MAKLUMAT — PM Singapura Lawrence Wong menyiapkan langkah besar menghadapi dua gelombang tekanan sekaligus: krisis energi global akibat konflik di Timur Tengah dan disrupsi pekerjaan akibat percepatan kecerdasan buatan (AI).
PM Lawrence Wong pada pidato May Day 2026, Jumat (1/5/2026), mengingatkan dunia sedang memasuki fase yang lebih berat, dengan ancaman inflasi tinggi, gangguan rantai pasok, hingga risiko stagflasi seperti krisis minyak 1970-an.
“Jalan di depan tidak akan mudah. Namun kami akan menjaga rakyat kami sendiri. Tak satu pun warga Singapura akan ditinggalkan,” tegas Wong.
Dalam paparannya, Wong menyoroti dampak penutupan Selat Hormuz yang telah memukul pasokan energi global selama lebih dari dua bulan. Kondisi itu memicu kenaikan harga energi, menekan pasokan bahan bakar, mengganggu penerbangan, dan berpotensi merembet ke sektor pangan, pupuk, hingga kebutuhan pokok lain.
Meski begitu, Wong menilai Singapura berada dalam posisi relatif kuat karena memiliki fondasi cadangan fiskal yang sehat, infrastruktur energi yang matang, serta ekosistem kilang dan perdagangan energi yang terintegrasi di Pulau Jurong.
AI Ubah Peta Pekerjaan
Selain krisis energi, Wong menekankan gelombang transformasi AI kini mulai mengubah wajah industri secara mendasar. Ia menyebut AI bukan lagi sekadar alat bantu digital, melainkan mesin perubahan yang menggeser model kerja, meningkatkan produktivitas, sekaligus menghapus sebagian jenis pekerjaan lama.
Namun, menurut dia, perubahan itu juga membuka lapangan kerja baru dengan kualitas lebih baik.
“Kami mungkin tidak bisa melindungi setiap pekerjaan, tetapi kami akan melindungi setiap pekerja,” ujarnya.
Pemerintah Singapura, lanjut Wong, membentuk Dewan AI Nasional dan Dewan Pekerjaan Tripartit untuk mempercepat adaptasi industri sekaligus memastikan pekerja mendapat akses pelatihan, peningkatan keterampilan, serta transisi kerja yang lebih aman.
Program SkillsFuture juga diperluas agar pekerja bisa mengakses kursus pengembangan AI, termasuk fasilitas penggunaan perangkat AI premium secara gratis selama enam bulan.
Model Tripartit Jadi Kunci
Wong menyebut kekuatan utama Singapura terletak pada model tripartit—kolaborasi erat antara pemerintah, pengusaha, dan serikat pekerja—yang selama puluhan tahun terbukti mampu membawa negara itu melewati berbagai krisis, mulai dari industrialisasi, globalisasi, SARS, hingga pandemi Covid-19.
Lewat skema Company Training Committee (CTC), banyak perusahaan mulai mengintegrasikan AI dan otomatisasi tanpa meninggalkan pekerja. Di Tan Tock Seng Hospital, misalnya, AI memangkas waktu penyusunan jadwal kerja perawat dari lebih satu jam menjadi 15 menit. Sementara di SMRT, AI dan robotika meningkatkan efisiensi kerja sekaligus memperbaiki kualitas hidup pekerja.
Wong menegaskan, arah transformasi ekonomi Singapura bukan sekadar mengejar produktivitas, melainkan memastikan manfaat pertumbuhan dinikmati pekerja.
“Ketika perusahaan tumbuh, pekerja juga harus ikut tumbuh,” katanya.
Pidato itu sekaligus menjadi pesan politik bahwa di tengah badai geopolitik dan revolusi AI, Singapura memilih satu jalur: beradaptasi cepat, menjaga solidaritas, dan memastikan negara hadir untuk rakyatnya.
Berikut transkrip lengkap pidato PM Singapura Lawrence Wong:
Presiden dan Sekretaris Jenderal NTUC,
Presiden SNEF,
Saudara-saudara dari Gerakan Buruh,
Rekan-rekan sekalian,
Selamat pagi dan selamat Hari Buruh.
Senang rasanya melihat kita semua berkumpul di sini sebagai satu Gerakan Buruh yang solid.
Saat kita bertemu tahun lalu, saya mengatakan bahwa badai sedang berkumpul. Dunia menjadi semakin berbahaya. Hambatan perdagangan meningkat. Ketidakpastian bertambah. Risiko pun makin besar.
