MAKLUMAT – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat pembinaan karakter mahasiswa melalui kegiatan Baitul Arqom Organisasi Kemahasiswaan.
Kegiatan yang digelar di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) UMM ini menjadi salah satu wadah strategis untuk menanamkan nilai kepemimpinan dalam Islam di organisasi kemahasiswaan.
Rektor UMM, Prof. Dr. Nazarudin Malik, M.Si., menegaskan bahwa kepemimpinan dalam Islam tidak sekadar berkaitan dengan jabatan atau kekuasaan. Kepemimpinan, lanjutnya, merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Leadership Sesuai Tuntunan Al Qur’an
“Kepemimpinan dalam Islam adalah amanah besar, bukan privilese. Tanpa keadilan, kepemimpinan kehilangan legitimasi moralnya. Dan tanpa visi yang jelas, organisasi akan berjalan tanpa arah,” tegas Nazarudin dalam pemaparannya, Rabu, 4 Maret 2026.
Ia menambahkan bahwa setiap individu adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Karena itu, nilai-nilai kepemimpinan harus dibangun sejak dini, terutama bagi mahasiswa yang kelak akan menjadi bagian dari generasi pemimpin bangsa.
Al-Qur’an telah memberikan fondasi kuat mengenai kepemimpinan. Salah satunya melalui konsep manusia sebagai khalifah di bumi, sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 30.
Selain itu, nilai keadilan yang ditegaskan dalam Surah Shad ayat 26 serta pentingnya musyawarah dalam Surah Ali Imran ayat 159. Keduanya menjadi pedoman utama dalam menjalankan kepemimpinan yang berintegritas.
Berani Mengambil Keputusan
“Kepemimpinan dalam Islam harus dibangun di atas sejumlah nilai utama, seperti keadilan (al-‘adl), kebijaksanaan (al-hikmah), amanah, kejujuran (siddiq), serta kecerdasan dan kompetensi (fathanah),” urai Nazar, sapaannya.
Nilai-nilai tersebut tidak hanya menjadi konsep moral, tetapi juga harus tercermin dalam pengambilan keputusan, distribusi tanggung jawab, hingga cara memperlakukan anggota organisasi secara adil.
Selain itu, prinsip musyawarah atau syura menjadi kunci penting dalam membangun kepemimpinan partisipatif. Melalui musyawarah, setiap anggota organisasi dapat terlibat dalam proses pengambilan keputusan.
Cetak Kader Intelektual Muhammadiyah
Semenatra itu, Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni UMM, Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., IPM., menambahkan bahwa Baitul Arqom memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan kaderisasi Muhammadiyah di lingkungan kampus.
“Baitul Arqom merupakan agenda rutin yang bertujuan memastikan kaderisasi Muhammadiyah terus berjalan. Melalui kegiatan ini, kami ingin mencetak kader intelektual Muhammadiyah yang memiliki karakter kepemimpinan kuat,” ujarnya.
UMM telah merancang strategi besar pengembangan kemahasiswaan yang mencakup tiga pendekatan utama, yakni partisipatif, diferensiasi, dan defensif. Ketiga pendekatan ini menjadi landasan dalam menjalankan berbagai program kemahasiswaan, termasuk Baitul Arqom.













