Polri, DPR dan Tim Reformasi: Adu Kuat Mereformasi Polri

MAKLUMATTugas Tim Reformasi Polri bentukan Presiden RI belum selesai bekerja. Kerja Tim Reformasi Polri masih tahap melakukan pengkajian dan mendengar pandangan dari berbagai pihak. Tim Reformasi Polri belum melahirkan rumusan dan konsep ideal Polri.

Simulasi tentang Polri ideal yang dirumuskan Tim Reformasi Polri belum sampai pada tahap kesimpulan akhir. Namun, Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPR RI dengan Polri pada 26 Januari 2026, terkait arah reformasi Polri yang menghadirkan para petinggi Polri, sampai pada kesimpulan yang tercermin dalam delapan poin, salah satunya terkait kedudukan Polri di bawah Presiden.

Selepas RDP DPR RI dengan Polri, belakangan mulai muncul ucapan dukungan dalam bentuk pernyataan dari sejumlah tokoh ormas yang arahnya mendukung kedudukan Polri di bawah Presiden. Apakah penyataan sejumlah tokoh ini dijiwai, disadari, ataukah hasil mobilisasi, wallaahu a’lam bishshowaab.

Tamam Choiruddin
Tamam Choiruddin

Sebagai warga negara, sangat berharap sebaiknya semua pihak menahan diri dan menunggu hasil kerja Tim Reformasi Polri. Rumusan dan konsep seperti apa yang dihasilkan untuk Polri yang diidealkan. Mari semua pihak, jika ada pandangan, terutama para tokoh, sebaiknya menyalurkan pandangannya untuk reformasi Polri pada jalur yang benar.

Baca Juga  Demokrasi, Janji Manis, dan Realita yang Pahit

Mengingat kian melemahnya kepuasan dan kepercayaan masyarakat terhadap Polri yang hanya 23,7 persen, sudah seharusnya menjadi perhatian publik; merujuk hasil survei Indikator pada Mei 2025. Rentetan kasus internal Polri, terkesan mudahnya Polri diperintah untuk kepentingan politik dan bisnis, di luar tugas utamanya.

Ditambah cara Polri bertindak yang eksesif; melampaui batas, berlebihan, tidak proporsional dibandingkan dengan situasi yang dihadapi. Misalnya, Polri dikesankan menggunakan kekuatan senjata atau fisik secara berlebihan, bahkan kekerasan yang tidak perlu, tidak wajar, dan menyalahi prosedur. Cara bertindak Polri yang tidak humanis dalam menangani sejumlah peristiwa juga merusak kepercayaan masyarakat.

Padahal, Polri adalah wajah negara yang paling dekat dengan rakyat, salah satu institusi penyangga demokrasi di Indonesia. Sehingga perilaku Polri berdampak pada menguat atau melemahnya kepercayaan dan kepuasan masyarakat, juga menguat atau melemahnya praktik berdemokrasi di Indonesia.

Mari masing-masing menjaga kewarasan dan tidak membuat pernyataan yang bersifat mobilisasi dukungan dan pemihakan dengan pola membuat pernyataan. Jika berpandangan, maka sampaikan melalui saluran yang tepat, yakni kepada Tim Reformasi Polri untuk masa depan Polri yang lebih baik.

Semua yang terkait catatan plus-minus tentang Polri dalam kurun waktu pasca reformasi dapat dituangkan dalam lembaran akademik yang dapat dipertanggungjawabkan. Tim Reformasi Polri bekerja untuk perbaikan Polri, sebab Polri wajah negara yang paling dekat dengan rakyat dan Polri juga penyangga demokrasi.(*)

Baca Juga  Meski Ada Dua Kubu, Gus Yahya Masih Dianggap Mewakili PBNU di Forum Kenegaraan