Ketika badai datang, kita tidak bersembunyi. Kita juga tidak mundur. Perusahaan tidak sekadar memangkas biaya lalu meninggalkan para pekerja. Serikat pekerja tidak menolak perubahan. Sebaliknya, kita melakukan apa yang selalu dilakukan warga Singapura: bekerja sama, beradaptasi, dan keluar dari situasi sulit dengan lebih kuat.
Kerja sama itu membuahkan hasil. Kita berhasil menyelamatkan lapangan kerja. Pendapatan riil meningkat. Perekonomian kita tampil lebih baik dari perkiraan. Kita mampu melewati badai karena seluruh elemen Singapura—dunia usaha, serikat pekerja, dan pemerintah—berdiri dalam satu barisan.
Karena itu, pagi ini saya ingin memulai dengan mengucapkan terima kasih kepada Anda semua: atas kerja keras, solidaritas, dan yang terpenting, atas kepercayaan Anda kepada Singapura.
Badai Baru
Tahun lalu kita berhasil melewati masa sulit dengan baik. Namun, tidak ada waktu untuk berpuas diri. Badai pertama belum sepenuhnya berlalu. Kini, badai lain datang—dan kali ini jauh lebih dahsyat.
Situasi di Timur Tengah berubah cepat dan tetap diliputi ketidakpastian. Pertempuran memang telah berhenti untuk sementara, tetapi ketegangan masih sangat tinggi. Iran menutup Selat Hormuz, sementara Amerika Serikat memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Kondisi ini menciptakan kebuntuan yang tegang. Tidak ada pihak yang bersedia mundur, dan belum terlihat jalan keluar yang jelas.
Selat Hormuz telah ditutup selama lebih dari dua bulan. Dampaknya mulai terasa, bukan hanya dalam bentuk kenaikan harga, tetapi juga gangguan pasokan. Asia menjadi kawasan yang sangat terdampak karena ketergantungan tinggi terhadap energi dan berbagai kebutuhan vital dari kawasan Teluk.
Sejumlah negara di kawasan kita mulai menghadapi kekurangan bahan bakar. Maskapai penerbangan mengurangi frekuensi penerbangan. Pabrik-pabrik melaporkan keterlambatan produksi. Gangguan ini juga tidak berhenti pada sektor energi. Pupuk, pangan, dan berbagai bahan baku penting lain akan ikut terdampak. Kita harus bersiap menghadapi kelangkaan lebih banyak komoditas dalam waktu dekat.
Bahkan jika Selat Hormuz kembali dibuka, keadaan tidak akan langsung normal. Infrastruktur pelabuhan dan energi telah mengalami kerusakan. Jalur pelayaran harus dibersihkan dari ranjau. Kepercayaan pelaku usaha dan perusahaan pelayaran harus dipulihkan—bahwa jalur itu aman dilintasi, asuransi tersedia, dan risiko dapat dikelola.
Semua itu tidak bisa pulih dalam semalam. Paling tidak, dibutuhkan waktu berbulan-bulan hingga keadaan kembali stabil.
Karena itu, kita tidak boleh berharap krisis ini segera berakhir. Bahkan, tekanan kemungkinan akan meningkat. Gangguan pasokan bisa terus berlanjut dan memburuk dalam beberapa bulan ke depan. Secara global, inflasi akan meningkat—berawal dari energi, merembet ke pangan, lalu ke kebutuhan pokok lainnya.
Beberapa negara bahkan berisiko masuk ke jurang resesi. Singapura pun akan merasakan dampaknya secara langsung. Pertumbuhan ekonomi tahun ini akan melambat, sementara inflasi meningkat. Semua itu akan memberi tekanan nyata kepada dunia usaha, para pekerja, dan rumah tangga.
Warga Singapura yang lebih tua mungkin masih mengingat guncangan harga minyak pada dekade 1970-an.
Pada masa itu, dunia mengalami stagflasi dalam skala besar—gabungan antara stagnasi ekonomi dan inflasi tinggi. Situasi itu memunculkan pengangguran yang tinggi bersamaan dengan melonjaknya harga-harga. Bagi dunia usaha maupun pekerja, keadaan seperti itu adalah skenario terburuk.
Kini, risiko stagflasi kembali meningkat.
Badan Energi Internasional bahkan memperingatkan bahwa krisis saat ini berpotensi lebih parah dibandingkan krisis energi pada dekade 1970-an.
Karena itu, kita harus bersiap. Kita harus mempersiapkan diri menghadapi masa yang lebih berat di depan. Saya ingin berbicara terus terang kepada Anda semua agar kita siap secara mental menghadapi tantangan tersebut.
