Hadirkan Muhadjir Effendy, Muhammadiyah Cibiuk di Garut Dorong Penguatan UMKM

MAKLUMAT — Ketua PP Muhammadiyah, Prof Muhadjir Effendy menyebut bahwa tantangan utama UMKM saat ini bukan semata pada produksi, melainkan pada akses pasar yang berkelanjutan. Hal itu ia sampaikan dalam agenda Silaturrahmi Ba’da Idul Fitri yang digelar PCM Cibiuk di Pesantren Al-Furqon Garut, Jumat (10/4/2026).

“Secara sederhana, UMKM itu butuh pasar. Dan hari ini, pasar tidak hanya bersifat konvensional, tetapi juga merambah ke ruang digital dan jaringan distribusi modern,” ujar Muhadjir dalam agenda yang mengusung tema Pembinaan dan Pengembangan Usaha Mikro dan Menengah Kabupaten Garut 2026.

Ia mengakui bahwa salah satu kelemahan Muhammadiyah selama ini adalah belum kuatnya penguasaan sektor pasar. Muhammadiyah memiliki basis produksi dan sumber daya manusia yang besar, tetapi belum sepenuhnya terintegrasi dalam jaringan distribusi yang kokoh.

“Selama ini kita relatif kuat di produksi, tetapi lemah di market. Tanpa market, produk tidak akan berkembang. Ini yang sedang kita benahi,” tegasnya.

Sebagai langkah konkret, PP Muhammadiyah sedang menginisiasi pengembangan Suryamart sebagai jaringan ritel yang diharapkan menjadi tulang punggung distribusi produk-produk UMKM warga Muhammadiyah.

Suryamart dirancang bukan sekadar sebagai entitas bisnis, tetapi sebagai gerakan ekonomi kolektif yang mempertemukan produsen dan konsumen dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

Baca Juga  Apakah Muhadjir Effendy Tepat Jadi Cawapres Alternatif?

“Suryamart ini kita dorong sebagai jaringan ritel umat. Dengan jaringan ini, produk-produk UMKM Muhammadiyah punya akses pasar yang lebih jelas dan berkelanjutan,” jelasnya.

Pilar Ekonomi Muhammadiyah

Menurut Muhadjir, kehadiran jaringan ritel seperti Suryamart menjadi penting dalam menghadapi persaingan ekonomi modern yang semakin terintegrasi. Tanpa jaringan distribusi yang kuat, pelaku UMKM akan terus berada pada posisi lemah dalam rantai nilai ekonomi.

Ia juga mengaitkan penguatan sektor ekonomi ini dengan agenda besar Muhammadiyah ke depan, khususnya menjelang Muktamar Muhammadiyah di Medan. Ia berharap, pilar ekonomi Muhammadiyah sudah mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan.

“Kita berharap, saat Muktamar Muhammadiyah di Medan, pilar ekonomi sudah mulai berkembang. Tidak harus langsung besar, tetapi sudah terlihat arah dan kemajuannya,” ungkapnya.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa gerakan ekonomi Muhammadiyah harus dipahami sebagai bagian dari gerakan tajdid yang tidak bersifat instan. Dibutuhkan proses bertahap, konsistensi, dan kerja kolektif yang berkesinambungan.

“Namanya gerakan tajdid, itu tidak instan. Ia berjalan bertahap. Yang penting kita punya arah yang jelas dan terus bergerak,” tuturnya.

Libatkan Pelaku UMKM Lokal

Kegiatan ini juga menjadi ruang dialog antara pimpinan dan para pelaku UMKM di tingkat lokal. Berbagai persoalan riil mengemuka, mulai dari keterbatasan akses pasar, permodalan, hingga tantangan digitalisasi usaha.

Baca Juga  Mahfud MD Cawapres Favorit di Jatim, Muhadjir Effendy Juga Masuk

Ketua PCM Cibiuk, Yanto Asyatibie mengapresiasi diskusi yang berlangsung dinamis. Menurutnya, hal ini telah mencerminkan semangat kolektif untuk mencari solusi bersama.

Ia juga mengatakan bahwa kegiatan ini memang merupakan bagian dari upaya Muhammadiyah untuk memperkuat peran sebagai gerakan yang tidak hanya bergerak di bidang dakwah dan pendidikan, tetapi juga ekonomi.

“Silaturahmi ini menjadi sarana konsolidasi gerakan. Kita ingin Muhammadiyah hadir secara nyata dalam pemberdayaan ekonomi umat,” ujarnya.

Yanto juga mengapresiasi antusiasme peserta yang terlihat di sepanjang acara. Para peserta bukan hanya menyimak paparan, tetapi juga aktif berdialog dan berbagi pengalaman dalam mengembangkan usaha.

Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya penguatan UMKM semakin tumbuh di kalangan warga Muhammadiyah. Ia juga menyebut bahwa UMKM sebagai tulang punggung ekonomi membutuhkan dukungan nyata dalam bentuk akses pasar yang terorganisir dan berkelanjutan.

“Dari Garut, Muhammadiyah kembali menegaskan bahwa dakwah tidak hanya hadir dalam kata-kata, tetapi juga dalam kerja nyata yang menyentuh kebutuhan dasar umat. Dan melalui gerakan tajdid yang bertahap, harapan menuju kemandirian ekonomi itu terus dirawat dan diperjuangkan,” pungkasnya.