Pakar UMY Sebut Keselamatan Perkeretaapian Harus Berbasis Budaya dan Sistem, Apa Maksudnya?

keselamatan-perkeretaapian-budaya-sistem-pakar-umy

MAKLUMAT – Insiden tabrakan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur baru-baru ini bukan sekadar angka dalam statistik kecelakaan. Peristiwa ini adalah alarm keras yang mengusik rasa aman di ruang publik. Pakar perkeretaapian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Ir. Sri Atmaja P. J. Nasir Rosyidi, menegaskan bahwa kecanggihan teknologi transportasi akan lumpuh jika tidak dibarengi dengan satu hal fundamental: Budaya Keselamatan.

Bagi Prof. Sri Atmaja, keselamatan perkeretaapian seharusnya tidak lagi dipandang sebagai prosedur kaku di atas kertas, melainkan sebuah gaya hidup (lifestyle) dan kesadaran intelektual yang mendarah daging bagi operator maupun pengguna jasa.

Filosofi ‘Fail-Safe’ dan Manajemen Risiko

Dalam dunia perkeretaapian modern, dikenal prinsip fail-safe. Secara intelektual, prinsip ini menjamin bahwa jika terjadi kegagalan pada satu komponen, sistem secara otomatis akan beralih ke kondisi aman untuk mencegah bencana. Prof. Sri Atmaja mencontohkan penggunaan sistem interlocking dan pengereman berlapis sebagai benteng pertahanan terakhir.

Namun, mesin tetaplah mesin. Prof. Sri Atmaja menekankan bahwa SDM yang kompeten adalah “ruh” dari teknologi tersebut. Setiap personel harus memiliki ketajaman dalam mengidentifikasi bahaya secara instan. Di sinilah siklus Plan-Do-Check-Act (PDCA) menjadi krusial—sebuah disiplin evaluasi berkelanjutan yang memastikan kesalahan hari ini tidak terulang di masa depan.

Baca Juga  Whoosh dan Dugaan Korupsi Konstruksi: Keterangan Pakar UMY Ungkap Celah, KPK Bisa Masuk Lebih Dalam

Keselamatan sebagai Investasi Jangka Panjang

Salah satu tantangan terbesar dalam keselamatan perkeretaapian di wilayah padat seperti Jabodetabek adalah jarak antar kereta (headway) yang sangat pendek. Kondisi ini menuntut presisi tingkat tinggi. Prof. Sri Atmaja mengingatkan agar regulator dan operator tidak memandang perangkat keselamatan sebagai beban biaya (cost), melainkan investasi jangka panjang untuk perlindungan nyawa manusia.

Sembari menunggu hasil investigasi objektif dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk mengungkap akar masalah (root cause), publik diajak untuk mulai membangun kesadaran kolektif. “Keselamatan di perlintasan sebidang, misalnya, sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat. Ini soal etika kita dalam berlalu lintas,” tambahnya.

Menuju ‘Zero Accident’ sebagai Budaya

Visi utama yang diusung bukan sekadar menurunkan angka kecelakaan, melainkan mencapai Zero Accident. Target ini hanya bisa dicapai jika keselamatan sudah menjadi identitas kolektif. Jika budaya ini sudah tertanam, maka sistem transportasi bukan lagi menjadi tempat yang mencekam, melainkan ruang mobilitas yang mencerahkan dan aman.

“Jika budaya keselamatan sudah menjadi napas kita, maka teknologi akan bekerja lebih efektif. Nyawa manusia terlalu berharga untuk dikompromikan dengan kelalaian sistemik,” pungkas Prof. Sri Atmaja.***

Baca Juga  Gunung Es di Atas Rel: Keselamatan (Makin) Terabaikan?