Namun, di tengah realitas yang berat ini, kita tetap dapat menatap masa depan dengan keyakinan yang tenang.
Kita menghadapi krisis ini bukan dari posisi yang lemah. Singapura hari ini jauh lebih siap dan berada dalam posisi yang lebih kuat.
Dan posisi kuat itu dibangun melalui pilihan-pilihan berani yang kita ambil sejak lama.
Posisi kuat itu dibangun melalui keputusan-keputusan sulit yang kita ambil sejak awal. Kita mengelola keuangan negara secara hati-hati dan disiplin, sembari membangun cadangan nasional yang kokoh. Pada saat yang sama, kita berinvestasi besar untuk memperkuat ketahanan energi.
Kita melakukan reklamasi lahan. Kita membangun Pulau Jurong. Kita mengembangkan industri penyulingan dan petrokimia. Kita menggali jauh ke bawah tanah untuk menciptakan fasilitas penyimpanan bawah tanah di Gua Batu Jurong.
Kita tidak memiliki minyak. Kita juga tidak memiliki gas alam. Tidak ada jaminan bahwa seluruh upaya itu akan berhasil. Namun, kita tetap melangkah maju dan membangun sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada.
Hari ini, Singapura menjadi simpul penting dalam arus energi global. Posisi ini memberi kita keuntungan strategis yang sangat berarti.
Perusahaan-perusahaan energi terkemuka dunia beroperasi di sini—memurnikan, menyimpan, dan memperdagangkan minyak. Mereka terhubung dengan jaringan pasokan yang beragam di seluruh dunia. Ketika satu sumber terganggu, mereka dapat segera beralih ke sumber lain.
Itulah keunggulan yang kita bangun selama puluhan tahun—bukan karena kebetulan, melainkan hasil dari pilihan yang disengaja, kerja keras yang berkelanjutan, dan disiplin yang konsisten. Kita mewujudkannya bersama-sama.
Namun, semua itu tidak berjalan dengan sendirinya. Di balik setiap pencapaian, ada para pekerja kita.
Pagi ini, saya ingin menyampaikan penghargaan khusus kepada saudara-saudara kita yang bekerja di kilang minyak, pembangkit listrik, serta seluruh sektor minyak, petrokimia, energi, dan kimia—yang berada dalam klaster OPEC versi kita sendiri.
Tentu, ini bukan OPEC yang sering Anda baca di berita. Ini adalah OPEC yang menggerakkan perekonomian kita setiap hari.
Anda bekerja tanpa lelah—melewati malam, akhir pekan, bahkan hari libur. Karena itu, saya mengucapkan terima kasih atas dedikasi Anda dalam memastikan listrik tetap menyala dan Singapura terus berjalan.
Semua ini berdiri di atas kerja keras para pekerja kita—Anda semua.
Berkat keputusan yang kita ambil puluhan tahun lalu, kini kita mampu menghadapi krisis dari posisi yang lebih kuat. Kita bekerja sama erat dengan negara-negara yang memiliki pandangan serupa untuk memperkuat ketahanan rantai pasok dan saling memberi dukungan saat keadaan sulit.
Kita juga terus mengamankan jalur pasokan energi serta kebutuhan penting lainnya.
Pada saat yang sama, pemerintah meningkatkan dukungan bagi warga Singapura. Sejak bulan lalu, kami telah meluncurkan paket bantuan awal sebagai respons terhadap krisis ini.
Kami memberikan dukungan lebih besar kepada dunia usaha, terutama sektor yang paling terdampak kenaikan harga energi. Kami juga memperluas bantuan bagi rumah tangga melalui rabat U-Save, peningkatan bantuan tunai, serta percepatan distribusi Voucher CDC.
Pemerintah telah mengambil langkah.
Dunia usaha pun dapat ikut berkontribusi.
Sebagai contoh, NTUC FairPrice membekukan harga berbagai kebutuhan pokok agar tetap terjangkau. Saya mengucapkan terima kasih kepada FairPrice atas langkah tersebut.
Saya juga mendorong seluruh perusahaan melakukan hal serupa—mendukung para pekerja dan bersama-sama meringankan beban masyarakat.
Saya memahami apa yang ada di benak banyak orang. Voucher CDC yang semula dijadwalkan cair Januari tahun depan kini dipercepat. Muncul pertanyaan: apakah nantinya akan ada dukungan tambahan?
Izinkan saya menjawab dengan jelas.
