MAKLUMAT – Program Home Care yang diluncurkan Pemerintah Kabupaten Jember menjadi terobosan dalam layanan kesehatan untuk masyarakat. Bahkan, program itu berpeluang menjadi model pelayanan kesehatan tingkat nasional.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Oktavianus meminta Pemerintah Kabupaten Jember mempresentasikan konsep program tersebut di hadapan Kementerian Kesehatan sebagai langkah awal untuk direplikasi di daerah lain. Menurut dia, inovasi tersebut menjawab persoalan utama akses layanan kesehatan di daerah yang memiliki wilayah geografis luas.
“Layanan kesehatan dibilang bagus itu kalau dekat. Lokasi Jember ini sangat luas. Pak Bupati melihat masyarakat yang tidak mampu tidak punya uang transportasi ke sarana kesehatan. Maka beliau membuat terobosan Home Care, yang sakit didatangi, yang tidak mampu dijemput,” ujar Benjamin saat menghadiri peluncuran Program Home Care di Puskesmas Sumberbaru, Kabupaten Jember, Jumat (24/7/2026).
Ia menilai keberadaan jaminan kesehatan semesta (universal health coverage/UHC) belum sepenuhnya menjamin masyarakat memperoleh layanan kesehatan apabila terkendala jarak dan biaya transportasi. Karena itu, pendekatan pelayanan yang mendatangi pasien dinilai lebih efektif bagi kelompok rentan.
Benjamin mengatakan, Kementerian Kesehatan akan mengevaluasi pelaksanaan program tersebut. Apabila terbukti berjalan efektif, Home Care Jember berpeluang dijadikan model nasional bagi daerah lain yang memiliki karakteristik wilayah serupa.
“Saya sudah sampaikan kepada Pak Bupati, segera presentasikan program ini di Kementerian Kesehatan. Kalau bisa Jember menjadi role model, kemudian diterapkan di provinsi lain dan kita laporkan kepada Presiden agar pada 2028 menjadi program nasional,” katanya.
Selain menyoroti layanan Home Care, Benjamin juga menekankan pentingnya penguatan upaya penanganan tuberkulosis (TB). Menurut dia, pemerintah pusat saat ini tengah memprioritaskan percepatan penanganan TB sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Mengingat Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus TB tertinggi di dunia.
Ia turut mengapresiasi komitmen Pemerintah Kabupaten Jember yang menanggung biaya operasional kendaraan petugas Home Care. Dukungan anggaran tersebut dinilai menunjukkan keberpihakan pemerintah daerah dalam memastikan layanan kesehatan dapat menjangkau masyarakat hingga ke rumah-rumah.
Lebih lanjut, Benjamin berpandangan bahwa pembiayaan program semacam Home Care tidak seharusnya hanya mengandalkan anggaran pemerintah daerah. Pemerintah pusat juga perlu memberikan dukungan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar cakupan pelayanan dapat diperluas secara nasional.
“Saya hari ini paling bahagia karena saya seorang dokter dan memiliki seorang bupati yang sangat peduli terhadap kesehatan masyarakat. Yang senang tentu Kementerian Kesehatan,” ujarnya.
Peluncuran Home Care di Jember diharapkan menjadi langkah awal pengembangan model pelayanan kesehatan berbasis kunjungan rumah yang lebih mudah diakses masyarakat, terutama bagi warga lanjut usia, penyandang disabilitas, dan keluarga kurang mampu yang mengalami keterbatasan mobilitas. (*)












