesia untuk menemukan mitra potensial dari ekosistem industri di Tiongkok.
Fata Zaki mengatakan, salah satu hal yang dapat dipelajari pengusaha Indonesia dari Tiongkok adalah pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi usaha.
“Salah satu hal yang menarik dari China adalah bagaimana teknologi digunakan untuk mendukung bisnis dan industri. Kita bisa melihat bagaimana teknologi tidak hanya menjadi alat produksi, tetapi juga menjadi bagian dari cara mereka mengembangkan usaha,” katanya.
Direktur sekaligus Sekretaris Jenderal SUMU, Ghufron Mustaqim, menekankan bahwa Indonesia tidak harus menyalin sistem yang diterapkan Tiongkok secara utuh. Menurutnya, hal yang lebih penting adalah memahami proses terbentuknya ekosistem tersebut dan menyesuaikannya dengan konteks Indonesia.
Selama berada di Yiwu, peserta diarahkan mengidentifikasi berbagai peluang, mulai dari impor dan ekspor, jaringan pemasok, kerja sama usaha, hingga alih teknologi dan pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan industri dalam negeri.
Dari Yiwu hingga Beijing
Rangkaian perjalanan bisnis SUMU ke Tiongkok berlanjut pada September 2026 melalui kunjungan ke Beijing. Kegiatan tersebut ditujukan untuk memperluas perspektif peserta mengenai perkembangan ekonomi dan bisnis Tiongkok.
Jika Yiwu memberikan gambaran mengenai perdagangan dan jaringan pemasok, kunjungan ke Beijing memberikan perspektif mengenai keterkaitan industri, teknologi, perdagangan jasa, dan konektivitas dalam ekosistem ekonomi Tiongkok.
Peserta juga berkesempatan mengunjungi China International Fair for Trade in Services (CIFTIS) 2026 di Beijing Shougang Exhibition Center, Shougang Park, Beijing. CIFTIS merupakan pameran perdagangan jasa internasional yang mempertemukan pelaku usaha, sektor industri, dan penyedia layanan dari berbagai negara.
Siapkan China Business Trip Berikutnya
Setelah dua rangkaian perjalanan sebelumnya, SUMU akan kembali menggelar China Business Trip pada Oktober hingga November 2026. Dalam perjalanan ketiga tersebut, Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas dijadwalkan bakal turut mendampingi peserta.
Pada rangkaian perjalanan ini, SUMU menyediakan tiga pilihan perjalanan dengan fokus bisnis yang berbeda.
Trip A akan berlangsung di Guangzhou pada 14-17 Oktober 2026, bertepatan dengan Canton Fair Phase 1. Fokus perjalanan mencakup produk, supplier, teknologi, serta peluang perdagangan internasional.
Trip B akan berlangsung di Yiwu pada 21-25 Oktober 2026 dengan fokus pada sourcing, jaringan supplier, perdagangan komoditas, serta peluang impor dan ekspor.
Sementara Trip C berlangsung di Guangzhou dan Shantou pada 28 Oktober-2 November 2026, bertepatan dengan Canton Fair Phase 3 dan Chenghai Toys & Gifts Fair. Perjalanan ini berfokus pada produk konsumen, toys and gifts, sourcing, serta peluang pengembangan bisnis.
Rangkaian perjalanan tersebut disiapkan SUMU sebagai ruang bagi pengusaha untuk memperluas wawasan, menemukan peluang baru, mempelajari langsung ekosistem bisnis Tiongkok, membangun koneksi, serta menjajaki peluang kerja sama.
Informasi lebih lanjut dan detail terkait program China Business Trip yang dilaksanakan SUMU, dapat diperoleh melalui komunikasi via WhatsApp di nomor 0821-4353-242 (Brilli).***
*) Penulis: Soleh/ Media SUMU











