MAKLUMAT — Saya gelisah. Dan kegelisahan ini bukan datang dari ruang-ruang seminar yang ber-AC, melainkan dari obrolan ringan di perkopian dan percakapan yang muncul tengah malam di ruang santai yang paling nyaman untuk mendiskusikan tentang persoalan yang dirasakan oleh para aktivis organisasi, terkhusus di Ikatan Pelajar Muhammadiyah.
Teman-teman sebaya saya, para pelajar Lamongan, bukanlah generasi yang kosong. Mereka peduli saat melihat tumpukan sampah menggunung di sudut kota, mereka geram ketika kurikulum digital hanya jadi jargon tanpa infrastruktur, dan mereka bertanya-tanya kenapa bantuan pendidikan sering kali nyasar.
Anggota DPRD Jatim, Puguh Wiji Pamungkas pun pernah mengaku “tersentak” oleh ketajaman pertanyaan para pelajar itu, dan menyebut bahwa stigma “Gen Z apatis” runtuh seketika berhadapan dengan kenyataan di lapangan. Jadi, kalau pelajar kita sebenarnya kritis dan peduli, kenapa ruang-ruang organisasi kita justru sepi peminat? Kenapa regenerasi di ranting dan cabang IPM terasa seperti memanggil di padang pasir?
Jawabannya, mungkin sederhana dan menyakitkan: karena kami tidak lagi menawarkan ruang yang relevan. Riset IMGR 2026 menunjukkan bahwa Gen Z dan Milenial tidak apatis terhadap politik; mereka hanya memilih kanal yang berbeda. Lebih dari separuh responden menilai aksi protes tidak harus selalu turun ke jalan, melainkan bergerak di lini masa media sosial, grup-grup chat, dan kolom komentar. Ini bukan pembangkangan, ini adalah evolusi metode.
Jika anak muda hari ini lebih suka membuat carousel explainer kebijakan pemerintah ketimbang datang ke acara pelantikan organisasi, maka masalahnya ada pada kita. Tata kelola organisasi pelajar seperti IPM kerap masih terjebak pada pola-pola lawas: seremoni yang panjang, struktur yang kaku, dan rapat yang lebih banyak menghasilkan jadwal rapat berikutnya ketimbang aksi konkret.
Saya tidak sedang menyerang tradisi. Saya sedang mempertanyakan relevansi bentuk. Di PD IPM Lamongan, kami sedang berusaha keras meskipun masih banyak kekurangan untuk mendefinisikan ulang apa artinya “bergerak”. Kami tidak ingin para kader pulang dari kegiatan perkaderan hanya membawa sertifikat dan rasa kantuk.
Kami mengusung tema Genealogi Kepemimpinan Berdampak dalam Pelatihan Kader Madya Taruna Melati II yang beberapa waktu lalu telah kami laksanakan, dan menekankan bahwa membaca situasi (iqra) sama pentingnya dengan membaca teks suci.
Kami juga memaknai pergerakan bukan hanya dengan orasi, tetapi dengan literasi. Ini adalah ikhtiar kecil untuk menjawab kegelisahan yang lebih besar: kami butuh gerakan yang berisi gagasan, bukan sekadar acara seremoni.
Kepemimpinan masa depan di IPM tidak boleh lagi berwatak memerintah. Seperti yang sering disinggung oleh Wakil Gubernur Jatim, Emil Dardak, bahwa pola kepemimpinan Gen Z adalah bergerak bersama dan berkolaborasi, bukan lagi budaya memerintah yang kaku.
Di tingkat ranting dan cabang, artinya Ketua Umum tidak boleh lagi dilihat sebagai “bos” yang memberi titah. Kita harus menjadi katalisator, penghubung antara kegelisahan pelajar dengan solusi kolektif.
Kalau kader kita galau soal masa depan kerja, IPM harus berani membuka ruang inkubasi konten kreator. Kalau pelajar resah dengan isu lingkungan, jangan cuma bikin poster ajak mereka mengadvokasi tata kelola sampah di tingkat desa.
Dengan sistem tata kelola yang lebih cair dan partisipatoris di mana jabatan tidak dijadikan mahkota, melainkan amanah yang menyempitkan ruang gerak ego, IPM bisa kembali menjadi oase yang dicari di tengah gersangnya pragmatisme.
Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat? Maka, berorganisasi pun harusnya begitu: berdampak, bukan sekadar ada.