Pemerintah bergerak cepat untuk memberikan respons awal terhadap krisis ini. Namun, seperti yang telah saya jelaskan, kami memperkirakan tantangan akan semakin berat sepanjang tahun ini.
Jika situasi memburuk, kami akan melakukan lebih banyak lagi.
Karena pada masa-masa seperti ini, warga Singapura dapat memegang satu keyakinan: pemerintah Anda akan bertindak.
Kami akan bertindak tegas. Kami akan berdiri bersama Anda—bersama setiap warga Singapura—di setiap langkah perjalanan ini.
Transformasi AI
Selain menghadapi gejolak geopolitik, kita juga sedang berada di tengah gelombang perubahan besar lain yang akan membentuk masa depan ekonomi dunia.
Kita hidup di era ketika gejolak akan datang silih berganti.
Kita tidak bisa sekadar diam dan berharap langit kembali cerah. Kita harus terus bergerak maju—menghadapi setiap badai dengan percaya diri, menangkap peluang baru, dan memperkuat posisi kita di tengah perubahan dunia.
Di antara berbagai kekuatan yang tengah mengubah ekonomi global, satu yang paling menentukan adalah kecerdasan buatan (AI).
AI adalah teknologi penentu zaman kita.
Bayangkan, hanya empat tahun lalu dunia belum mengenal ChatGPT. Kini, hampir semua orang mengetahui apa itu AI generatif. Banyak di antara kita telah menggunakannya untuk menyusun surel, meringkas laporan, mencari ide, hingga membantu pekerjaan sehari-hari.
AI kini telah menjadi bagian dari kehidupan kita.
Namun, ini baru permulaan. Di garis depan perubahan, AI telah mengubah cara kerja dilakukan.
Sebagai contoh, pemrograman perangkat lunak saat ini tidak lagi sepenuhnya ditulis baris demi baris secara manual. Para insinyur perangkat lunak kini dapat menjelaskan apa yang ingin mereka bangun, lalu AI membantu menghasilkan, menyusun, dan menyempurnakan kode tersebut.
Ambil contoh Google.
Dua tahun lalu, AI menulis sekitar 25 persen kode baru di perusahaan itu. Tahun berikutnya, angkanya meningkat menjadi 50 persen. Kini, kontribusi AI telah mencapai sekitar 75 persen.
Namun, jangan salah paham.
Ini bukan berarti insinyur perangkat lunak tidak lagi dibutuhkan. Justru sebaliknya, tenaga ahli di bidang ini tetap sangat dicari. Bahkan, Google terus merekrut dan memberi kompensasi tinggi kepada insinyur perangkat lunak terbaik.
Yang berubah adalah perannya.
Mereka tidak lagi hanya menulis kode, tetapi juga menjadi perancang sistem, pengarah proses, dan arsitek teknologi yang membangun fondasi solusi digital masa depan.
Kini, kita bahkan memasuki era agen AI.
Ini jauh melampaui sekadar chatbot.
Agen AI tidak hanya menjawab pertanyaan. Teknologi ini mampu merencanakan, mengelola, dan mengeksekusi tugas-tugas kompleks dari awal hingga akhir secara mandiri.
Dalam berbagai pertemuan saya dengan pelaku usaha, banyak yang menyampaikan bahwa mereka mulai menggunakan agen AI untuk mengelola media sosial, menyusun laporan, menangani administrasi, hingga mengotomatisasi berbagai alur kerja yang sebelumnya membutuhkan satu tim penuh.
Kini, banyak tugas itu dapat dikerjakan oleh satu orang dengan bantuan agen AI.
Dampaknya akan sangat besar.
AI bukan sekadar meningkatkan produktivitas. AI akan mengganggu, mengubah, dan membentuk ulang seluruh industri.
Karena itu, Singapura harus bersiap untuk menang dalam lanskap baru ini.
Itulah alasan kami membentuk Dewan AI Nasional, yang bertugas mengoordinasikan strategi nasional di bidang kecerdasan buatan.
Tujuan kami jelas:
Pertama, membangun kapabilitas AI yang kuat dan mendalam.
Kedua, mempercepat adopsi AI di seluruh sektor ekonomi.
Ketiga, menjadikan Singapura sebagai pusat inovasi AI yang diperhitungkan di tingkat global.
Namun, tujuan terbesar kami bukan semata menjadi pusat teknologi.
Tujuan utama kami adalah memastikan bahwa AI membawa manfaat nyata bagi setiap pekerja—melalui pekerjaan yang lebih baik, produktivitas yang lebih tinggi, dan peluang yang lebih luas.
