Waspada ISPA: Kenali Gejala, Cara Merawat, dan Langkah Pencegahannya

Mengenali ISPA, gejala, bahaya kesehatan, dan cara pencegahannya. (Ilustrasi: Primaya Hospital)

MAKLUMAT — Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu gangguan kesehatan yang perlu mendapat perhatian karena dapat menyerang saluran pernapasan bagian atas maupun bawah. ISPA dapat disebabkan oleh berbagai agen infeksi, terutama virus, tetapi pada kondisi tertentu juga dapat disebabkan oleh bakteri maupun mikroorganisme lainnya.

Pesan kewaspadaan mengenai ISPA tersebut turut disampaikan Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan melalui akun X @dinkesbangkalan dalam sebuah infografis bertajuk “Waspada ISPA”, yang mengajak masyarakat untuk mengenali gejala, memahami cara perawatan, menerapkan pencegahan, serta menjaga agar penyakit tidak menular kepada orang-orang terdekat.

Apa Itu ISPA?

ISPA merupakan infeksi yang menyerang sistem pernapasan. Bagian yang dapat terdampak mencakup saluran pernapasan atas seperti hidung, tenggorokan dan faring, hingga saluran pernapasan bawah seperti bronkus dan paru-paru. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa istilah ISPA mencakup berbagai infeksi pada saluran pernapasan yang dapat disebabkan oleh virus, bakteri, maupun agen lainnya.

Karena penyebab dan lokasi infeksinya dapat berbeda, gejala yang muncul pada setiap orang tidak selalu sama. Sebagian besar kasus dapat berlangsung ringan, tetapi pada kondisi tertentu infeksi saluran pernapasan dapat berkembang menjadi lebih berat dan membutuhkan penanganan medis.

ISPA juga tidak selalu berarti satu jenis penyakit tertentu. Istilah tersebut mencakup spektrum infeksi saluran pernapasan, mulai dari keluhan seperti batuk dan pilek hingga infeksi yang lebih serius seperti pneumonia.

Mengenali Gejala ISPA

Sejumlah gejala ISPA yang perlu dikenali masyarakat antara lain: batuk, pilek atau hidung berair, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, bersin-bersin, demam, sakit kepala, hingga mudah kelelahan.

Gejala tersebut juga sejalan dengan informasi Kementerian Kesehatan mengenai keluhan yang umum ditemukan pada ISPA. Gejala dapat muncul setelah seseorang terpapar agen penyebab infeksi dan pada umumnya bersifat sementara.

Namun, masyarakat perlu memahami bahwa gejala seperti batuk, pilek dan demam tidak secara otomatis menunjukkan satu penyebab tertentu. Diagnosis dan penentuan penyebab penyakit tetap memerlukan penilaian tenaga kesehatan, terutama apabila keluhan semakin berat atau tidak kunjung membaik.

Gejala ISPA biasanya muncul sekitar tiga hari setelah terpapar dan dapat berlangsung hingga sekitar 7-10 hari. Pada sebagian orang, keluhan dapat bertahan lebih lama hingga beberapa minggu.

Mengapa ISPA Perlu Diwaspadai?

Keluhan ISPA sering kali dianggap sebagai penyakit ringan karena gejalanya menyerupai flu biasa. Padahal, gangguan saluran pernapasan dapat memiliki tingkat keparahan yang berbeda-beda.

Baca Juga  Bertemu PM Modi di Sela KTT G20, Prabowo Perkuat Kerjasama Pendidikan dan Kesehatan dengan India

Kementerian Kesehatan mencatat bahwa pada kondisi yang lebih berat, seseorang dapat mengalami sesak napas, gangguan pernapasan atau nyeri dada. Kondisi seperti ini membutuhkan pemeriksaan dan penanganan medis.

Perhatian lebih juga diperlukan terhadap kelompok yang rentan mengalami komplikasi atau dampak lebih berat, seperti bayi, balita, lanjut usia, serta orang dengan kondisi tertentu yang membuat daya tahan tubuhnya lebih rendah.

Selain faktor infeksi, kualitas udara juga berkaitan dengan kesehatan saluran pernapasan. Kementerian Kesehatan menyebut paparan polusi udara, debu halus, asap kendaraan dan sumber polusi lainnya sebagai faktor yang dapat berdampak buruk terhadap sistem pernapasan.

