MAKLUMAT — Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo, Ainun Amalia SSos, mengungkapkan bahwa potensi konflik dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak 2026 di Kabupaten Sidoarjo cukup tinggi.
Meski begitu, ia menegaskan kesiapan dalam penyelenggaraan Pilkades serentak 2026 dengan penuh effort dan kehati-hatian.
Menurutnya, kedekatan antara kandidat dan pemilih di desa menyebabkan gesekan antar-pendukung yang cukup tegang. Bahkan, kata dia, lebih keras jika dibandingkan dengan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).
“Kalau kita ukur dari potensi konfliknya, lebih parah konflik di Pilkades daripada Pilkada, Pilgub, dan sebagainya. Karena mungkin gesekan masyarakatnya antar pendukung itu memang langsung terjadi di desa seperti itu,” ujarnya, ketika menjadi narasumber dalam Maklumat Podcast, dikutip Jumat (22/5/2026).
“Jadi setiap pelaksanaan Pilkades itu memang effort kita untuk menjaga keamanan, ketertiban, kondusivitas wilayah ini memang cukup berat,” sambung Ainun.
Sebab itu, ia menegaskan bahwa pihaknya telah mempersiapkan berbagai upaya dan langkah secara terukur dan hati-hati, untuk memastikan pelaksanaan Pilkades serentak 2026 di Kota Delta berjalan lancar, aman, dan kondusif.
“Lebih berat. Jadi kehati-hatian kita untuk mengatur regulasinya, kehati-hatian kita untuk menetapkannya, dan sebagainya, itu memang lebih berat daripada Pilkada, Pilgub, dan sebagainya,” tandas Ainun.
Tingkat Golput Rendah
Meski begitu, Ainun menyebut bahwa tingkat golput pada Pilkades jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan Pilkada atau Pemilihan Anggota Legislatif (Pileg).
“Kalau tingkat golput sih sampai saat ini, kalau Pilkades itu mungkin karena lebih menarik ya Pilkades itu ya, jadi mungkin tingkat golputnya sampai dengan saya menjadi asisten ini memang kecil tingkat golputnya,” katanya.
Selain itu, ia menilai kedekatan emosional kandidat dengan para pemilih di tingkat desa menyebabkan masyarakat tergerak untuk memilih. Berbeda jika dibandingkan dengan Pileg, yang menurutnya sering kali kandidat tidak memiliki kedekatan dengan konstituen.
“Pilkades ini juga istilahnya dukungan-dukungan dari masyarakatnya kan memang lebih mendekat. Kepada calon-calon yang akan diusung kan gitu ya. Secara emosional lebih dekat mereka kan lebih dekat,” jelasnya.
“Kalau Pilpres, Pileg, mungkin calonnya jauh ya. Kadang-kadang gak mengenal ya. Tapi kalau Pilkades ini kan lebih mengenal siapa sosok pemimpin yang akan diusung dan sebagainya,” imbuh Ainun.