Kami memang baru memulai langkah ini, tetapi kemajuannya menggembirakan.
Perusahaan-perusahaan global terdepan terus memperkuat investasi AI mereka di Singapura.
Ambil contoh Google.
Perusahaan itu telah lama hadir di Singapura. Tahun lalu, mereka mendirikan Google DeepMind Singapura, laboratorium riset AI pertama mereka di Asia Tenggara.
Tim di pusat riset ini mengembangkan teknologi AI mutakhir sekaligus menciptakan berbagai aplikasi nyata yang dapat digunakan di dunia industri dan kehidupan sehari-hari.
Yang membanggakan, salah satu tim penting di sana dipimpin oleh warga Singapura sendiri—Yi Tay, lulusan Nanyang Technological University (NTU).
Kini, ia ikut memimpin pengembangan Gemini, model AI unggulan milik Google.
Ini menunjukkan bahwa warga Singapura bukan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga ikut menciptakan masa depan teknologi dunia.
Kami akan terus menarik lebih banyak investasi.
Bukan hanya dari perusahaan teknologi raksasa, tetapi juga dari perusahaan rintisan yang berkembang cepat dan berada di garis depan inovasi.
Salah satu contohnya adalah Advanced Machine Intelligence, perusahaan yang didirikan oleh Yann LeCun, salah satu ilmuwan AI paling berpengaruh di dunia.
Perusahaan ini mengembangkan apa yang disebut AI fisik, yakni pemanfaatan AI bukan hanya untuk menghasilkan teks atau gambar, melainkan untuk memahami lingkungan nyata dan berinteraksi langsung dengan dunia fisik.
Secara global, perusahaan itu hanya memiliki empat kantor utama di dunia, dan Singapura menjadi salah satunya.
Kita dipilih sebagai basis utama mereka di Asia.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah hasil dari investasi jangka panjang pada pendidikan, riset, infrastruktur, dan kualitas sumber daya manusia.
Karena itu, seiring makin banyak investasi AI yang datang dan ekosistem inovasi kita terus tumbuh, kami memastikan peluang bagi warga Singapura juga akan ikut berkembang.
Pada saat yang sama, kami membantu perusahaan-perusahaan lokal melakukan transformasi.
Contohnya adalah DBS.
DBS mulai berinvestasi pada AI lebih dari satu dekade lalu. Kini, teknologi tersebut diterapkan di hampir seluruh lini operasional—mulai dari layanan pelanggan, analisis risiko, efisiensi internal, hingga penciptaan produk dan layanan baru.
Hari ini, DBS melangkah lebih jauh.
Mereka melatih seluruh karyawan untuk menggunakan alat berbasis AI, sekaligus memberi ruang bagi pegawai untuk membangun solusi AI mereka sendiri guna mendukung pekerjaan masing-masing.
Hasilnya sangat nyata.
Banyak pekerja tidak tergeser, melainkan berkembang—memiliki keterampilan baru, tanggung jawab baru, dan jalur karier yang lebih luas.
Itulah arah transformasi yang kita inginkan.
AI bukan untuk menyingkirkan manusia.
AI harus menjadi alat yang memperkuat manusia.Kami ingin mendorong lebih banyak transformasi seperti itu. Namun, saya memahami bahwa tidak semua orang merasa siap menghadapi perubahan ini.
Banyak warga Singapura cemas terhadap AI.
Mereka bertanya: Apakah AI akan menggantikan pekerjaan saya? Apakah akan semakin sulit mengikuti perkembangan zaman? Apakah generasi berikutnya masih memiliki peluang yang baik?
Kekhawatiran seperti itu nyata. Dan kekhawatiran itu wajar.
Namun, marilah kita belajar dari sejarah.
Kita pernah melewati gelombang perubahan teknologi besar sebelumnya.
Saya masih ingat ketika mulai bekerja pada pertengahan 1990-an, saat perangkat seperti spreadsheet Excel mulai digunakan secara luas. Dampaknya langsung terasa. Banyak kantor membutuhkan lebih sedikit petugas entri data.
Namun, pada saat yang sama, peluang baru juga terbuka.
Permintaan terhadap akuntan, analis, dan tenaga profesional yang mampu memanfaatkan teknologi justru meningkat. Mereka yang dapat menggunakan alat baru dengan baik mampu menciptakan nilai tambah yang jauh lebih besar.
Tentu, AI jauh lebih kuat daripada sekadar spreadsheet.
Karena itu, dampaknya terhadap dunia kerja akan jauh lebih besar pula.
