Lebaran dan Kebebasan Jiwa: Menyingkap Mentalitas Dominasi

Penulis: Nashrul Mu'minin. *)

MAKLUMAT — Lebaran identik dengan kebahagiaan, silaturahmi, hingga tradisi maaf-memaafkan. Namun, di balik kemeriahan itu, tersimpan peluang untuk refleksi kritis terhadap mentalitas sosial dan budaya yang membelenggu manusia. Mentalitas hegemonik—kecenderungan menerima norma dominan tanpa pertanyaan—membuat manusia terjebak dalam pola pikir yang tidak sehat, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun lingkungan kerja. Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an, “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya” (QS. Al-Isra: 36), mengingatkan agar setiap tindakan dibarengi kesadaran dan kebebasan berpikir.

Lebaran, dalam konteks spiritual, bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah momentum untuk membebaskan diri dari belenggu sosial dan budaya yang menekan. Banyak tradisi diterima begitu saja, padahal tidak selalu membawa kebaikan.

Rasulullah Saw menekankan pentingnya ikhtiar berpikir dan tadabbur: “Barang siapa yang mengikuti suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim).

Dalam konteks Lebaran, refleksi semacam ini memungkinkan manusia membedakan antara ritual yang bermakna dan yang sekadar formalitas sosial.

Mentalitas hegemonik sering muncul dalam bentuk perbandingan sosial. Saat Lebaran, media sosial dipenuhi foto kemewahan, hadiah, dan perjalanan. Fenomena ini menimbulkan rasa iri, FOMO, dan tekanan untuk selalu tampil lebih baik dari orang lain. Padahal, Islam menekankan zuhud dan kesederhanaan. Allah SWT berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia” (QS. Al-Qashash: 77), menegaskan bahwa kebahagiaan sejati bukan diukur dari materi atau penampilan sosial.

Selain tekanan sosial, Lebaran juga membuka peluang bagi refleksi pribadi terhadap struktur kekuasaan yang mengatur kehidupan sehari-hari. Mentalitas dominasi, baik dalam keluarga maupun pekerjaan, sering menghambat kreativitas, kemandirian, dan keadilan.

Nabi Saw mengingatkan: “Tidaklah beriman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pesan ini menekankan prinsip kesetaraan dan mengikis budaya hierarki yang merugikan.

Baca Juga  Menjaga Nilai Al-Ma’un di Tengah Krisis Kemanusiaan

Lebaran menjadi momen tepat untuk meninjau kembali relasi kuasa dalam keluarga dan masyarakat. Kebiasaan tunduk pada norma dominan tanpa kritis—misal menerima stereotipe gender, ekspektasi ekonomi, atau tekanan status sosial—merupakan bentuk mentalitas hegemonik yang sering tidak disadari. Dengan memanfaatkan momen Lebaran untuk evaluasi diri, manusia dapat memerdekakan pikiran dan menumbuhkan kesadaran kritis.

Pentingnya membebaskan diri dari belenggu mentalitas hegemonik juga terkait dengan pendidikan spiritual. Salat, zikir, dan doa bukan sekadar ritual formal, tetapi sarana untuk meneguhkan kebebasan hati dari tekanan eksternal.

Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk” (QS. Al-Bayyinah: 7).

Dengan kata lain, kebahagiaan spiritual hadir ketika hati bebas dari dominasi sosial dan mengikat diri pada nilai-nilai kebaikan.

Fenomena konsumsi berlebihan saat Lebaran—mulai dari makanan, pakaian, hingga hadiah—sering menjadi simbol dominasi ekonomi dan status sosial. Mentalitas ini menjerat banyak orang dalam utang, persaingan, dan ketidakpuasan. Islam mengajarkan tawazun, keseimbangan antara kebutuhan dunia dan akhirat.

Rasulullah Saw bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain” (HR. Ahmad).

Prinsip ini menekankan bahwa kebahagiaan sejati hadir dari manfaat sosial, bukan sekadar tampilan materi.

