Implementasi Risalah Islam Berkemajuan Fokus Jadi Budaya Akademik di UMM

Risalah Islam Berkemajuan

MAKLUMAT – Implementasi Risalah Islam Berkemajuan menjadi fokus utama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Langkah strategis ini untuk memperkuat identitas kampus berbasis nilai-nilai Muhammadiyah.

Kepala Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) UMM, Prof. Gonda Yumitro Ph.D menjelaskan bahwa implementasi Risalah Islam Berkemajuan tidak cukup hanya dituangkan dalam dokumen normatif.

“Pemahaman yang kuat dari seluruh sivitas akademika menjadi kunci agar nilai-nilai tersebut benar-benar hidup dalam aktivitas kampus,” ujarnya dalam focus group discussion (FGD) yang dielar PSIB UMM.

Forum ini melibatkan seluruh sivitas akademika sebagai langkah strategis menyusun model implementasi. Di sisi lain, menjadi peta jalan (roadmap) Risalah Islam Berkemajuan yang lebih terukur, sistematis, dan kontekstual.

Ia menambahkan bahwa UMM merupakan perguruan tinggi Muhammadiyah terbesar di Indonesia. Sudah sepantasnya memiliki tanggung jawab untuk memastikan implementasi Risalah Islam Berkemajuan tidak berhenti pada tataran konsep.

Sementara itu, peneliti PSIB UMM, Diki Wahyudi menambahkan bahwa penguatan pemahaman terhadap Risalah Islam Berkemajuan merupakan bagian penting dalam memperkuat peran dakwah Muhammadiyah.

“Pemahaman yang kuat terhadap Risalah Islam Berkemajuan bukan hanya penting untuk kehidupan kampus, tetapi juga menjadi modal bagi sivitas akademika menjalankan peran pengabdian dan dakwah yang mencerahkan di masyarakat,” ujar Diki.

Baca Juga  Rektor UMM Tegaskan Pentingnya Sinergi dalam Penutupan Tanwir XXXIII IMM

Dalam diskusi tersebut, sejumlah peserta mengidentifikasi tantangan implementasi Risalah Islam Berkemajuan yang masih dihadapi kampus. Salah satunya disampaikan Dr. Fathoni yang menilai banyak warga kampus telah mempraktikkan nilai-nilai Islam Berkemajuan dalam kehidupan sehari-hari.

“Sebagian belum menyadari bahwa perilaku tersebut merupakan bagian dari implementasi Risalah Islam Berkemajuan,” tegas Fathoni.

Kondisi itu dinilai berpotensi menimbulkan kerentanan ketika individu menghadapi berbagai pengaruh eksternal, karena tidak memiliki landasan konseptual yang kuat.

Karena itu, ia mengusulkan penyusunan panduan perilaku Islam Berkemajuan yang dilengkapi indikator yang jelas bagi dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan.

Selain itu, sosialisasi dinilai perlu dilakukan secara lebih masif dengan pendekatan yang mudah dipahami. Media seperti buku saku, e-book, hingga podcast dapat menjadi sarana efektif untuk memperluas pemahaman seluruh warga kampus.

Pandangan serupa disampaikan Hairi M.Ag. Ia menekankan pentingnya kehadiran panduan implementasi sebagai rujukan bersama. Dengan demikian, nilai-nilai Islam Berkemajuan dapat diterapkan secara konsisten dalam berbagai aspek kehidupan kampus.

Sementara itu, Munawir menilai program Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang selama ini berjalan di UMM telah memberikan kontribusi positif. “Tantangan terbesarnya masih berada pada aspek kesadaran dan partisipasi,” ujarnya.

Baca Juga  Paparan Gadget Picu Bunuh Diri? Begini Penjelasan Dosen Psikologi UMM

Ia menyoroti masih adanya mahasiswa yang memandang kegiatan AIK sekadar memenuhi kewajiban administratif. Di sisi lain, sebagian tenaga kependidikan yang berasal dari luar lingkungan Muhammadiyah juga belum memahami struktur organisasi di tempat tinggal mereka.

Karena itu, akses informasi mengenai Muhammadiyah perlu diperluas hingga lapisan paling bawah. Keteladanan juga dinilai menjadi faktor penting dalam keberhasilan implementasi Risalah Islam Berkemajuan.

Melalui FGD tersebut, PSIB UMM menargetkan lahirnya model implementasi Risalah Islam Berkemajuan yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga operasional dan terukur.