Idulfitri: Merawat Kemanusiaan Kita

Dr. Mariman Darto, M.Si. *)

MAKLUMAT — Setiap akhir Ramadan, jutaan orang bergerak mudik ke kampung halaman. Semua orang ingin merayakan Idulfitri  bersama keluarga dan orang-orang terdekat. Mereka bersalaman, saling memaafkan, dan bersilaturahmi. Tradisi ini memelihara nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupan bersama: kejujuran, kerendahan hati, dan kesediaan untuk berdamai dengan sesama.

Dalam perjumpaan itulah Idulfitri memperoleh penguatan makna sosialnya. Karena itu, makna fitri tidak hanya berkaitan dengan kesucian spiritual atau kembali ke fitrah. Ia juga menyentuh pembentukan karakter kemanusiaan—kemampuan untuk menahan diri, menghargai orang lain, dan menjaga keseimbangan hidup. Idulfitri menjadi pengingat bahwa manusia hidup tidak hanya sebagai individu, tetapi juga makhluk sosial yang bertumbuh melalui relasi, empati, dan tanggung jawab moral.

Di balik keramaian mudik dan tradisi saling memaafkan itu, Idulfitri sesungguhnya menghadirkan satu momen langka: jeda dalam kehidupan sosial. Yakni, membuka ruang untuk meninjau kembali cara hidup yang selama ini dijalani—apakah relasi antar manusia masih dipelihara dengan kehangatan, atau justru semakin tergerus oleh ritme kehidupan yang serba cepat.

Jeda di Tengah Percepatan

Dalam kehidupan modern yang serba cepat, momentum di seputar Idulfitri terasa semakin penting. Dunia hari ini bergerak dalam ritme percepatan tanpa jeda: produksi, konsumsi, dan kompetisi. Gejala ini, meminjam sosiolog Jerman Hartmut Rosa (2013), disebut sebagai social acceleration, yakni percepatan sosial yang membuat ritme kehidupan manusia kian intens tetapi tidak selalu semakin bermakna. Berada dalam situasi ini, orang sering kehilangan ruang untuk berhenti, merenung, dan menimbang kembali arah hidupnya.

Jeda sesungguhnya telah dimulai sejak Ramadan datang. Puasa sebulan penuh memaksa manusia memperlambat tubuh sekaligus memperhalus kesadaran. Ia mengajarkan bahwa keberhasilan hidup tidak semata diukur dari akumulasi benda atau prestasi, tetapi juga kemampuan menjaga keseimbangan batin. Dalam arti ini, puasa dapat dibaca sebagai praktik kultural yang mengembalikan manusia pada dimensi reflektifnya.

Baca Juga  UN Diganti Jadi TKA, Pakar Pendidikan UM Surabaya: Ada Upaya Kurangi Stres pada Siswa

Dalam bahasa tasawuf klasik, puasa merupakan riyadhah—latihan spiritual yang membentuk kesadaran diri. Tradisi Islam sejak awal memandang puasa sebagai proses pembentukan manusia yang utuh—selaras fitrahnya. Dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin, karya Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga menahan mata, telinga, dan hati dari segala hal yang menjauhkan manusia dari kebajikan. Dengan demikian, puasa merupakan pendidikan moral yang melatih pengendalian diri, kesabaran, kejujuran, dan empati terhadap sesama.

Penguatan Karakter Sosial-Emosional

Menariknya, banyak nilai yang dilatih melalui puasa—seperti pengendalian diri, empati, dan tanggung jawab—sejalan dengan apa yang dalam kajian pendidikan karakter modern disebut sebagai social and emotional skills, konsep yang banyak dikembangkan oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD). Berbagai studi OECD menunjukkan bahwa keterampilan sosial dan emosional—seperti pengendalian diri, empati, dan kemampuan bekerja sama—merupakan fondasi penting bagi keberhasilan individu sekaligus ketahanan masyarakat (OECD, Future of Education and Skills 2030).

Dalam tradisi tasawuf dikenal pula konsep tazkiyatun nafs, yaitu upaya menyucikan sekaligus mengembangkan kualitas moral dalam diri manusia. Puasa dapat dipahami sebagai bagian dari proses tersebut: latihan mengendalikan dorongan-dorongan dasar sekaligus menumbuhkan kepekaan sosial terhadap orang lain. Dalam kerangka OECD, kemampuan mengelola diri semacam ini berkaitan erat dengan pembentukan keterampilan sosial-emosional yang juga menopang apa yang disebut sebagai global competence.

