Sebulan 1.052 Orang Diduga Keracunan MBG, NasDem Sentil Pemerintah

keracunan mbg

MAKLUMAT – Sebanyak 1.052 orang dilaporkan mengalami dugaan keracunan terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam rangkaian kejadian di empat daerah sepanjang Oktober 2026. Angka tersebut merupakan akumulasi laporan dari masing-masing daerah, setelah jumlah korban di Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, bertambah menjadi 489 orang.

Politikus Partai NasDem, Virha Argisty menyoroti rentetan kasus tersebut melalui unggahan di media sosial pada Rabu (28/10/2026). Sebelumnya, ia mengungkapkan data awal yang menyebut 980 anak menjadi korban dugaan keracunan MBG dalam sebulan.

“DALAM SEBULAN KORBAN KERACUNAN MBG 980 ANAK,” tulis Virha dalam unggahannya.

Ia juga meluapkan kemarahan atas kejadian yang menimpa para penerima manfaat program tersebut.

“JAHAT BANGET LOH INI 🥺🥺🥺,” lanjutnya.

Kritik itu muncul di tengah laporan dugaan keracunan yang terjadi di Cisarua dan Dramaga, Kabupaten Bogor, Kota Cirebon, Jawa Barat, serta Kabupaten Tanggamus, Lampung. Rentetan kejadian tersebut menyoroti pentingnya pengawasan keamanan pangan dalam program yang menyasar anak-anak dan peserta didik.

Korban di Empat Daerah Capai 1.052 Orang

Berdasarkan data yang dihimpun dalam laporan tersebut, jumlah korban awal dari empat kejadian mencapai 980 orang. Rinciannya, 120 orang di Cisarua, 395 orang di Kota Cirebon, 417 orang di Dramaga, dan 48 orang di Tanggamus.

Baca Juga  Waketum MUI Ingatkan Agar MBG Tidak Jadi Program yang Kenyangkan Konglomerat

Namun, jumlah korban di Dramaga bertambah. Polisi mencatat 489 siswa dan guru mengalami dugaan keracunan hingga Selasa (27/10/2026).

Dengan pembaruan tersebut, akumulasi korban dari empat lokasi mencapai 1.052 orang. Angka ini merupakan hasil penjumlahan laporan dari masing-masing daerah, bukan angka resmi nasional yang telah diverifikasi secara menyeluruh.

120 Siswa di Cisarua Diduga Keracunan

Kasus dugaan keracunan MBG juga terjadi di SMP Negeri 2 Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sebanyak 120 siswa dilaporkan mengalami keluhan setelah menyantap makanan dari program tersebut.

Pada Rabu (21/10/2026), sebanyak 92 siswa dilaporkan telah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Saat itu, petugas masih melakukan evakuasi dan pendataan sehingga jumlah keseluruhan siswa yang mengalami keluhan belum dapat dipastikan.

Kapolsek Cisarua, Kompol Budi Suratman menyampaikan bahwa para siswa yang dibawa ke rumah sakit diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG.

Kepolisian saat itu memprioritaskan pengamanan dan evakuasi para siswa. Sementara itu, penyebab pasti kejadian belum dapat dipastikan.

NasDem Soroti Keamanan Pangan MBG

Rentetan laporan dugaan keracunan tersebut menjadi perhatian terhadap pelaksanaan dan pengawasan program MBG. Pemeriksaan menyeluruh diperlukan untuk mengetahui penyebab kejadian di setiap daerah, termasuk kemungkinan masalah pada bahan makanan, proses pengolahan, penyimpanan, maupun distribusi.

Baca Juga  Anggota DPR dari PKS: Kerugian Korupsi MBG Rp10 Triliun Harus Kembali ke Anak-anak

Penanganan tidak cukup berhenti pada perawatan korban. Instansi terkait juga perlu memastikan proses pemeriksaan berjalan transparan, mengungkap penyebab kejadian berdasarkan bukti, serta melakukan perbaikan agar insiden serupa tidak berulang.

Selain itu, pembaruan data korban perlu dilakukan secara cermat dan terkoordinasi. Langkah ini penting agar informasi yang beredar tidak menimbulkan kebingungan antara jumlah korban di daerah tertentu dan akumulasi kasus dari beberapa lokasi.

Program MBG bertujuan mendukung pemenuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak. Karena itu, keamanan pangan harus menjadi bagian utama pelaksanaannya. Kritik yang muncul menyusul rentetan kasus ini menjadi pengingat bahwa pemenuhan gizi perlu berjalan beriringan dengan perlindungan kesehatan penerima manfaat.