Dan karena itulah saya tidak akan menjanjikan bahwa tidak akan ada gangguan.
Pekerjaan akan berubah.
Sebagian pekerjaan akan hilang.
Kecepatan perubahan pun akan melampaui apa yang pernah kita alami sebelumnya.
Namun, ada satu hal yang dapat saya janjikan.
Ketika ekonomi kita bertransformasi, kita akan menciptakan pekerjaan-pekerjaan baru yang lebih baik.
Mungkin kita tidak dapat melindungi setiap jenis pekerjaan.
Tetapi kita akan melindungi setiap pekerja.
Karena di Singapura, setiap pekerja berarti.
Mewujudkan pertumbuhan yang inklusif seperti itu tidak akan terjadi dengan sendirinya. Dan kami tidak akan menyerahkannya sepenuhnya kepada nasib atau mekanisme pasar.
Sebaliknya, kami akan mengambil langkah-langkah yang terencana agar manfaat AI dapat dirasakan oleh semua orang.
Karena itu, pemerintah memperkuat dukungan bagi para pekerja.
Kami mendekatkan pelatihan keterampilan dengan sistem pencocokan kerja melalui penggabungan Workforce Singapore (WSG) dan SkillsFuture Singapore (SSG) ke dalam satu entitas baru bernama Badan Pengembangan Keterampilan dan Tenaga Kerja (SWDA) yang diawasi bersama oleh Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Pendidikan.
Kami juga memperkuat program SkillsFuture, agar warga Singapura dapat terus belajar sepanjang hayat dan meningkatkan keterampilan dengan percaya diri.
Bagi mereka yang mengalami kemunduran atau kehilangan pekerjaan, pemerintah hadir melalui Skema Dukungan Pencari Kerja SkillsFuture, agar mereka tetap memiliki pijakan kuat untuk bangkit kembali.
Pemerintah akan menyediakan alat, jalur, dan dukungan.
Namun, kami juga membutuhkan warga Singapura untuk melangkah maju.
Jangan biarkan kecemasan atau ketidakpastian menghalangi Anda mempelajari AI.
AI tidak akan pergi.
Teknologi ini akan terus berkembang dan menjadi bagian penting dari kehidupan kita.
Karena itu, pahami, pelajari, gunakan, dan kuasailah.
Perusahaan yang mampu memanfaatkan AI akan tetap kompetitif.
Pekerja yang membangun keterampilan AI akan memiliki peluang yang lebih besar dan masa depan yang lebih baik.
Dalam banyak pertemuan dengan warga Singapura, saya sering bertanya, “Apakah Anda menggunakan AI?”
Hampir semua menjawab, “Ya.”
Namun ketika saya bertanya lebih jauh, banyak yang mengaku baru memanfaatkannya sebatas mesin pencari yang lebih canggih—mengajukan pertanyaan, lalu menerima jawaban.
Itu memang awal yang baik.
Tetapi itu baru menyentuh permukaan.
Masih banyak potensi AI yang bisa digali.
Banyak orang juga berkata kepada saya, “Saya ingin memanfaatkan AI lebih jauh, tetapi saya tidak tahu harus mulai dari mana.”
Karena itu, kami menambah dukungan yang lebih konkret.
Kami sedang mendesain ulang portal SkillsFuture agar warga lebih mudah menemukan kursus yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan karier mereka.
Lebih dari itu, peserta yang mengikuti program pelatihan tertentu akan mendapatkan akses gratis selama enam bulan ke berbagai perangkat AI premium, sehingga mereka dapat langsung mempraktikkan apa yang dipelajari.
Saya juga senang mendengar bahwa NTUC menambah dukungan di atas program pemerintah.
Artinya, warga Singapura tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi juga sarana nyata untuk belajar, mencoba, dan mengembangkan kemampuan baru.
Inilah pendekatan kita.
Inilah komitmen kita kepada rakyat.
Jika Anda mau berusaha, negara akan selalu hadir mendampingi Anda di setiap langkah.
Karena kemajuan bukan hanya tentang teknologi.
Kemajuan adalah tentang memastikan manusia tumbuh bersama perubahan—bukan tertinggal olehnya. Kita dapat melakukan semua ini karena keunggulan unik Singapura: tripartisme. Di banyak negara lain, perubahan justru memicu perpecahan. Serikat pekerja berhadapan dengan pengusaha. Dunia usaha hanya mengejar kepentingan sendiri. Para pekerja pun tertinggal.
Namun, di Singapura, kami melakukan hal-hal secara berbeda. Pemerintah, serikat pekerja, dan pengusaha bekerja bersama—bukan sebagai lawan, melainkan sebagai mitra.
