Makan Enak Berujung Nyeri di Persendian, Ini Penjelasan Dokter Ortopedi

Asam Urat

MAKLUMAT – Penyakit asam urat atau gout masih sering dianggap sepele, padahal bisa menimbulkan nyeri hebat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Dokter dari RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta, Vovinda Rujiana, menjelaskan bahwa gout terjadi akibat penumpukan kristal asam urat di dalam sendi.

“Asam urat merupakan sisa pemecahan purin dari makanan seperti jeroan, daging merah, dan seafood. Dalam kondisi normal, zat ini dibuang lewat ginjal. Namun jika produksinya berlebih atau pembuangannya terganggu, kadar asam urat meningkat dan mengendap di sendi,” ujarnya.

Vovinda menjelaskan, rasa nyeri yang muncul pada gout disebabkan bentuk kristal asam urat yang menyerupai jarum kecil dan keras. Ketika menumpuk di sendi, tubuh menganggapnya sebagai benda asing dan memicu peradangan hebat.

Akibatnya, penderita akan merasakan nyeri luar biasa, bengkak, kemerahan, hingga sensasi panas di sendi. Bahkan, sentuhan ringan seperti selimut pun bisa terasa sangat menyakitkan.

Serangan gout juga sering muncul tiba-tiba, terutama pada malam atau dini hari. Bagian tubuh yang paling sering terkena adalah jempol kaki, karena suhunya lebih rendah sehingga memudahkan kristalisasi.

Siapa yang Berisiko?

Gout lebih sering dialami pria usia dewasa hingga lanjut. Pada wanita, risiko meningkat setelah menopause. Selain itu, faktor lain yang memicu antara lain:

  • Pola makan tinggi purin
  • Obesitas dan sindrom metabolik
  • Hipertensi dan diabetes
  • Penyakit ginjal
  • Riwayat keluarga
  • Konsumsi obat tertentu seperti diuretik dan aspirin dosis rendah
Baca Juga  Suspek Chikungunya Melonjak Tajam, 5 Provinsi Masuk Daftar Kasus Tertinggi

“Tidak semua orang dengan kadar asam urat tinggi langsung mengalami gout. Namun semakin tinggi dan lama tidak terkontrol, risikonya meningkat,” jelas Vovinda Rujiana seperti dilansir laman Keslan Kemkes dilihat pada Ahad (19/5/2026).

Ciri Khas Serangan Gout

Beberapa gejala khas yang perlu diwaspadai:

  • Nyeri sendi mendadak dan sangat hebat
  • Bengkak, merah keunguan, dan terasa hangat
  • Kulit di sekitar sendi tampak mengkilat
  • Kadang disertai demam ringan

Pada kondisi kronis, dapat muncul benjolan keras berisi kristal yang disebut tofus. Jika tidak ditangani, tofus dapat merusak sendi hingga menyebabkan kecacatan.

Pengobatan: Redakan Nyeri dan Cegah Kambuh

Penanganan gout terbagi dua, yakni mengatasi serangan akut dan terapi jangka panjang.

Saat serangan terjadi, dokter biasanya memberikan obat antiinflamasi seperti NSAID, kolkisin, atau kortikosteroid untuk meredakan nyeri dan peradangan. Sendi juga dianjurkan untuk diistirahatkan dan dikompres dingin.

Setelah serangan mereda, fokus bergeser pada pengendalian kadar asam urat. Targetnya adalah menjaga kadar di bawah 6 mg/dL.

“Obat seperti allopurinol atau febuxostat digunakan untuk menurunkan kadar asam urat. Pengobatan ini harus rutin dan disesuaikan dengan kondisi pasien,” kata Vovinda.

Perubahan Gaya Hidup Jadi Kunci

Selain obat, perubahan gaya hidup berperan besar dalam mencegah kekambuhan. Di antaranya:

  • Menjaga berat badan ideal
  • Mengurangi makanan tinggi purin
  • Membatasi minuman manis dan alkohol
  • Minum air putih cukup
  • Mengontrol tekanan darah dan gula darah
Baca Juga  Suspek Chikungunya Melonjak Tajam, 5 Provinsi Masuk Daftar Kasus Tertinggi
Risiko Jika Diabaikan

Gout yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan berbagai komplikasi, mulai dari serangan berulang, kerusakan sendi permanen, hingga gangguan ginjal dan peningkatan risiko penyakit jantung.

Karena itu, pasien diimbau untuk rutin kontrol dan disiplin menjalani pengobatan, meskipun gejala nyeri sudah berkurang.

“Gout bukan sekadar nyeri sendi biasa, tetapi penyakit kronis yang perlu dikontrol jangka panjang,” tegasnya.***