Baca Juga  Merawat Kebhinekaan di Era Digital: Gerakan Jempol Baik dan Teladan Aries Marsudiyanto

Selain itu, Lebaran adalah momentum memperbaiki hubungan antarindividu. Konflik keluarga, persaingan antar tetangga, atau ketidakadilan sosial dapat diperbaiki dengan semangat maaf.

Mentalitas dominasi sering menimbulkan dendam dan ketidakadilan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Al-Qur’an mengingatkan: “Dan balasan yang baik adalah menghapus keburukan dengan yang lebih baik” (QS. Fussilat: 34). Memaafkan bukan sekadar formalitas, tetapi bentuk pembebasan mental dan spiritual dari tekanan hegemonik.

Hegemoni sosial juga menekan cara berpikir kritis. Banyak orang menerima opini mayoritas tanpa analisis, termasuk soal norma Lebaran, distribusi harta, atau pembagian peran dalam keluarga. Momen Lebaran mengajarkan pentingnya evaluasi kritis. Rasulullah SAW menegaskan, “Bertanyalah tentang kebaikan dan jangan sekadar ikut-ikutan” (HR. Abu Dawud). Dengan kesadaran ini, Lebaran menjadi sarana pembebasan intelektual dan spiritual.

“Dengan kesadaran ini, Lebaran menjadi sarana pembebasan intelektual dan spiritual.”

Lebaran juga mengingatkan manusia akan kesementaraan dunia. Kekuasaan, status, dan materi hanyalah sementara; ujian Allah menilai kualitas hati. Mentalitas hegemonik sering membuat manusia mengabaikan nilai spiritual demi kepentingan dunia. Allah SWT berfirman, “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati” (QS. Ali Imran: 185). Kesadaran ini memotivasi manusia untuk memprioritaskan akhlak, ilmu, dan kebaikan atas segala tekanan sosial.

Refleksi Lebaran harus menyasar internalisasi nilai keadilan. Dalam masyarakat yang kerap dipengaruhi oligarki atau dominasi ekonomi, individu perlu belajar menegakkan prinsip keadilan dan empati. Rasulullah Saw bersabda, “Orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa” (QS. Al-Hujurat: 13). Ketakwaan di sini mencakup kebebasan dari dominasi, keberanian menegakkan kebenaran, dan kesadaran moral.

Baca Juga  20 Tahun Lumpur Lapindo: Tenggelam di Tanah Sendiri

Kritik terhadap mentalitas hegemonik juga relevan di ranah gender. Banyak budaya yang membatasi peran perempuan atau memaksakan norma tertentu. Lebaran bisa menjadi momentum untuk refleksi kesetaraan.

Al-Qur’an menegaskan, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang lain” (QS. At-Taubah: 71).

Prinsip ini menekankan kerja sama, bukan dominasi.

Selain itu, Lebaran mengajarkan pentingnya keseimbangan antara spiritualitas dan sosial. Hidup yang terlalu tunduk pada dominasi budaya atau tekanan sosial akan mengikis ketenangan batin. Zikir, salat, dan muhasabah diri menguatkan jiwa. Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” (QS. Al-Ankabut: 69). Jalan ini membuka ruang kebebasan spiritual.

Momen Lebaran juga bisa digunakan untuk membangun komunitas kritis yang menghargai kebenaran, keadilan, dan solidaritas. Mentalitas hegemonik sering menimbulkan kesenjangan sosial; melalui silaturahmi, diskusi, dan kolaborasi, umat Islam dapat membangun ruang inklusif dan merdeka dari dominasi.

Rasulullah Saw menekankan, “Perumpamaan orang mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan menolong adalah seperti satu tubuh; jika satu anggota sakit, anggota lain merasakannya” (HR. Muslim).

Akhirnya, Lebaran lebih dari sekadar hari raya. Ia adalah momentum spiritual untuk membebaskan jiwa dari belenggu mentalitas dominasi, meneguhkan keadilan, empati, dan kebebasan berpikir.

Dengan refleksi, muhasabah, zikir, dan silaturahmi, manusia dapat menata kembali hatinya, menjadikan Lebaran bukan hanya pesta formalitas, tetapi titik balik pembebasan mental dan spiritual.