Kami mewujudkannya melalui Komite Pelatihan Perusahaan (CTC/Company Training Committee). Gagasan ini lahir dari Gerakan Buruh. CTC mempertemukan perusahaan, pekerja, dan serikat pekerja untuk mengidentifikasi keterampilan yang dibutuhkan dalam transformasi industri serta menyusun langkah konkret demi meningkatkan kesejahteraan pekerja.
Inilah tripartisme dalam praktik—menghasilkan manfaat bersama bagi semua pihak.
Ambil contoh Rumah Sakit Tan Tock Seng.
Salah satu tugas perawat senior adalah menyusun jadwal dinas perawat. Sekilas tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat kompleks. Mereka harus mempertimbangkan banyak hal: kebijakan rumah sakit, pengalaman dan keterampilan tiap perawat yang berbeda-beda, permintaan individu karena kebutuhan keluarga, hingga pembagian giliran kerja secara adil—terutama untuk jadwal yang kurang diminati.
Semua itu harus diseimbangkan dengan cermat. Satu jadwal bisa memakan waktu lebih dari satu jam untuk disusun.
Melalui CTC, Serikat Pekerja Layanan Kesehatan bermitra dengan tim keperawatan. Bersama para ahli teknologi informasi, mereka merancang solusi digital.
Manajer Perawat Mo Minyi, yang hadir bersama kita hari ini, terlibat langsung dalam proses tersebut. Ia harus membagi waktu antara tanggung jawab harian dan pengembangan sistem ini. Ini bukan sekadar proyek teknologi, melainkan serangkaian penyempurnaan yang terus-menerus agar solusi benar-benar menjawab kebutuhan nyata para perawat.
Hasilnya, lahirlah alat penjadwalan berbasis AI.
Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan lebih dari satu jam kini dapat diselesaikan hanya dalam 15 menit.
Manfaatnya bukan hanya efisiensi waktu. Penjadwalan yang lebih baik membuat pekerjaan menjadi lebih fleksibel. Lebih banyak perawat—termasuk mereka yang memiliki tanggung jawab keluarga—dapat berkontribusi sekaligus menata jadwal kerja dengan lebih baik.
Kini, semua orang dapat bekerja lebih baik, lebih cepat, dan lebih cerdas.
Kerja bagus, Rumah Sakit Tan Tock Seng.
Contoh lain adalah SMRT.
Saya mengunjungi Depo Bishan awal tahun ini dan melihat perubahan besar yang terjadi.
Dulu, pekerjaan di depo sangat berat secara fisik. Para pekerja harus menangani peralatan berat secara manual. Kini, banyak pekerjaan dibantu otomatisasi dan robotika. Mesin memindahkan beban berat. Robot bekerja sepanjang malam menyiapkan operasional untuk hari berikutnya. AI membantu menjadwalkan perawatan serta mencocokkan pekerjaan dengan teknisi yang tepat berdasarkan pengalaman dan keahlian mereka.
AI juga membantu mendeteksi potensi kerusakan lebih awal sehingga teknisi dapat melakukan tindakan pencegahan sebelum gangguan terjadi.
Yang lebih penting, seluruh transformasi ini dimungkinkan melalui CTC, dengan keterlibatan aktif Serikat Pekerja Transportasi Nasional dan para pekerja sendiri.
Bersama-sama, mereka menerapkan pendekatan Jepang yang dikenal sebagai kaizen, yakni perbaikan berkelanjutan di seluruh organisasi.
Hasilnya, para pekerja bukan hanya menjadi lebih produktif, tetapi juga lebih puas.
Ambil contoh Yahya Kharthi.
Ia kini berusia 62 tahun dan telah bekerja di SMRT selama lebih dari 30 tahun. Dulu pekerjaannya sangat berat dan melelahkan secara fisik. Keluarganya khawatir dan menganggap ia sebaiknya segera pensiun.
Namun kini, dengan lingkungan kerja yang lebih aman dan lebih baik, ia justru siap dan bersemangat untuk terus bekerja.
Inilah transformasi yang sesungguhnya.
Manfaat perubahan di SMRT juga dirasakan semua pihak. Produktivitas meningkat. Para pekerja memperoleh upah dan jenjang karier yang lebih baik.
Tahun ini, SMRT bahkan memberikan “Bonus Kaizen” khusus sebesar 1.600 dolar Singapura kepada setiap karyawan, di luar bonus reguler mereka.
Begitulah seharusnya.
