MAKLUMAT — Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebayoran Baru merumuskan sejumlah langkah strategis bagi pengurus, guru, dan tenaga kependidikan untuk menghadapi tekanan ekonomi yang belakangan semakin dirasakan masyarakat.
Upaya tersebut dibahas dalam kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT) yang digelar di Masjid At-Taqwa, Kompleks Perguruan Muhammadiyah Limau, Jakarta Selatan, Jumat (12/6/2025).
Ketua PCM Kebayoran Baru, Ustaz M Said Matondang, menjelaskan kegiatan rutin bulanan itu mengangkat tema “Desain Ekonomi Muhammadiyah di Masa Efisiensi”, yang sengaja dipilih sebagai respons terhadap meningkatnya biaya hidup, mulai dari kebutuhan pokok, pendidikan, transportasi, hingga kenaikan harga BBM non-subsidi yang berdampak pada daya beli masyarakat.
“MABIT menjadi sarana penyegaran ideologi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan bagi penggerak di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Harapannya, gairah dakwah amar ma’ruf nahi munkar senantiasa terjaga di tengah impitan ekonomi,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, Wakil Ketua Majelis Pelayanan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PP Muhammadiyah, Faozan Amar, hadir sebagai narasumber dan memaparkan sejumlah strategi menghadapi tantangan ekonomi dengan memadukan pemanfaatan teknologi serta penguatan aspek spiritual.
“Menghadapi kesulitan ekonomi tidak cukup dengan mengeluh, tapi harus disikapi dengan ikhtiar, inovasi, dan tawakal. Gaji dari AUM saja tidak cukup jika kita tidak kreatif,” tegas Faozan.
Empat Langkah Perkuat Kemandirian Ekonomi
Lebih lanjut, Faozan menjelaskan empat langkah yang dapat ditempuh warga Muhammadiyah untuk memperkuat kemandirian ekonomi.
Pertama, memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan keterampilan digital untuk membuka peluang pendapatan tambahan yang halal.
Menurutnya, guru maupun karyawan Muhammadiyah perlu mengembangkan kapasitas sebagai knowledge worker melalui penguasaan teknologi digital, pembelajaran daring, hingga produksi konten edukasi yang berpotensi dikembangkan menjadi usaha sampingan.
Kedua, memperkuat aspek spiritual melalui ketakwaan dan sedekah. Faozan merujuk Surah Ath-Thalaq ayat 2-3 serta Al-Baqarah ayat 261 sebagai landasan penting bahwa ketakwaan dan sedekah menjadi bagian dari ikhtiar menghadapi kesulitan ekonomi. Ia juga mendorong penguatan dana sosial internal dan infak harian untuk membantu sesama warga persyarikatan.
Ketiga, menerapkan pengelolaan keuangan yang disiplin sesuai Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM). Warga diminta menghindari perilaku konsumtif seperti penggunaan fasilitas paylater maupun utang konsumsi, serta menerapkan pola pengelolaan keuangan berbasis kebutuhan pokok, dana darurat, investasi, pendidikan, dan infak.
Keempat, membangun ekosistem ekonomi jamaah yang mandiri melalui penguatan kerja sama antarwarga. Salah satunya dengan mendorong program “Belanja dari Warga Muhammadiyah”, penyelenggaraan bazar rutin, serta penguatan koperasi syariah agar perputaran ekonomi dapat berkembang di lingkungan internal persyarikatan.
Tiga Agenda Utama
Tak cuma itu, Faozan juga menegaskan tiga agenda penting yang perlu menjadi perhatian PCM ke depan, yakni menjaga kesejahteraan warga, memperkuat UMKM jamaah, serta melakukan diversifikasi pendapatan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) agar tidak hanya bergantung pada iuran pendidikan.
“Masa efisiensi adalah momentum memperkuat kemandirian ekonomi. Jika keluarga kuat, sekolah kuat, maka Muhammadiyah akan semakin berkemajuan,” tandasnya.
Selain diskusi mengenai strategi ekonomi, kegiatan MABIT juga dirangkaikan dengan pelantikan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), penyerahan surat keputusan Penjabat Kepala Sekolah, serta penyegaran struktur pengurus di lingkungan PCM Kebayoran Baru.












