Antara Rindu Kampung Halaman dan Perhitungan Ekonomi

MAKLUMAT — Seperti sungai yang mengalir ke hulu, mudik Lebaran sering kita bayangkan sebagai perjalanan arus besar manusia yang kembali pulang. Jalanan lintas kota dan lintas provinsi dipenuhi kendaraan; terminal bus dan stasiun kereta tampak riuh; rumah-rumah di desa kembali hidup oleh suara anak-cucu yang pulang.

Namun, dalam satu tahun, bagaimana jika cerita itu tidak selalu berakhir dengan kabar kepulangan?

Pada tahun lalu, harian Kompas (20/03/2025) mengangkat kisah Ria (35), seorang dosen di Kalimantan Tengah. Ia tidak dapat pulang ke kampung halamannya di Aceh. Alasannya bukan karena ia tidak rindu, melainkan karena harga tiket pesawat untuk empat anggota keluarganya mencapai sekitar Rp35 juta—angka yang terlalu besar untuk dipaksakan. Baginya, rindu itu akhirnya tertunda; mudik yang selama ini terasa sebagai kewajiban batin berubah menjadi perhitungan ekonomi yang pahit.

Kasus yang dialami Ria menjadi lonceng peringatan atas tingginya tekanan ekonomi. Ketika harga tiket pesawat untuk satu keluarga setara dengan uang muka pembelian rumah, di situlah tampak adanya persoalan dalam regulasi batas atas tarif yang seharusnya dapat dipertimbangkan pemerintah. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa mudik telah menjadi semacam kemewahan yang terseleksi oleh kelas sosial.

Cerita seperti yang dialami Ria kini semakin sering terdengar. Hal ini menjadi salah satu indikator turunnya jumlah pemudik setiap tahun. Pada 2025, Kementerian Perhubungan mencatat sekitar 154,6 juta orang melakukan mudik (ANTARA, 12/04/2025). Sementara pada 2026, jumlah tersebut diprediksi turun menjadi 143,9 juta orang (Kumparan, 07/03/2026).

Baca Juga  Anggota DPR Aceh Minta Pemerintah Prioritaskan Langkah untuk Keselamatan saat Mudik Lebaran

Penurunan angka pemudik tahun ini memberi isyarat bahwa tradisi pulang kampung semakin bersinggungan dengan pertimbangan ekonomi—ditandai oleh meningkatnya biaya transportasi dan tekanan daya beli masyarakat. Penurunan itu bukan sekadar angka, melainkan hilangnya kesempatan seseorang untuk kembali pulang.

Di balik turunnya jumlah pemudik, terdapat cerita tentang keluarga yang menunda pertemuan, orang tua yang menanti kepulangan anaknya namun tak kunjung datang, serta para perantau yang hanya dapat mengirimkan ucapan “maaf lahir dan batin” melalui layar telepon genggam. Tradisi yang biasanya hangat saat Lebaran kini terganjal oleh keadaan ekonomi yang terasa dingin.

Di Indonesia, mudik Lebaran tidak hanya dimaknai sebagai pulang ke kampung halaman. Ia merupakan bahasa kebudayaan. Koentjaraningrat menyebut kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan karya manusia yang dipelajari serta diwariskan dalam masyarakat (Koentjaraningrat, 2009:144). Dalam kerangka ini, mudik menjadi semacam ritus sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Saat seseorang pulang kampung pada hari Lebaran, sesungguhnya ia sedang merawat sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar hubungan keluarga: ia merawat asal-usul. Sebuah penegasan bahwa sejauh apa pun merantau, selalu ada tempat yang ingin dituju kembali—kampung halaman.

Karena itu, mudik memiliki daya tarik emosional yang kuat. Ia bukan hanya tentang pertemuan dengan orang tua atau makan bersama keluarga, melainkan pengakuan bahwa manusia hidup dalam jaringan hubungan sosial yang membentuk identitasnya.

Namun, dunia modern kerap menghadirkan ketegangan antara nilai budaya dan realitas ekonomi. Dalam bukunya Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan, Ignas Kleden menggambarkan bahwa modernitas membuat manusia semakin dipengaruhi oleh rasionalitas ekonomi dan perhitungan material (Kleden, 2004:87). Dari sinilah kita melihat mudik menghadapi ujian.