Ketika perusahaan tumbuh, para pekerja juga harus ikut merasakan manfaatnya.
SMRT juga tidak berhenti pada transformasi internal. Perusahaan ini menjadi apa yang kami sebut sebagai “Perusahaan Ratu Lebah” (Queen Bee Company).
Artinya, SMRT membantu jaringan kontraktor UKM di sekitarnya untuk mengadopsi teknologi baru dan meningkatkan operasional mereka. Dengan cara itu, standar kerja meningkat di seluruh ekosistem transportasi publik.
Sekali lagi, kerja bagus, SMRT.
Pada intinya, CTC bukan sekadar tentang adopsi teknologi. CTC adalah tentang memberdayakan pekerja.
Ketika perusahaan bertransformasi, pekerja tidak menjadi penonton pasif. Mereka bukan hanya menerima instruksi dari atasan. Mereka menjadi peserta aktif dalam perjalanan perubahan—membentuk masa depan mereka sendiri dan menjadikan pekerjaan lebih baik, lebih cepat, dan lebih cerdas.
Karena model CTC terbukti berhasil, kini kami siap melangkah lebih jauh.
Kami akan memperluas pendekatan CTC untuk transisi AI—sektor demi sektor, perusahaan demi perusahaan.
Dalam AI, tidak ada satu formula yang cocok untuk semua. Setiap sektor unik. Setiap perusahaan menghadapi tantangan berbeda.
Namun, bersama-sama, serikat pekerja dan pengusaha dapat mendorong adopsi AI demi pertumbuhan yang lebih kuat dan pekerjaan yang lebih baik.
Karena itu, kami membentuk Dewan Pekerjaan Tripartit.
Dewan ini akan menyatukan sumber daya tripartit, mengoordinasikan upaya, mengonsolidasikan sumber daya, dan memandu transformasi pekerjaan agar AI selalu digunakan untuk melengkapi pekerja, bukan menggantikan mereka.
Cara Singapura
Selama 65 tahun, Gerakan Buruh telah berjalan bersama pekerja Singapura melewati setiap perubahan ekonomi besar—mulai dari industrialisasi pada 1960-an dan 1970-an, gelombang komputerisasi pada 1980-an, globalisasi pada 1990-an, hingga berbagai krisis: Krisis Finansial Asia, SARS, Krisis Keuangan Global, dan pandemi Covid-19.
Hari ini, kita memberi penghormatan kepada semua pemimpin serikat pekerja—dulu maupun sekarang.
Terima kasih atas dedikasi Anda.
Kita telah melewati setiap gelombang disrupsi. Dan kita akan melakukannya lagi—bersama-sama.
Sistem tripartit kita berhasil bukan karena struktur kelembagaannya semata, melainkan karena kepercayaan yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Kita mungkin tidak selalu sepakat. Ada perdebatan. Ada tarik ulur. Ada percakapan yang sulit.
Namun, percakapan itu tidak pernah berhenti.
Kita terus berbicara. Kita terus mencari jalan. Kita terus membangun solusi yang sesuai dengan kebutuhan Singapura.
Itulah cara Singapura.
Bukan sekadar kesejahteraan sosial, tetapi program kerja yang bermartabat.
Bukan upah minimum, tetapi upah progresif.
Bukan asuransi pengangguran, tetapi dukungan nyata bagi pencari kerja.
Kita tidak hanya berbicara.
Kita bertindak.
Kita tidak hanya merencanakan.
Kita mewujudkan hasil.
Penutup
Saudara-saudari,
Jalan di depan tidak akan mudah.
Dunia penuh konflik. Ketidakpastian meningkat. Perubahan teknologi bergerak sangat cepat.
Namun Singapura selalu memiliki satu kekuatan: solidaritas.
Kita tidak menyerah. Kita tidak saling meninggalkan.
Dalam setiap krisis, warga Singapura selalu saling menjaga.
Baik menghadapi krisis energi, gejolak geopolitik, maupun revolusi AI, satu prinsip akan tetap sama:
Tak satu pun warga Singapura akan ditinggalkan.
Solidaritas telah membawa kita melewati badai di masa lalu. Solidaritas memberi kita keyakinan hari ini. Dan solidaritas akan membawa kita menuju masa depan.
Jalan di depan mungkin berat. Badai mungkin datang silih berganti.
Tetapi bila kita tetap bersatu, kita akan mampu melewatinya bersama.
Majulah NTUC. Majulah PAP. Majulah Singapura.
Selamat Hari Buruh untuk semua.***