Bagaimana Cara Merawat ISPA?

Dinkes Bangkalan memberikan sejumlah langkah perawatan yang dapat dilakukan ketika seseorang mengalami ISPA.

Pertama, cukup beristirahat. Tubuh membutuhkan waktu dan energi untuk menjalankan proses pemulihan ketika menghadapi infeksi.

Kedua, memperbanyak minum air putih. Asupan cairan yang cukup membantu memenuhi kebutuhan tubuh selama sakit.

Ketiga, mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Asupan nutrisi tetap diperlukan agar tubuh memperoleh energi dan zat gizi yang dibutuhkan selama masa pemulihan.

Keempat, Dinkes Bangkalan juga menyarankan berkumur menggunakan air garam atau menghirup uap sebagai bagian dari upaya membantu meredakan keluhan tertentu.

Kelima, apabila mengalami demam atau nyeri, obat dapat digunakan sesuai aturan pakai dan kebutuhan. Penggunaan obat sebaiknya memperhatikan petunjuk pada kemasan atau arahan tenaga kesehatan.

Yang tidak kalah penting, masyarakat dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila gejala semakin berat atau tidak membaik.

Jangan Sembarangan Menggunakan Antibiotik

Salah satu pesan penting Dinkes Bangkalan adalah larangan menggunakan antibiotik tanpa resep tenaga kesehatan.

Hal ini penting, karena ISPA tidak selalu disebabkan oleh bakteri. Banyak infeksi saluran pernapasan disebabkan oleh virus, sementara antibiotik digunakan untuk menangani infeksi bakteri tertentu dan tidak bekerja terhadap virus.

Karena itu, penggunaan antibiotik secara sembarangan tidak tepat dan dapat menimbulkan persoalan kesehatan, termasuk risiko resistansi antimikroba. Pemilihan obat harus disesuaikan dengan penyebab dan kondisi pasien berdasarkan penilaian tenaga kesehatan.

Dengan demikian, masyarakat sebaiknya tidak membeli atau mengonsumsi antibiotik hanya karena mengalami batuk, pilek atau demam.

Mencegah ISPA Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari

Pencegahan ISPA pada dasarnya dapat dilakukan melalui berbagai kebiasaan sederhana sehari-hari, antara lain:

1. Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang.

2. Rutin berolahraga.

3. Mendapatkan istirahat yang cukup.

Baca Juga  Resolusi Fraksi PKB DPRD Jatim 2026: Anggaran Pro-Rakyat, Tekan Kemiskinan dan Jaga Lingkungan

4. Minum air putih yang cukup.

5. Menjaga kebersihan lingkungan.

6. Rajin mencuci tangan.

7. Menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit.

8. Menggunakan masker ketika menghadapi paparan debu atau berada dekat dengan orang yang mengalami gejala ISPA.

Senada, Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya mencuci tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, menggunakan masker ketika sakit atau ketika kualitas udara buruk, serta menghindari kontak dekat dengan orang yang mengalami infeksi saluran pernapasan.

Etika Batuk dan Bersin: Mencegah Penularan

Seseorang yang sedang mengalami ISPA tidak hanya perlu memikirkan proses kesembuhan dirinya sendiri. Ia juga memiliki peran untuk mencegah penularan kepada orang lain.

Dinkes Bangkalan mengingatkan masyarakat yang sedang sakit agar tidak sampai menularkan penyakit kepada orang-orang yang disayangi. Salah satunya dengan menerapkan etika batuk dan bersin.

Ketika hendak batuk atau bersin, seseorang dianjurkan menjauhkan wajah dari orang lain dan menutup mulut serta hidung menggunakan tisu atau bagian dalam siku. Jika menggunakan tisu, tisu bekas perlu segera dibuang ke tempat sampah.

Setelah itu, tangan perlu dibersihkan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan pembersih tangan berbasis alkohol.

Langkah sederhana tersebut penting karena penularan berbagai infeksi saluran pernapasan dapat terjadi melalui percikan pernapasan maupun kontak dengan tangan atau benda yang telah terkontaminasi.

