MAKLUMAT — Kondisi Rumah Potong Hewan atau RPH Tambak Osowilangun di Surabaya dinilai masih memerlukan banyak pembenahan setelah relokasi dari RPH Pegirian. Hal itu diungkapkan oleh Sekretaris Bidang HPKP IMM Surabaya, Yogaraksa Ananta.
Yoga, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa pihaknya telah mendampingi sejumlah pekerja yang mengeluhkan kondisi fasilitas dan infrastruktur di RPH Tambak Osowilangun.
Menurutnya, berbagai persoalan tersebut dinilai mengganggu kelancaran aktivitas pemotongan hewan sejak relokasi dari RPH Pegirian.
“Berdasarkan pantauan kami, ada sejumlah peralatan yang kurang sesuai dengan apa yang diharapkan,” ujarnya kepada wartawan Maklumat.id pada Rabu (17/6/2026).
“Di antaranya seperti kerekan daging yang sering macet, sejumlah keran air yang tak berfungsi, pencahayaan di ruang boning yang kurang optimal, serta kebersihan mandi cuci kakus sangat kotor,” imbuhnya.
Hal itu disampaikan Yoga saat menggambarkan kondisi RPH Tambak Osowilangun yang menurutnya memburuk setelah pemindahan operasional dari Pegirian.
Ia menilai sejumlah fasilitas yang tersedia saat ini belum mampu mendukung kebutuhan operasional secara optimal. Karena itu, beberapa sarana dinilai perlu segera diperbaiki dan direnovasi.
Selain persoalan fasilitas, Yoga juga menyoroti perlunya peningkatan kualitas infrastruktur di RPH Tambak Osowilangun. Menurut dia, Pemerintah Kota Surabaya perlu memastikan fasilitas di lokasi baru setidaknya setara dengan RPH Pegirian yang sebelumnya menjadi pusat aktivitas pemotongan hewan di kota tersebut.
Ia mengingatkan bahwa Surabaya merupakan daerah dengan jumlah pemotongan sapi terbesar di Indonesia sehingga keberadaan RPH yang memadai menjadi kebutuhan penting.
“Seharusnya Pemkot membuat RPH minimal setara dengan RPH Pegirian, mengingat RPH yang ada di Surabaya memiliki jumlah pemotongan sapi terbesar se-Indonesia,” katanya.
Yoga juga menyinggung nilai historis RPH Pegirian yang telah berdiri sejak 1927. Menurut dia, keberadaan RPH tersebut selama ini menjadi bagian dari sejarah dan identitas layanan pemotongan hewan di Surabaya.
Karena itu, ia berharap RPH Tambak Osowilangun yang dibangun sebagai fasilitas baru mampu menghadirkan standar pelayanan dan infrastruktur yang lebih baik.
“Surabaya sudah memiliki ikon RPH Pegirian sejak 1927, harusnya sekarang sudah modern, namun malah kurang layak,” ujarnya.
Di lapangan, kata Yoga, masih terdapat sejumlah kendala teknis yang berdampak langsung terhadap proses pemotongan hewan. Beberapa di antaranya berkaitan dengan desain bangunan dan sistem pendukung operasional yang dinilai belum memadai. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi efisiensi kerja sekaligus kualitas proses pemotongan.
*) Penulis: M Habib Muzaki