Penting pula dicatat, khusus bagi anak-anak usia sekolah, bahwa nilai-nilai seperti pengendalian diri, empati, dan tanggung jawab sosial itu tidak tumbuh dengan sendirinya. Jika anak-anak didorong untuk terus mengasah kepekaan dalam menjaga nilai-nilai di atas melalui pembiasaan sehari-hari di lingkungan sekolah, mereka niscaya akan memiliki kemampuan andal dalam social and emotional skills. Keterampilan semacam ini menjadi fondasi penting bagi pembentukan pribadi yang matang sekaligus bagi terciptanya masyarakat yang sehat.

Baca Juga  Takbir di Negeri Tirai Bambu: Begini Uniknya Idulfitri di Tiongkok

Dalam konteks kebijakan pendidikan di Indonesia, nilai-nilai tersebut juga mulai diterjemahkan dalam berbagai program pembiasaan yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, salah satunya melalui gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Program ini menekankan pentingnya pembentukan karakter melalui praktik keseharian, seperti disiplin waktu, menjaga kesehatan, menghargai orang lain, gemar belajar, serta membangun tanggung jawab pribadi dan sosial. Jika dicermati lebih dalam, nilai-nilai yang dilatih dalam praktik puasa terutama pengendalian diri, empati terhadap sesama, serta kesadaran moral memiliki keselarasan yang kuat dengan semangat pembiasaan dalam program tersebut.

Penguatan nilai tersebut juga terlihat dalam kebijakan Pagi Ceria, sebuah pendekatan pembelajaran yang mendorong sekolah memulai hari dengan aktivitas positif seperti menyapa dengan ramah, berdoa, menyanyikan lagu kebangsaan, melakukan aktivitas fisik ringan, serta membangun suasana emosional yang sehat di lingkungan sekolah. Kegiatan pembuka hari seperti ini bukan sekadar rutinitas simbolik, tetapi merupakan strategi pedagogis untuk menumbuhkan social and emotional skills melalui pembiasaan yang konsisten. Keterampilan ini pada akhirnya menjadi fondasi penting bagi terbentuknya pribadi yang matang, tangguh, dan berintegritas, sekaligus bagi terciptanya masyarakat yang sehat dan berdaya tahan tinggi.

Baca Juga  Tolak Kedatangan Mendikdasmen Abdul Mu'ti, Muhammadiyah Sebut Pemkab Sampang Diskriminatif dan Abaikan Kepastian Hukum

Begitu pula tradisi saling memaafkan dalam rangkaian perayaan Idulfitri memiliki makna sosial yang penting. Ia berfungsi memulihkan jaringan kepercayaan dalam masyarakat. Tanpa kepercayaan, kehidupan sosial mudah retak oleh kecurigaan dan konflik. Ungkapan “maaf lahir dan batin” pada Idulfitri bukan sekadar etika personal, melainkan juga mekanisme budaya untuk menjaga kohesi sosial.

Dalam masyarakat Indonesia, praktik ini memiliki dimensi khas. Clifford Geertz dalam The Religion of Java (1960) mencatat bahwa ritual keagamaan sering berfungsi sebagai sarana rekonsiliasi sosial. Agama tidak hanya membentuk hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga menata kembali hubungan antarmanusia, bahkan dengan alam semesta.

Di tengah polarisasi politik, ketimpangan ekonomi, dan krisis ekologis yang kian terasa, makna fitri mengingatkan bahwa kehidupan tidak dapat bertahan jika hanya digerakkan oleh ambisi, konsumsi, dan dominasi. Kehidupan membutuhkan keseimbangan—keseimbangan yang hanya mungkin tercapai jika manusia memiliki karakter moral yang kuat.

Karena itu, Idulfitri tidak selayaknya dipahami sebatas perayaan setelah sebulan berpuasa, apalagi jika diwarnai perilaku konsumtif yang berlebihan. Ia merupakan momentum refleksi tentang arah peradaban manusia: apakah manusia masih mampu hidup dalam kesadaran moral yang utuh, atau justru semakin tenggelam dalam kepentingan sempit.

Pertanyaan itu tentu tidak dapat dijawab hanya dalam satu hari raya. Namun Ramadan setidaknya memberi kesempatan manusia untuk kembali pada fitrahnya sebagai makhluk yang tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk sesama, untuk bangsa dan negara, dan untuk bumi sebagai rumah bersama. Selamat merayakan Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 H. Mohon maaf lahir dan batin.