Di Hadapan Wagub dan Menteri, Aisyiyah Jawa Timur Paparkan 5 Program Nyata Perlindungan Anak

MAKLUMAT — Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Timur Dra Rukmini Amar MAP memaparkan lima program dan gerakan nyata yang telah dilakukannya dalam mendorong upaya perlindungan serta mengembangkan potensi minat-bakat dan kemandirian anak.

Hal itu ia sampaikan di hadapan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, serta para pejabat publik yang hadir dalam Puncak Peringatan Hari Anak Nasional yang diselenggarakan PWA Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Sabtu (25/7/2026).

Pertama, Rukmini mengungkapkan upaya Aisyiyah Jawa Timur bersama daerah yang disebut berhasil mendorong regulasi pencegahan perkawinan anak dalam bentuk Peraturan Bupati (Perbup) Kabupaten Probolinggo, dan berhasil menurunkan angka perkawinan anak di sana.

“Pencegahan perkawinan anak, advokasi, dan pendampingan Aisyiyah di Kabupaten Probolinggo, sehingga terwujud aksi daerah pencegahan perkawinan anak dan sudah menjadi Peraturan Bupati. Sudah terjadi penurunan pernikahan anak, berdasarkan data dispensasi nikah dari Pengadilan Kraksaan tahun 2022 asalnya ranking 3, lalu di tahun 2026 sudah menurun jadi ranking 26,” katanya disambut tepuk tangan ribuan peserta yang menghadiri kegiatan tersebut.

Kedua, ia memaparkan program Aisyiyah di Kabupaten Bojonegoro yang berhasil merumuskan dan memutuskan strategi daerah (Strada). Selain itu, di Bumi Angling Dharma itu angka perkawinan anak juga berhasil ditekan dan mengalami penurunan.

Baca Juga  Kampus PTMA Harus Hidupkan Semangat Islam Transformatif dan Islam Profetik

Tak cuma itu, Aisyiyah Jawa Timur juga melaksanakan layanan dan edukasi kesehatan seksual dan kesehatan reproduksi remaja, yang disebutnya sebagai salah satu upaya untuk mencegah pergaulan bebas,  menjaga kondisi kesehatan anak, serta mengarahkan minat dan bakat anak. Bahkan, kata dia, formula kegiatan tersebut kemudian juga telah diadopsi untuk dilaksanakan di sekolah-sekolah negeri, bukan hanya sekolah-sekolah Muhammadiyah dan Aisyiyah.

“Sehingga di Bojonegoro (kegiatan yang awalnya) diadakan di semua sekolah Muhammadiyah. Kegiatan ini kemudian diadopsi oleh Cabang Dinas Pendidikan untuk dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN),” terangnya.

“Di Kabupaten Probolinggo kegiatan tersebut juga diadakan di sekolah Muhammadiyah dan non-Muhammadiyah, dan di Pondok Pesantren. Jadi awalnya memang kami agak kesulitan, kebingungan bagaimana masuknya, tapi Alhamdulillah,” sambung Rukmini.

Peningkatan Kapasitas Anak Disabilitas

Program ketiga, yakni peningkatan kapasitas anak disabilitas di Sekolah Luar Biasa (SLB) yang dikelola Aisyiyah, khususnya di Sidoarjo dan Ponorogo. “Insya Allah juga ada berkembang di Mojokerto,” katanya.

“(Aisyiyah) mengadakan kegiatan layanan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi menggunakan alat khusus untuk disabilitas netra, menyiapkan kemandirian anak dengan hard skill dan soft skill, agar setelah lulus siap kerja, baik mandiri maupun bekerja pada dunia usaha dan industri. Insya Allah Aisyiyah Jawa Timur sudah ada lima sudah punya sekolah disabilitas.

Baca Juga  Resmikan Daycare Lansia, Umsida dan PCA Porong Berikan Layanan Kesehatan dan Dukungan Sosial

Keempat, dalam rangka mewujudkan ekosistem sekolah yang inklusif, Aisyiyah Jawa Timur juga disebut telah melatih para guru di lembaga-lembaga pendidikan yang dikelolanya untuk memiliki skill dan kompetensi dalam mendampingi proses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK).

“Aisyiyah melatih guru-guru agar memiliki skill untuk mendampingi anak berkebutuhan khusus, membangun situasi kondusif di lingkungan sekolah, menyediakan sarana dan prasarana, merumuskan SOP dan menerapkan layanan, serta bekerjasama dengan para ahli,” tandasnya.

Program kelima, Rukmini menegaskan bahwa seluruh lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang dimiliki dan dikelola oleh Aisyiyah di Jawa Timur telah mengikuti pelatihan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).

Anak Saleh Bukan Sekadar Dilahirkan

Lebih lanjut, dalam kesempatan tersebut Rukmini juga menjelaskan terkait Gerakan Aisyiyah Cinta Anak (GACA), sebagai gerakan kolektif untuk mendorong perlindungan anak, mencegah kekerasan terhadap anak, serta memastikan pemenuhan hak-hak anak dan mengembangkan potensi minat-bakat anak.

Ia menegaskan berbagai program dan gerakan yang dilaksanakan Aisyiyah sebagai upaya untuk mencetak generasi masa depan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga sehat secara jasmani, dan berakhlak mulia. Menurut dia, anak yang saleh bukanlah anak yang sekadar dilahirkan lalu tumbuh begitu saja, melainkan harus dididik dan diarahkan dengan tepat.

Baca Juga  Kemensos Tak Toleransi Kekerasan di Sekolah Rakyat, Pelaku Langsung Dipecat

“Anak saleh itu tidak sekadar dilahirkan, anak saleh itu harus dididik, diarahkan, agar supaya ada keseimbangan antara fisik, hati, dan akalnya. Karena kalau itu tidak ada keseimbangan, maka anak saleh itu hanya ada di dalam doa (orang tua),” tegas Rukmini.