Baca Juga  Integrasi Transportasi di Surabaya, Pemkot Pastikan Tidak Ada Trayek yang Dimatikan

Di satu sisi, terdapat dorongan budaya yang kuat untuk pulang. Namun, di sisi lain, ada kalkulasi biaya yang tak dapat diabaikan. Harga tiket transportasi, ongkos perjalanan, kebutuhan selama di kampung halaman, hingga kewajiban membawa oleh-oleh sering kali membuat mudik menjadi praktik yang memerlukan biaya besar.

Bahkan, mudik juga kerap menjadi panggung kecil untuk mempertunjukkan keberhasilan sosial. Pulang dengan membawa hadiah, memberi uang kepada orang tua dan kerabat, atau sekadar menunjukkan bahwa kehidupan di perantauan berjalan baik—semuanya dibaca sebagai tanda oleh masyarakat desa. Pada akhirnya, pulang kampung menjadi cerita tentang perjalanan hidup seseorang.

Namun, ketika tekanan ekonomi meningkat, panggung itu menjadi semakin berat. Tidak semua orang mampu tampil di dalamnya.

Di balik itu, mudik juga memiliki makna ekonomi yang lebih luas. Tradisi ini menjadi cara tidak resmi untuk mengalirkan kembali uang dari kota ke desa. Di Indonesia, relasi kota dan desa sering ditopang oleh arus migrasi serta kiriman uang dari para perantau (Sajogyo, 1982:63).

Ketika para perantau pulang saat Lebaran, yang mereka bawa bukan hanya kerinduan, melainkan juga daya beli: untuk kebutuhan keluarga, makanan, pakaian, hingga keperluan rumah tangga. Dalam beberapa hari, desa yang biasanya sepi dapat berubah menjadi ruang ekonomi yang hidup.

Sebaliknya, ketika jumlah pemudik menurun akibat tekanan ekonomi, arus redistribusi tersebut ikut melemah. Desa kehilangan sebagian energinya, sementara kota tetap memikul beban ekonomi yang tinggi.

Baca Juga  Bunga Utang Tembus Rp 599 Triliun, Ekonom Dorong Pemerintah Tunda Proyek IKN

Di titik inilah mudik menjadi pertemuan dua dunia: dunia simbolik dan dunia material. Dunia simbolik berbicara tentang kerinduan, ingatan, dan identitas; dunia material berbicara tentang biaya hidup, ongkos, dan daya beli.

Selama bertahun-tahun, dunia simbolik tampak lebih dominan. Orang tetap mudik meski harus berhemat atau menempuh perjalanan panjang. Namun, ketika tekanan ekonomi semakin kuat menekan dompet rumah tangga, dunia material mulai berbicara lebih keras.

Meski demikian, tradisi tidak pernah benar-benar hilang; ia hanya berubah bentuk. Ada yang menunda mudik satu tahun, ada yang memilih moda transportasi lebih murah, dan ada pula yang menggantikan kepulangan dengan panggilan video—meskipun perjumpaan itu tak sepenuhnya menggantikan pelukan hangat keluarga.

Pada akhirnya, mudik mengajarkan bahwa tradisi tidak berdiri di ruang hampa. Ia hidup bersama kondisi ekonomi, sosial, dan politik yang terus berubah.

Ketika ekonomi membaik, tradisi terasa ringan. Ketika ekonomi sulit, tradisi terasa berat. Namun, selama manusia masih merindukan keluarga dan kampung halaman, keinginan untuk pulang akan selalu ada.

Sebab, sejauh apa pun seseorang meninggalkan kampung halaman, selalu ada satu hal yang tidak berubah: keinginan untuk kembali pulang.

Barangkali, itulah makna mudik tahun ini—bukan sekadar perjalanan menuju kampung halaman, melainkan perjalanan untuk kembali kepada asal-usul, meski harus berdamai dengan waktu dan keadaan.

*) Pengajar Sejarah di SMA Muhammadiyah 25 Setiabudi Pamulang.****