Guru Besar Unmuh Jember Tawarkan Bambu sebagai Fondasi Konstruksi Berkelanjutan

Guru besar Unmuh Jember Muhtar

MAKLUMAT – Di tengah arus pembangunan yang masih bertumpu pada material berjejak karbon tinggi, Muhtar menghadirkan perspektif berbeda. Guru Besar bidang Teknik Sipil Rekayasa Struktur dari Universitas Muhammadiyah Jember itu menempatkan bambu, material yang selama ini dipandang sederhana, sebagai jawaban atas tantangan konstruksi masa depan.

Gagasan tersebut disampaikan dalam orasi ilmiah saat pengukuhan pada Selasa (14/4/2026) lalu. Ia mengangkat tema “Bambu sebagai Material Terbarukan untuk Konstruksi dan Kemaslahatan Umat.” Dalam forum akademik itu, Muhtar tidak hanya berbicara soal teknologi, tetapi juga arah pembangunan yang dinilainya perlu dikoreksi.

Ia memulai dari persoalan mendasar: kesenjangan industrialisasi antara kota dan desa. Selama ini pembangunan kerap mengandalkan investasi besar dengan pendekatan dari atas ke bawah. Desa, menurutnya, sering kali hanya menjadi objek, bukan subjek pembangunan.

“Pembangunan desa harus mampu memberi nilai tambah terhadap komoditas lokal,” ujarnya.

Bagi Muhtar, industrialisasi semestinya tumbuh dari bawah, dimulai dari penguatan industri kecil di desa sebagai fondasi ekonomi kerakyatan.

Dari kerangka berpikir itulah bambu dihadirkan kembali. Bukan sebagai simbol tradisionalitas, melainkan sebagai inovasi teknologi. Muhtar mengembangkan pemanfaatan bambu sebagai pengganti baja dalam beton bertulang pracetak, sebuah pendekatan yang menggabungkan kearifan lokal dengan rekayasa modern.

Baca Juga  Prabowo Kumpulkan Guru Besar se-Indonesia, Apa yang Dibahas?

Hasilnya menunjukkan capaian yang tidak sederhana. Produk seperti panel pagar pracetak dan rangka jembatan berbasis beton bertulang bambu telah melalui serangkaian uji mekanis. Mulai dari uji lentur hingga geser siklik. Dalam pengujian, deformasi dan perpindahan yang terjadi tercatat sangat kecil, jauh di bawah ambang batas yang diizinkan.

Temuan tersebut bahkan telah memenuhi standar internasional seperti AASHTO serta Standar Nasional Indonesia. Sebuah capaian yang mempertegas bahwa inovasi berbasis material lokal memiliki daya saing global.

Namun, bagi Muhtar, kekuatan utama bambu tidak hanya terletak pada aspek teknis. Material itu juga membawa dimensi ekologis dan sosial. Bambu yang cepat tumbuh dan mudah diperbarui menawarkan alternatif terhadap material konstruksi konvensional yang menyumbang emisi karbon tinggi.

Lebih dari itu, pemanfaatan bambu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa. Produksi dan pengolahannya dapat menjadi bagian dari rantai nilai lokal, sehingga pembangunan tidak lagi terpusat di kota.

Dalam konteks itulah, pengukuhan Muhtar sebagai guru besar tidak sekadar menjadi tonggak akademik, tetapi juga momentum untuk mendorong perubahan cara pandang. Bahwa inovasi tidak harus selalu lahir dari teknologi mahal dan pembangunan tidak harus selalu berangkat dari pusat.

Baca Juga  Perguruan Tinggi Harus Menjadi Penggerak Transformasi Sosial dan Ekonomi Berkelanjutan

Dari Jember, Muhtar menunjukkan bahwa solusi besar bisa tumbuh dari hal yang selama ini dianggap kecil. Bambu, dalam tangannya, bukan lagi sekadar material, melainkan fondasi bagi konstruksi yang lebih berkelanjutan dan berkeadilan. (SPT)