Kursi Roda hingga Toilet Portabel Terkendala Masuk Gaza, Israel Sebut Kategori Dual-Use

Kebutuhan kursi roda hingga toilet portabel di Gaza meningkat, sementara sejumlah laporan menyebutkan bantuan tersebut mengalami kendala untuk masuk Gaza dan dikategorikan sebagai barang dual-use oleh otoritas Israel. (Foto: Hujan Rights Watch)

MAKLUMAT — Sejumlah organisasi kemanusiaan dan media Palestina melaporkan adanya kendala pemasukan sejumlah barang kebutuhan dasar ke Jalur Gaza, termasuk kursi roda, dudukan toilet, terpal, kantong tidur, dan toilet portabel. Barang-barang tersebut disebut dikategorikan sebagai barang dual-use atau penggunaan ganda yang memerlukan peninjauan dan izin khusus.

Dilansir dari media asal Yordania, Royanews tv, pada Senin (21/9/2026), Kelompok hak asasi manusia Israel, Gisha, menyebut bahwa sejak 7 Oktober 2023 sejumlah barang sipil, termasuk kursi roda non-elektrik, terpal, kantong tidur, senter, dan toilet portabel, masuk dalam kategori barang penggunaan ganda.

Namun, otoritas Israel melalui Coordination of Government Activities in the Territories (COGAT) menyatakan bahwa masuknya barang yang masuk kategori dual-use bukan berarti dilarang secara menyeluruh. Barang tersebut memerlukan proses koordinasi dan persetujuan sebelum dapat masuk ke Gaza.

Laporan mengenai kendala tersebut muncul di tengah kebutuhan kemanusiaan yang meningkat akibat kerusakan infrastruktur dan perpindahan penduduk secara berulang.

Kebutuhan Alat Bantu Meningkat

Kebutuhan terhadap kursi roda dan perangkat bantu mobilitas meningkat seiring bertambahnya jumlah orang yang mengalami cedera akibat perang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan hampir 33.000 produk dan teknologi bantu dibutuhkan di Gaza berdasarkan penilaian Desember 2025. Hingga Mei 2026, sebanyak 12.146 produk mobilitas telah tercatat didistribusikan, atau sekitar sepertiga dari kebutuhan yang teridentifikasi.

Baca Juga  Ribuan Warga Batang Gelar Aksi Solidaritas Palestina

WHO juga mencatat bahwa tidak ada peralatan rehabilitasi untuk fasilitas kesehatan yang masuk ke Gaza selama periode Mei 2024 hingga pertengahan April 2026. Pada pertengahan April, terdapat 18 pengiriman perlengkapan rehabilitasi yang masih menunggu izin masuk dengan waktu tunggu antara 130 hingga 520 hari. Barang yang tertahan antara lain kursi roda untuk orang dewasa dan anak-anak, anggota tubuh prostetik, serta peralatan rehabilitasi dasar.

Kondisi tersebut semakin kompleks karena infrastruktur Gaza mengalami kerusakan luas. WHO menyebut kerusakan infrastruktur, medan yang sulit, serta minimnya layanan pemeliharaan dan perbaikan turut memperpendek usia penggunaan alat bantu mobilitas.

Di sisi lain, COGAT menyatakan bahwa bantuan medis tetap dapat masuk melalui mekanisme yang ditetapkan. Dalam salah satu laporan resminya, COGAT menyebut bantuan yang telah dikoordinasikan mencakup sejumlah peralatan medis, termasuk kursi roda.

Krisis Sanitasi Kian Buruk

Kendala juga dilaporkan terjadi pada barang-barang yang berkaitan dengan sanitasi. Berdasarkan laporan Al Jazeera, sembilan dari sepuluh warga Palestina di Gaza mengungsi dan lebih dari 90 persen rumah rusak atau hancur, yang memicu lonjakan tajam permintaan akan toilet portabel.

Harga sebuah dudukan toilet bekas berkisar antara 1.500 hingga 2.000 shekel, atau sekitar 600 dolar AS. Akibatnya, sebagian warga melubangi kursi plastik yang diletakkan di atas pasir, dan satu toilet umum sering kali digunakan bersama oleh 20 hingga 25 orang.

Baca Juga  Israel Gasak Stasiun TV Nasional Iran, Siaran Langsung Sempat Dihentikan Sesaat

WAFA pada April 2026 melaporkan kelangkaan dudukan toilet dan perlengkapan terkait di Gaza. Warga disebut menggunakan berbagai cara darurat, termasuk memanfaatkan kursi biasa atau material dari bangunan yang rusak sebagai fasilitas sanitasi.

Kondisi sanitasi di Gaza memang menjadi salah satu persoalan kemanusiaan yang serius. Penilaian bersama sektor air, sanitasi, dan kebersihan (WASH) yang dikutip OCHA pada Juli 2026 menunjukkan hanya 52 persen rumah tangga yang dinilai memiliki akses terhadap sanitasi dasar. Sekitar 60 persen penduduk juga masih terpapar air limbah atau kotoran manusia dalam jarak 10 meter dari tempat tinggal atau tempat berlindung mereka.

OCHA juga mencatat bahwa kondisi tersebut berisiko terhadap kesehatan masyarakat, terutama di tengah keterbatasan layanan air bersih, sanitasi, pengelolaan sampah, dan kepadatan tempat pengungsian.

Seorang dokter di Rumah Sakit Al-Aqsa Martyrs di Deir al-Balah mengatakan bahwa unit gawat darurat sering menangani kasus diare, penyakit kulit, dan gangguan pencernaan yang berulang pada anak-anak, perempuan, dan lansia; banyak di antaranya terkait dengan kondisi di dalam tenda-tenda pengungsian.

Pada September 2026, OCHA melaporkan bahwa kondisi WASH di Gaza masih kritis. Seluruh enam fasilitas pengolahan air limbah disebut masih tidak beroperasi, sementara sekitar 70 persen stasiun pompa air limbah tidak berfungsi. Akibatnya, lebih dari 150.000 meter kubik air limbah yang tidak diolah dibuang ke lingkungan setiap hari.

Baca Juga  Israel Resmi Masuk Board of Peace, Prabowo Berpotensi Semeja dengan Buronan ICC

Dampak bagi Penyandang Disabilitas

Krisis sanitasi juga memberikan dampak khusus bagi penyandang disabilitas. WAFA melaporkan bahwa banyak tempat pengungsian tidak memiliki fasilitas toilet yang aksesibel, sehingga penyandang disabilitas harus mendapatkan bantuan keluarga atau orang lain untuk mencapai toilet.

Situasi tersebut berlangsung bersamaan dengan meningkatnya kebutuhan terhadap alat bantu akibat cedera dan disabilitas yang berkaitan dengan konflik. OCHA memperkirakan sekitar seperempat orang yang mengalami luka sejak eskalasi Oktober 2023 mengalami cedera yang berpotensi mengubah kehidupan, termasuk amputasi serta cedera tulang belakang dan otak.

Dengan kondisi tersebut, kebutuhan terhadap kursi roda, prostetik, toilet yang aksesibel, terpal, dan perlengkapan sanitasi menjadi bagian dari kebutuhan dasar bagi masyarakat Gaza yang tinggal di tengah keterbatasan infrastruktur yang hancur.***