MAKLUMAT – Kawasan konservasi Gunung Bromo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, terbakar hingga menghanguskan sekitar 60 hektare lahan. DPR mendesak Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat mitigasi dan sistem deteksi dini agar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak kembali meluas.
Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKB, Hindun Anisah meminta Kemenhut tidak hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah membesar. Pemerintah perlu memperkuat pencegahan, pemantauan titik panas, patroli kawasan, serta kesiapan personel dan peralatan pemadam.
“Jangan menunggu api membesar baru bergerak. Pencegahan harus menjadi fokus utama,” kata Hindun kepada wartawan dikutip, Jumat (8/8/2026).
Karhutla Capai 107 Ribu Hektare
Data Sistem Pemantauan Karhutla Kemenhut mencatat luas areal yang terbakar sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 107.465,47 hektare. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Hindun meminta pemerintah mewaspadai ancaman kekeringan ekstrem yang dapat meningkatkan risiko kebakaran. Menurutnya, kondisi iklim harus diantisipasi melalui sistem kesiapsiagaan yang bergerak sebelum kebakaran meluas.
Kemenhut, lanjut dia, perlu mengintensifkan patroli terpadu dan pemantauan hotspot. Pemerintah juga harus memastikan peralatan pemadaman siap digunakan serta meningkatkan edukasi kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.
Kebakaran di Bromo menunjukkan bahwa pengendalian karhutla tidak cukup hanya mengandalkan respons setelah api muncul. Luas lahan yang terbakar secara nasional hingga pertengahan 2026 juga menunjukkan pentingnya memperkuat sistem pencegahan dari tingkat pusat hingga daerah.
Deteksi hotspot secara cepat, patroli di kawasan rawan, kesiapan sumber daya manusia, dan ketersediaan peralatan menjadi bagian penting dari mitigasi. Langkah tersebut semakin penting di kawasan konservasi seperti Bromo yang memiliki nilai ekologis sekaligus menjadi kawasan wisata.
Hindun juga mendorong koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI-Polri, pengelola taman nasional, dan relawan lokal. Kolaborasi lintas sektor dapat mempercepat deteksi sekaligus penanganan ketika titik api mulai muncul.
“Kolaborasi ini penting untuk melindungi keanekaragaman hayati, menekan emisi karbon, serta menjaga keselamatan warga,” tegasnya.
Bromo Jadi Alarm Penguatan Mitigasi
Kebakaran 60 hektare di Bromo menjadi alarm bahwa pencegahan karhutla harus berjalan lebih cepat daripada penyebaran api. Pemerintah tidak cukup hanya menghitung luas lahan yang terbakar setelah kejadian.
Tantangan utamanya adalah memastikan informasi titik panas segera ditindaklanjuti di lapangan. Semakin cepat petugas menemukan dan menangani titik api, semakin kecil peluang kebakaran berubah menjadi bencana yang lebih luas.
Karena itu, penguatan deteksi dini, patroli, kesiapan peralatan, serta keterlibatan masyarakat menjadi kunci. Kawasan konservasi seperti Bromo membutuhkan sistem mitigasi yang konsisten karena kerusakan ekosistem akibat kebakaran dapat berdampak jauh lebih panjang dibandingkan durasi kebakarannya.














