MAKLUMAT — Sampah plastik menjadi persoalan yang masih dihadapi warga Kampung Nelayan RW 002, Sukolilo Baru. Tumpukan sampah di sekitar pesisir membuat kawasan tersebut tidak lagi terlihat bersih.
Persoalan itu menjadi salah satu perhatian dalam program Eco Kids yang digelar pada Minggu, 20 September 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Airlangga Dekat Masyarakat Surabaya (AKSARA) 2026, program kerja unggulan Kementerian Pengabdian Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (UNAIR).
Melalui Eco Kids, anak-anak diajak mengenali dampak sampah plastik melalui pembelajaran interaktif. Penggunaan boneka tangan menjadi salah satu cara yang digunakan agar anak-anak lebih mudah memahami akibat membuang sampah sembarangan.
“Kalau kita membuang sampah ke laut, terus sampahnya dimakan ikan, dan kita makan ikannya berarti kita sama saja mengonsumsi sampah,” ujar Rizky Maulana selaku penanggung jawab acara Eco Kids.
Penjelasan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pengenalan kebiasaan sederhana untuk mengurangi sampah plastik. Anak-anak diajak mulai menggunakan tas yang dapat dipakai berulang kali sebagai alternatif kantong plastik.
Kegiatan berlanjut dengan menghias totebag berwarna putih. Anak-anak diberi kebebasan melukis totebag sesuai dengan kreativitas masing-masing. Setelah selesai, totebag tersebut dapat mereka gunakan dalam kegiatan sehari-hari.
Bagi Eco Kids, kegiatan itu menjadi cara untuk mengenalkan pengurangan sampah melalui aktivitas yang dekat dengan keseharian anak-anak. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan mengenai masalah plastik, tetapi juga membuat sendiri tas yang dapat digunakan kembali.
Totebag hasil kreasi anak-anak kemudian diharapkan menjadi pengingat untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Kebiasaan tersebut juga dapat diterapkan dengan membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan lingkungan Kampung Nelayan RW 002.
Rizky mengatakan pemahaman mengenai lingkungan perlu dikenalkan sejak anak-anak. “Kalau kita membuang sampah ke laut, terus sampahnya dimakan ikan, dan kita makan ikannya berarti kita sama saja mengonsumsi sampah,” jelasnya.
*) Penulis: Nabila Pramesti Apriliana












