Kenaikan Harga Pertamax Jadi Rp16.250 per Liter Ancam Daya Beli Kelas Menengah

spbu

MAKLUMAT – Kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter memicu kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Lonjakan harga bahan bakar tersebut dinilai dapat memicu efek berantai yang berdampak langsung pada biaya hidup, inflasi, hingga melemahnya daya beli rumah tangga.

Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK), Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid mengingatkan pemerintah agar segera menyiapkan langkah mitigasi untuk mengantisipasi dampak ekonomi yang muncul akibat kenaikan harga BBM tersebut.

Menurutnya, kenaikan harga Pertamax tidak hanya membebani pengguna kendaraan pribadi. Dampaknya juga akan merembet ke sektor transportasi, distribusi logistik, hingga harga berbagai kebutuhan pokok yang dikonsumsi masyarakat setiap hari.

“Yang paling perlu diwaspadai adalah efek dominonya. Ketika biaya transportasi meningkat, harga barang dan jasa ikut terdorong naik,” ujar Habib Syakur dikutip, Kamis (11/6/2026).

Ia menilai kelompok kelas menengah menjadi lapisan masyarakat yang paling rentan menghadapi tekanan ekonomi akibat kebijakan tersebut. Selama ini, kelas menengah berperan besar dalam menjaga konsumsi domestik yang menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Habib Syakur menjelaskan apabila kenaikan biaya hidup tidak diikuti peningkatan pendapatan masyarakat, kemampuan belanja rumah tangga akan terus menurun. Kondisi tersebut berpotensi membuat sebagian keluarga kelas menengah mengalami penurunan status ekonomi.

Baca Juga  Soal Deflasi 5 Bulan Terakhir, Jokowi Beri Penjelasan

“Kelas menengah adalah tulang punggung konsumsi nasional. Jika kelompok ini semakin tertekan, dampaknya akan dirasakan hampir seluruh sektor ekonomi,” katanya.

Selain itu, ia memperingatkan kemungkinan terjadinya migrasi konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi. Fenomena tersebut berpotensi meningkatkan beban distribusi energi nasional dan memicu antrean panjang di sejumlah SPBU.

Karena itu, pemerintah diminta menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, memperkuat pengawasan distribusi energi, serta menyiapkan kebijakan kompensasi yang mampu melindungi daya beli masyarakat.

Habib Syakur menegaskan kenaikan harga BBM yang terlalu tinggi dapat memperbesar tekanan ekonomi masyarakat di tengah berbagai tantangan global yang masih berlangsung.

“Pemerintah harus memastikan beban ekonomi tidak sepenuhnya ditanggung rakyat. Stabilitas daya beli harus menjadi prioritas agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga,” tegasnya.

Kekhawatiran terhadap kenaikan harga Pertamax cukup beralasan karena BBM merupakan komponen biaya yang memengaruhi hampir seluruh aktivitas ekonomi. Dampak langsung memang dirasakan pengguna kendaraan pribadi, namun dampak terbesar biasanya muncul dari kenaikan ongkos distribusi barang dan jasa yang kemudian mendorong inflasi.

Jika daya beli kelas menengah melemah, konsumsi rumah tangga yang selama ini menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan ekonomi nasional berpotensi melambat.

Baca Juga  Antara Rindu Kampung Halaman dan Perhitungan Ekonomi

Kondisi ini dapat menekan sektor perdagangan, UMKM, transportasi, hingga industri konsumsi. Karena itu, efektivitas langkah mitigasi pemerintah akan menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam beberapa bulan ke depan.