Ledakan MAN 3 Padang: Polisi Selidiki Dugaan Bom Rakitan, Psikolog Ingatkan Bahaya Bullying

Polisi memeriksa area ledakan MAN 3 Padang.

MAKLUMAT — Aparat kepolisian masih menyelidiki penyebab ledakan yang terjadi di lingkungan MAN 3 Kota Padang, Sumatera Barat, Selasa (14/7/2026). Peristiwa yang diduga melibatkan bom rakitan tersebut menggegerkan warga dan memicu perhatian publik terhadap isu kesehatan mental serta perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.

Hingga Rabu (15/7/2026) siang, motif maupun penyebab pasti peristiwa tersebut belum diumumkan secara resmi oleh kepolisian.

Kepala MAN 3 Kota Padang, Marliza, membenarkan adanya insiden tersebut. Saat kejadian sekitar pukul 10.00 WIB, ia mengaku sedang mengikuti rapat bersama para guru sehingga tidak mendengar suara ledakan.

“Jam sekitar pukul 10.00 WIB saat jam istirahat kami sedang rapat. Kami tidak mendengar suara ledakan. Informasinya justru kami dapat dari guru,” ujar Marliza seperti dilansir katasumbar.

Menurutnya, siswa saat itu tengah menjalani waktu istirahat sebelum kembali memasuki kelas ketika informasi mengenai ledakan diterima pihak sekolah.

“Anak-anak sedang istirahat dan bersiap masuk kelas lagi. Tiba-tiba ada informasi dari rekan-rekan kalau terjadi peristiwa itu,” katanya.

Polisi Tangani Lokasi Kejadian

Sesaat setelah insiden terjadi, aparat kepolisian langsung mengamankan lokasi dan melakukan penyelidikan.

Marliza mengatakan seluruh penanganan telah diambil alih oleh aparat penegak hukum.

“Polisi langsung datang dan menangani. Kebetulan ada Babinsa juga di lokasi. Kami belum sempat menggali informasi lebih jauh karena semuanya sudah ditangani aparat,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihak sekolah belum meminta keterangan kepada siswa yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut karena masih menunggu hasil penyelidikan polisi.

“Kami belum bisa memberikan penjelasan lebih lanjut karena semuanya masih dalam penanganan polisi. Kami menunggu hasil penyelidikan resmi,” katanya.

Sementara itu, seorang warga sekitar bernama Daya mengaku mendengar suara ledakan dari arah sekolah.

“Saya mendengar ada ledakan dari dalam sekolah. Setelah keluar rumah, terlihat asap dari arah atap sekolah,” ujarnya.

Menurut Daya, para siswa kemudian dipulangkan sebagai langkah antisipasi demi menjaga keamanan.

Dugaan Motif Masih Diselidiki

Di tengah proses penyelidikan, beredar informasi bahwa ledakan diduga berkaitan dengan bom rakitan yang dibawa seorang siswa. Informasi lain juga menyebut adanya dugaan keterkaitan dengan tindakan perundungan (bullying).

Namun demikian, hingga berita ini ditulis belum ada keterangan resmi dari kepolisian yang menyatakan bahwa bullying merupakan motif pasti dalam kasus tersebut. Dugaan tersebut masih menjadi bagian dari proses penyelidikan.

Psikolog: Bullying Bisa Berdampak Serius

Terlepas dari motif kasus yang masih didalami aparat, psikolog sekaligus Dosen Fakultas Psikologi Universitas Putra Indonesia (UPI) YPTK Padang, Neny Andriani, M.Psi., Psikolog, CI, C, NLP, mengingatkan bahwa bullying merupakan persoalan serius yang dapat memengaruhi kesehatan mental peserta didik.

Menurut Neny, penyelesaian bullying tidak cukup hanya dengan memberikan sanksi kepada pelaku.

“Bullying tidak bisa diselesaikan hanya dengan menghukum pelaku. Yang jauh lebih penting adalah membangun budaya empati di sekolah sehingga setiap anak mampu menghargai perbedaan, saling menghormati, dan memahami dampak dari perilaku yang menyakiti teman sebayanya,” ujarnya.

Ia menilai setiap sekolah perlu memiliki sistem pencegahan yang komprehensif, mulai dari kebijakan anti-perundungan, mekanisme pelaporan yang aman, hingga layanan konseling yang mudah diakses siswa.

“Korban sering kali memilih diam karena takut mendapat intimidasi atau tidak dipercaya. Karena itu, sekolah harus menyediakan ruang yang aman agar siswa berani melapor tanpa rasa takut,” katanya.

Guru dan Orang Tua Berperan Penting

Neny juga menekankan pentingnya kehadiran guru di berbagai titik yang berpotensi menjadi lokasi terjadinya bullying, seperti lorong sekolah, kantin, lapangan, hingga area di luar kelas.

Menurutnya, guru harus menjadi figur yang mudah didekati sehingga peserta didik merasa nyaman menyampaikan persoalan yang dihadapi.

Selain korban, pelaku bullying juga membutuhkan pendampingan psikologis agar mampu memahami dampak perilakunya dan membangun pola interaksi yang lebih positif.

“Pendampingan psikologis perlu diberikan tidak hanya kepada korban, tetapi juga kepada pelaku. Korban membutuhkan pemulihan agar tidak mengalami trauma berkepanjangan, sedangkan pelaku perlu dibantu memahami perilakunya dan mengubah pola interaksi yang negatif menjadi positif,” jelasnya.

Di akhir keterangannya, Neny mengajak sekolah, orang tua, dan masyarakat memperkuat upaya pencegahan bullying agar lingkungan belajar menjadi lebih aman.

“Ketika sekolah, orang tua, dan masyarakat memiliki komitmen yang sama untuk menolak segala bentuk perundungan, maka lingkungan belajar yang aman, sehat, dan nyaman bagi seluruh peserta didik akan lebih mudah diwujudkan. Pencegahan harus dimulai hari ini, bukan setelah muncul peristiwa yang kita sesali bersama,” tutupnya.***