Menggunakan Masker dengan Benar

Masker juga menjadi salah satu bagian penting dalam pencegahan penularan. Dinkes Bangkalan memberikan sejumlah tips penggunaan masker ketika sedang mengalami ISPA. Di antaranya memilih masker minimal tiga lapis, memastikan masker menutupi hidung, mulut dan dagu dengan baik, serta mengaitkan tali masker pada telinga.

Bagian depan masker sebaiknya tidak disentuh secara sembarangan. Masker juga perlu diganti apabila sudah lembap, basah, kotor atau rusak.

Setelah selesai digunakan, masker dibuang pada tempat sampah yang sesuai dan tangan dicuci setelah melepas masker. Masker juga tidak dianjurkan digunakan bersama orang lain.

Penggunaan masker bukan hanya berkaitan dengan perlindungan diri. Ketika seseorang sedang mengalami infeksi pernapasan, masker juga dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi risiko penyebaran kepada orang di sekitarnya.

Menjaga Kebersihan Tangan

Tangan merupakan salah satu bagian tubuh yang sering bersentuhan dengan berbagai benda. Karena itu, kebiasaan mencuci tangan menjadi langkah sederhana tetapi penting dalam pencegahan penyakit infeksi.

Mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir dapat dilakukan terutama setelah batuk atau bersin, setelah membuang tisu, sebelum makan, setelah dari tempat umum, serta setelah melakukan aktivitas lain yang berpotensi membuat tangan terkontaminasi.

Baca Juga  Pemkot Surabaya Pastikan Imunisasi Anak Sekolah dan Cek Kesehatan Berjalan Lancar

Kementerian Kesehatan juga memasukkan kebersihan tangan sebagai salah satu langkah pencegahan infeksi saluran pernapasan.

Kondisi Lingkungan dan Kualitas Udara

Kesehatan saluran pernapasan juga tidak dapat dipisahkan dari kondisi lingkungan. Paparan debu, asap rokok, asap kendaraan dan polusi udara dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan.

Kementerian Kesehatan menganjurkan masyarakat memperhatikan kualitas udara, mengurangi aktivitas luar ruangan ketika polusi tinggi, menghindari sumber polusi dan asap rokok, serta menggunakan masker ketika kondisi udara tidak sehat.

Karena itu, menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, memastikan sirkulasi udara memadai, serta mengurangi paparan asap menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan pernapasan.

Kapan Harus Memeriksakan Diri?

Tidak semua keluhan ISPA membutuhkan penanganan di rumah sakit. Namun, masyarakat perlu mengetahui kapan kondisi tersebut sudah membutuhkan pemeriksaan tenaga kesehatan.

Dinkes Bangkalan mengingatkan agar masyarakat segera memeriksakan diri apabila gejala semakin berat, mengalami kesulitan bernapas, mengalami demam tinggi atau kondisi tidak kunjung membaik.

Pada kondisi yang lebih berat, gejala seperti sesak napas, napas cepat, nyeri dada atau tanda gangguan oksigenasi perlu mendapatkan perhatian medis segera.

Khusus pada bayi dan anak kecil, orang tua juga perlu memperhatikan perubahan perilaku, kesulitan minum, gangguan kesadaran, atau kesulitan bernapas karena kelompok usia tersebut dapat mengalami perburukan dengan cepat pada infeksi saluran pernapasan tertentu.

Lindungi Diri dan Keluarga

ISPA tidak hanya menjadi persoalan individu. Ketika seseorang sakit, perilaku selama masa sakit dapat menentukan apakah infeksi tersebut berpotensi menyebar kepada anggota keluarga, teman, maupun orang lain di lingkungan sekitar.

Karena itu, pesan utama dapat dirangkum dalam satu prinsip sederhana: melindungi diri sekaligus melindungi orang lain.

Menjaga kebersihan tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, menggunakan masker dengan benar, menghindari kontak dekat ketika sedang sakit, menjaga kualitas lingkungan, mengonsumsi makanan bergizi, cukup beristirahat dan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan ketika kondisi memburuk merupakan bagian dari upaya tersebut.

Kewaspadaan terhadap ISPA bukan berarti harus panik terhadap setiap batuk atau pilek. Yang lebih penting adalah mengenali gejalanya, melakukan perawatan yang tepat, tidak menggunakan obat secara sembarangan, mencegah penularan, dan mengetahui kapan bantuan tenaga kesehatan diperlukan.***